Home,Tokoh
SOSOK
Gobel, dari elektronik, logistik dan batubara
oleh : Arif Wicaksono | Sabtu, 26 Mei 2012 | 10:58 WIB
artikel dibaca sebanyak 6104 kali
0 Komentar
Telah dibaca sebanyak 6104 kali
Salin Tulisan
Gobel, dari elektronik, logistik dan batubara

JAKARTA. Nama Rachmat Gobel dikenal luas sebagai pebisnis kampiun di industri elektronik. Dia berhasil membawa Panasonic menjadi top brand elektronik di Indonesia di antara merek elektronik lain. Anak Muhammad Gobel, pendiri PT National Gobel, itu sekarang menggelar ekspansi ke beberapa sektor usaha, termasuk tambang batubara.

Rachmat Gobel adalah anak kelima dari Thayeb Mohammad Gobel dan Annie Nento Gobel. Ia merupakan generasi kedua dari keluarga Gobel yang dari dulu memang dikenal sebagai pengusaha elektronik.

Tahun 1954, Mohammad Gobel berbisnis elektronik dengan memproduksi radio transistor merek Tjawang. Kemudian ia beralih menjadi distributor produk-produk Panasonic (waktu itu masih menggunakan merek National).

Ketika terjadi suksesi kepemimpinan di Grup Gobel, Rachmat Gobel terpilih menggantikan sang ayah. Sang ayah memang sudah mendidik jiwa bisnisnya sejak dini.

Rachmat bercerita, sejak duduk di Sekolah Dasar (SD), dia terbiasa ke pabrik. Ketika duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), sang ayah mewajibkannya mengikuti program magang di pabrik selama libur sekolah.

Pada waktu itu, aktivitas di pabrik bermacam-macam, mulai dari membantu proses produksi hingga membawakan tas kerja salah seorang direktur seperti layaknya ajudan. "Untuk pergi dan pulang pabrik, saya tidak diizinkan menggunakan kendaraan yang ada di rumah atau fasilitas orang tua," ujar pria kelahiran Jakarta,
3 September 1962 itu.

Setelah tamat dari Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jakarta pada tahun 1981, Rachmat melanjutkan kuliahnya di Chuo University di Tokyo, Jepang. Setelah lulus dia langsung bekerja di Perusahaan Panasonic Corporation di Jepang, dengan status sebagai pegawai magang.

Selesai menimba pengalaman bekerja di sana, Rachmat memutuskan pulang ke Indonesia tahun 1988. "Di perusahaan ayah saya, PT National Gobel (sekarang PT Panasonic Gobel Indonesia), saya menjadi asisten direktur utama, ketika itu Ayah sudah bekerjasama dengan Panasonic Corporation untuk memasarkan produk mereka," katanya.

Setelah banyak makan asam garam mengelola perusahaan, Rachmat didapuk sang ayah menjadi Direktur Perencanaan di perusahaan tersebut pada tahun 1991. Tak lama berselang, tahun 1992, Rachmat Gobel dipercaya menjadi Direktur Utama National Gobel. Menurutnya, saat itu tantangan terberat adalah meyakinkan para senior yang merupakan kerabat ayahnya dalam membangun usaha elektronik saat itu.

Dia berkisah, saat dia memimpin perusahaan, kinerja perusahaan kurang bagus terkena imbas dari adanya kebijakan uang ketat (tight money policy) di tahun 1992. Setelah melewati masa bubble economy itu, ekonomi makin tak menentu tatkala Indonesia terkena krisis moneter pada tahun 1997-1998. Inilah masa pembuktian kepemimpinannya.

Beruntung, Rachmat bisa melewati masa suram itu. "Dari perusahaan yang merugi dan memiliki utang cukup besar, perusahaan ini menjadi untung bahkan mampu memiliki deposito yang lumayan besar," kenangnya.

Puncaknya pada 2004, Rachmat membawa Panasonic Gobel mencapai pertumbuhan pendapatan tertinggi ketimbang perusahaan-perusahaan lain di bawah Panasonic Group di wilayah Asia Oceania. Yang jelas, saat ini Panasonic Gobel tercatat menjadi salah satu pemain utama industri elektronik nasional.

Kini, Panasonic Gobel memiliki sejumlah pabrik elektronik. Di Bekasi, Jawa Barat, Panasonic Gobel memiliki pabrik produksi kamera dan memiliki kapasitas produksi 13 juta unit per tahun. Perusahaan ini juga memiliki pabrik air conditioner (AC) di Jl Raya Bogor, Jakarta yang berkapasitas produksi 250.000- 300.000 unit per tahun.

Tahun 2012, Panasonic Gobel menargetkan pertumbuhan nilai penjualan double digit atau di atas 10%. Sebagai perbandingan, nilai penjualan tahun 2011 sebesar Rp 5,2 triliun.

Masuk bisnis batubara

Selain berbisnis elektronik, Rachmat juga melebar sayap bisnisnya ke beberapa bidang lain yang dikelola di bawah PT Gobel International. Salah satunya bidang logistik dengan bendera PT GoTrans Logistics International. Perusahaan ini baru saja menambah armada 200 truk ringan senilai Rp 45 miliar. "Kami bekerjasama dengan PT Hino Motor Sales Indonesia untuk pengadaan armada," katanya.

Rachmat bilang, peremajaan angkutan tersebut untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan barang, khususnya elektronik, yang tumbuh sekitar 30% per tahun. Ia yakin, kebutuhan dan perkembangan bisnis logistik di Indonesia akan semakin cerah seiring percepatan pertumbuhan perekonomian nasional. Ke depan, sektor logistik diperkirakan tumbuh 30% per tahun.

Rachmat juga terus mengembangkan bisnis Indosat. Maklum, sejak tahun 2008 dia didapuk menjadi salah satu Komisaris Indosat. Menurutnya, keterlibatan dirinya di Indosat berhubungan dengan jaringan telekomunikasi dan teknologi informasi bagi anak perusahaannya.

Di luar tiga bidang usaha tadi, Rachmat juga memiliki mainan baru; berbisnis pertambangan. Tahun lalu, Rachmat membeli saham Churchill Mining Plc. Dia membeli 19,34 juta unit atau 16,5% saham Churchill seharga £ 0,4 per saham atau senilai total £ 7,7 juta (sekitar Rp 120 miliar).

Churchill memanfaatkan dana tersebut untuk mengembangkan pertambangan batubara di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Sejauh ini, pertambangan ini belum beroperasi karena masih menyelesaikan berbagai izin.

Rachmat menyiapkan masak-masak rencana bisnis batubara sebelum akhirnya terjun langsung ke bisnis tersebut. Beberapa pertimbangannya antara potensi pasar, termasuk pula infrastruktur pendukung bisnis batubaranya.

Begitu merasa siap, dia lantas memborong saham Churchill Mining. Rachmat yakin prospek bisnis pertambangan batubara masih bagus, dan bisa berdampak signifikan bagi ekonomi Kalimantan Timur.

Rachmat ingin bisnis pertambangan ini bukan sekadar mengeduk sebanyak-banyaknya cadangan batubara di perut bumi. Salah satu perhatiannya mengembangkan bisnis batubara adalah bagaimana meningkatkan nilai tambah hasil pertambangannya. Misalnya dengan mengolah lebih dulu sebelum mengekspor batubara, sehingga hasilnya lebih optimal dan memberikan nilai tambah. "Cara menaikkan nilai tambah ini bisa diwujudkan dengan membangun smelter batubara," katanya.

Tekad Rachmat ini juga tak lepas dari aktivitas di bidang pengembangan energi terbarukan. Asal tahu saja, kini Rachmat menjabat Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) periode 2012-2015.

Kegigihan Gobel Melobi Matsushita dan Rezim Soekarno

bisnis Panasonic di Indonesia adalah buah dari kegigihan Thayeb Mohammad Gobel. Saat itu dia gigih meminta pemilik Panasonic Corporation, Konosuke Matsushita agar mau memproduksi elevisi di Indonesia.

Awalnya, menurut Rachmat Gobel, pada tahun 1954 sang ayah mendirikan
PT Transistor Radio Manufacturing Co. Tujuannya agar rakyat Indonesia bisa mendengarkan pidato-pidato Presiden Indonesia yang pertama, Bung Karno, melalui radio transistor.

Tak lama setelah mendirikan perusahaan, Thayeb memperoleh beasiswa Colombo Plan untuk belajar industri di Jepang. Kesempatan itu tidak disia-siakan Thayeb untuk bertemu dengan Konosuke Matsushita. "Saat itu ayah berhasil menjalin kerjasama dengan Matsushita tahun 1960. Jadi, perusahaan ini membeli komponen radio yang lebih modern untuk diproduksi di sini," katanya.

Tak puas hanya kerjasama pembelian komponen radio, Thayeb kemudian kembali mencoba menemui Matsushita untuk urusan pengadaan televisi. "Tetapi waktu itu ketemu lima kali tidak bisa. Matsushita bilang sudah ada partner," ungkap Rachmat mengenang.

Tak patah arang, Thayeb kembali ke Jakarta. Dia lantas meminta pemerintah supaya perusahaannya bisa memproduksi televisi. Keuletannya itu membuahkan hasil. Thayeb berhasil mendapat persetujuan pemerintah saat itu.

Setelah itu dia kembali datang menemui Matsushita di Jepang. Kali ini, dia lebih percaya diri lantaran telah mendapat persetujuan untuk memproduksi televisi guna menyiarkan penyelenggaraan Asian Games ke IV di Jakarta tahun 1962.

Alhasil, Matsushita mau bekerjasama dengan Thayeb. Saat itu tim teknik Matsushita Electric membantu pembuatan 10.000 unit televisi hitam putih pertama. Contoh produk dengan nomor seri pertama dari televisi itu diserahkan kepada Fatmawati Soekarno, sang Ibu Negara.

Dari sanalah perusahaan Thayeb terus berkembang hingga sekarang. Kini, perusahaan yang dirintis Thayeb menjadi mitra utama Panasonic Corporation. n



0 Komentar
Telah dibaca sebanyak 6104 kali
Salin Tulisan