HOME | Profesi | Inspirasi |

CEO

Jalan Hadian jadi orang nomor satu di Wika Beton

oleh : Nisa Dwiresya Putri | Sabtu, 10 Juni 2017 | 16:37 WIB

Jalan Hadian jadi orang nomor satu di Wika Beton

MEMULAI karier dari staf, Hadian Pramudita kemudian didapuk menjadi orang nomer satu di PT Wijaya Karya Beton Tbk . Loyalitas, kerja keras dan pengalamannya selama 30 tahun di bidang konstruksi, menjadi modal utama Hadian untuk memimpin perusahaan pelat merah tersebut. Harapannya perusahaan ini menjadi lebih baik lagi.

Hadian Pramudita telah jatuh cinta dengan dunia precast beton atau beton pracetak sejak dari bangku kuliah. Oleh karena itu setelah lulus dari perguruan tinggi, lelaki ini ingin membangun karier di perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi. Salah satu perusahaan yang kemudian menjadi obsesinya adalah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Wijaya Karya (Wika).

Namun begitu dia mengaku tidak pernah menyangka suatu saat nanti bisa menjadi orang nomor satu di perusahaan yang bergerak di bidang precast beton. Posisinya saat ini adalah buah manis dari perjuangan dan kerja keras selama 30 tahun untuk menempa diri dan menjaga loyalitas pada perusahaan.

Ditemui di kantornya di bilangan Pondok Gede, Bekasi pada Rabu (7/6), kepada KONTAN, Hadian menceritakan kisah perjalanan kariernya dari awal hingga saat ini. "Saya ini cukup unik," ujar Hadian yang tampak berwibawa dalam balutan pakaian sederhana sambil terkekeh. Lelaki dengan perawakan sedang ini mengaku mengaku perjalanan kariernya cukup unik di perusahaan pelat merah tersebut.

Lulusan sarjana Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan Bandung pada tahun 1986 ini menuturkan, bahwa ia meraih puncak kariernya tepat pada usianya yang ke-56 tahun. Sebab terhitung Maret 2017, pria yang sedikit kaku ini dipercaya menjadi Presiden Direktur Wijaya Karya Beton Tbk (Wika Beton).

Posisi baru sebagai nahkoda Wika Beton bukanlah hal mudah. Dengan posisi barunya itu, Hadian bertanggungjawab untuk mempercepat laju perusahaan dan meningkatkan kualitas serta pendapatan perseroan. Dengan modal pengalaman malang melintang di dunia precast, dan pengalaman meniti karier di Wika bahkan jauh sebelum Wika Beton lahir, Hadian optimis dapat mengarahkan perusahaan meraih sejumlah prestasi di bawah kepemimpinannya.

Hadian bercerita, dirinya bercita-cita untuk meniti kariernya di Wika sejak lulus kuliah. Oleh karena itu setelah lulus kuliah, ia langsung mengirimkan lamaran kerja ke Wika. Namun nasib belum berpihak padanya, lamarannya tersebut tak bersambut.

Ia kemudian memutuskan untuk bekerja di perusahaan swasta yang bergerak di bidang konstruksi di Jakarta. Meskipun sempat patah hati karena lamaran kerjanya ditolak, tapi semangat dan mimpi Hadian bekerja di Wika tak pernah padam. Karena itu tak berselang lama, ia kembali mengirimkan lamaran kedua ke perusahaan konstruksi pelat merah tersebut.

Ternyata nasib baik berpihak padanya. "Setelah mengirimkan lamaran kedua, baru saya mendapat respon," ujarnya dengan mata berbinar dan senang. Penantian dan sikap pantang menyerah Hadian berbuah manis. Pada tahun 1987, Hadian resmi bergabung dengan Wika dan mendapat posisi sebagai sebagai staf pada divisi komponen konstruksi. Divisi ini yang kelak menjadi cikal bakal lahirnya Wika Beton.

Kala itu Hadian menyandang jabatan sebagai staf bagian teknik. Tak berselang lama bekerja di bagian teknik, Hadian kemudian dipindahkan ke divisi pemasaran. Perubahan bidang kerja ini terjadi karena pada waktu itu, Wika belum punya bidang pemasaran yang baik. "Semua pegawai pemasaran waktu itu belum engineer, tidak dibekali pengetahuan teknik," ucapnya menggambarkan kondisi saat itu.

Padahal menurutnya, untuk bisa memasarkan dengan baik, Wika membutuhkan tim pemasaran yang memiliki latar belakang teknik. Selain agar produk dapat terjual lewat edukasi, ilmu teknik juga dibutuhkan untuk membaca kebutuhan pasar. Tantangan inilah yang membuat Hadian tak ragu untuk terjun ke bagian penjualan.


Ahli Pemasaran

Naluri Hadian untuk masuk di bidang pemasaran ternyata pilihan yang tepat. Peralihan divisi ini ternyata membawa Hadian di pintu karier kesuksesannya di Wika. Sebab di divisi pemasaran inilah, dapat menjadikannya sebagai pijakan awal untuk menduduki kursi tertinggi Wika Beton.

Semenjak menjadi staf penjualan di Wika, Hadian tak pernah berpaling dari lingkup pemasaran. Secara konsisten, Hadian menapaki kariernya di pemasaran dari posisi staf pelaksana penjualan, sales engineer madya, dan deputi manajer penjualan. Kurang lebih empat tahun di Wika sebagai staf pemasaran, karier Hadian semakin moncer. Dia berhasil menjadi manajer penjualan produk beton DKI Jaya.

Ini menjadi pencapaian yang menjanjikan. Sebab menjadi manajer pemasaran di Wika untuk Divisi Produk Beton I dengan wilayah penjualan DKI Jaya adalah jabatan yang diincar banyak orang. Jabatan ini juga sulit ditembus.

Namun jabatannya di kursi panas tersebut, hanya bertahan sekitar dua tahun. Pada tahun 1995, ia harus pindah ke Sulawesi Selatan untuk menjadi kepala cabang. Meskipun turun jabatan, Hadian tak lantas berkecil hati. Dia mengaku justru berbangga dengan pencapaiannya ini.

Boleh jadi, fase ini menjadi booster atau pendorong untuk kariernya. "Kenapa saya di pindah ke Makassar dan cuma setahun? Jadi, proyek pertama di Makassar itu saya yang dapat," ujarnya mengenang masa lalu.

Proyek yang dia maksud adalah proyek pembangunan pasar sentral Makassar dan proyek pipa bili-bili berdiameter besar untuk keperluan air minum. Saat itu, Hadian didaulat untuk menangani proyek ini. Lebih dari itu, ia juga dipercaya untuk membangun pasar di wilayah timur Indonesia.

Tantangan baru ini justru semakin memantapkan Hadian dalam dunia konstruksi. Ia tidak hanya sukses menangani proyek-proyek yang diamanatkan, pria kelahiran Garut, Jawa Barat ini juga berhasil membuka pasar hingga ke Manado dan Irian Jaya. "Sampai akhirnya di sana berdiri pabrik Wika," tutur Hadian.

Pada tahun 1996, Hadian pindah ke Jawa Tengah. Mutasi dilakukan karena pada waktu itu Wika sedang kesulitan memenangkan tender bantalan beton kereta api. Rupanya oleh perusahaan, Hadian banyak mendapat kepercayaan. Dia ditempatkan ke tempat-tempat yang sulit karena sudah terbukti selalu berhasil dan itu dilaluinya semua dengan mulus. Karena itulah dia menyebut dirinya sebagai spesialis buka pasar baru.

Kurang lebih sembilan tahun Hadian menghabiskan masa kerjanya di Jawa Tengah. Pemasaran menjadi spesialisasi. Sejak masih menjadi Divisi Produk Beton di Wika, hingga menjadi perusahaan baru bernama Wika Beton, ia masih setia mengurusi masalah pemasaran. Saat menjadi Manajer Wilayah Penjualan IV Wika Beton periode 19972005, pria berusia 56 tahun ini banyak membuat gebrakan.

Selain jago menjual, Hadian juga ahli di bagian pemancangan dan pemasangan. Sebagai contoh, dalam proyek bengawan Solo, Jawa Tengah. Wika Beton kala itu tidak hanya berhasil memenangkan tender penyediaan produk beton, tetapi juga pemasangan, hingga aspal.

Hadian juga mengaku pernah menangani proyek pancang gedung Gramedia Jawa Tengah. Selama bertugas di Jawa Tengah, Hadian juga dipercaya direksi untuk menangani proyek-proyek spesial di daerah lain. Beberapa di antaranya adalah proyek power plant yang berlokasi di wilayah Jawa dan Sumatera.

Sebagai manajer wilayah penjualan termuda kala itu, Hadian menjadi salah satu ujung tombak Wika Beton. Berbagai tantangan baru tak henti disuguhkan kepadanya dan dia mampu menyelesaikannya dengan tangan dingin. Selain proyek penyediaan produk precast, ia juga merambah ke konstruksi. "Ini yang saya bilang saya agak unik," tutur Hadian kembali.

Begitu pun ketika Hadian kembali dipindahkan ke Ibu Kota Jakarta pada tahun 2005. Saat itu Hadian menjadi Manajer Wilayah Penjualan III. Di posisi ini, ia menangani pemancangan gedung Bursa Efek Indonesia, berikut bagian basement-nya.

Untuk menjaga visi Wika Beton menjadi leader untuk produk precast, Hadian merasa tertantang untuk terus mendapatkan proyek-proyek besar. Ia juga antusias memberikan masukan demi lahirnya produk-produk baru.

Tentunya keberhasilan dalam berbagai proyek juga didukung oleh tim yang supportif. "Di sini kompak saling bahu membahu dari berbagai divisi, ini yang dibutuhkan untuk keutuhan jangka panjang Wika Beton," ujarnya.

Dengan konsistensi dan kesungguhannya menjalani pekerjaannya, pada tahun 2008 Hadian ditarik ke kantor pusat Wika Beton untuk menjadi manajer penjualan. Pada tahun 2012, Hadian mendapat kepercayaan untuk menjadi Direktur Pemasaran Wika Beton.

Terhitung sejak 13 Maret 2017, bertepatan dengan hari lahirnya yang ke-56, Hadian dipercaya memegang tampuk tertinggi perusahaan yakni Presiden Direktur Wika Beton. Tantangan pertama yang dihadapi adalah bagaimana membesarkan Wika Beton yang sudah tersohor. Karena itu, ia bertekad mengembangkan produk baru, menambah area cakupan pemasaran, dan menambah kapasitas pabrik.

Hadian juga menyiapkan SDM yang loyal dan kompeten. "Targetnya tahun 2020 kita sudah masuk ASEAN," ujar Hadian. Saat ini, produk Wika sudah masuk Singapura dan Filipina.