HOME | Manufaktur |

MANUFAKTUR

Harga baja naik, Krakatau Steel kejar rapor biru

oleh : Eldo Christoffel Rafael | Sabtu, 02 September 2017 | 16:17 WIB

Harga baja naik, Krakatau Steel kejar rapor biru

KONTAN.CO.ID - Selama empat tahun terus merugi, PT Krakatau Steel Tbk berikhtiar untuk bisa mencetak rapor biru di tahun ini. Emiten baja pelat merah ini kini berupaya berbagai macam cara agar bisa menekan kerugian.

Direktur Keuangan Krakatau Steel Tbk Tambok P. Setyawati mengatakan, langkah-langkah yang dilakukan perusahaan ini untuk mencapai target dengan menggenjot penjualan dan menekan beban-beban biaya produksi. "Minimal kami bisa capai break even point tahun ini," kata Tambok, Kamis (31/8).

Tambok mengaku optimis target perusahaan ini dapat diraih. Pasalnya, harga baja mulai merangkak naik, dibanding tahun 2016. Jika harga baja lembaran panas gulung atau hot rolled coil (HRC) pada Januari lalu di kisaran US$ 520 per ton, sejak akhir Juli harga HRC naik menjadi US$ 629 per ton.

Meski terjadi penurunan penjualan volume penjualan produk baja sebesar 28,02% menjadi 841.101 ton pada semester I-2017 akibat overhaul pabrik hot strip mill dan Liburan Idul Fitri, Krakatau Steel tetap optimis order baja tahun ini tetap akan meningkat 7%-8%.

Direktur Utama Krakatau Steel Mas Tbk Wigrantoro Roes Setiyadi menambahkan, masih banyaknya proyek-proyek konstruksi pemerintah turut mendorong pendapatan perusahaan dengan kode saham KRAS di Bursa Efek Indonesia (BEI). Salah satunya adalah proyek jalan tol layang Jakarta-Cikampek II. Dari proyek tersebut, Krakatau Steel bakal memasok sebanyak 200.000 ton baja selama 10 bulan mendatang.

Tanda-tanda perbaikan kinerja perusahaan ini juga terlihat dari berkurangnya kerugian yang dialami oleh emiten berkode saham KRAS ini.

Semester I-2017, Krakatau Steel mencatat kerugian US$ 56,70 juta, jumlah ini membaik ketimbang periode yang sama tahun lalu. Saat itu perusahaan ini harus menanggung kerugian bersih US$ 87,55 juta.

Operasikan pabrik

Guna meningkatkan raihan pendapatan perusahaan, Krakatau Steel mulai rampungkan satu per satu proyek strategisnya. Kamis (31/8) semisal, Krakatau telah first running Slag Grinding Plant milik PT Krakatau Semen Indonesia.

First running ini adalah merupakan bagian dari percobaan pabrik atau commissioning sebelum beroperasi secara komersial. Krakatau Semen Indonesia memanfaatkan limbah granulated slag yang dihasilkan oleh Blast Furnace PT Krakatau Posco dan PT Krakatau Steel untuk dijadikan bahan pembuat semen.

Sekadar catatan, Krakatau Semen Indonesia merupakan perusahaan patungan antara Krakatau Steel dengan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Pabrik ini memiliki kapasitas 750.000 ton semen slag per tahun.

Sebelumnya, pada Juli 2017 dua pabrik patungan Krakatau Steel juga telah operasi. Keduanya adalah Pabrik PT Krakatau Osaka Steel (KOS) yang memproduksi baja tulangan dan profil. Serta PT Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS) yang memproduksi baja lembaran untuk industri otomotif berkapasitas 500.000 ton per tahun.