Belum lama ini Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi terpaksa harus tebal telinga. Ketika dia sedang makan gorengan di dalam warung sebuah pasar tradisional di Bogor, para pengunjung sedang panas membicarakan kebijakan pemerintah. “Omongan mereka pedes juga. Rakyat semakin kritis,’’ kata mantan wakil Menteri Pertanian itu.
Bayu memang tak bisa leluasa nimbrung percakapan dan beradu argumentasi. Maklum, dia sedang menyamar sebagai rakyat biasa, bukan pejabat pemerintah. Paling tidak sebulan dua kali dia keluar masuk pasar tradisional untuk melihat langsung kondisi pasar, sekaligus menyerap aspirasi yang muncul.
Setiap kali menyamar, Bayu mengenakan kaos, celana pendek selutut, dan topi. Dia akan berjalan kaki pasar yang dia tuju dekat rumah. Namun, kalau lokasi pasar agak jauh, dia akan mengendarai sepeda motor bebek miliknya. Lalu, agar tak kentara sebagai pejabat kalau banyak bertanya, Bayu juga sering sekalian berbelanja sayuran dan lauk pauk saat menyamar.
Nah, mungkin lantaran aksi penyamaran ini menjadi agenda rutin , Bayu tidak menyangka lambat laun sebagian pedagang bisa juga mengenalinya. “Ada pedagang yang bilang, eh bapak yang di televisi itu, kan?” tutur bapak tiga puteri ini.
Meski penyamaran terbongkar, Bayu tidak menyetop agenda yang telah dia geluti sejak menjabat Deputi di Menko Perekonomian dulu.