HOME | Wisata |

INDUSTRI PARIWISATA

Kemenpar inisiasi Rumah Wisata Nusantara

oleh : Jane Aprilyani | Rabu, 04 Oktober 2017 | 20:31 WIB

Kemenpar inisiasi Rumah Wisata Nusantara

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Pariwisata mendorong masyarakat atau pelaku usaha untuk mendukung berkembangnya wisata desa dengan menggunakan rumah yang sudah ada menjadi homestay, atau membangun rumah wisata dengan arsitektur nusantara.

Berawal dari kekhawatiran Presiden Joko Widodo akan semakin memudarnya identitas wajah bangsa, dan memberi arahan agar pariwisata menjadi leading sector di Indonesia, maka Kementerian Pariwisata melakukan inisiasi lewat sayembara Homestay Desa Wisata, yang memiliki jiwa arsitektur nusantara.

Kegiatan yang telah berlangsung di tahun 2016 lalu, ditindaklanjuti dengan pembentukan Tim Percepatan Pengembangan Homestay Desa Wisata di tahun 2017, untuk memfasilitasi terwujudnya program Homestay Desa Wisata.
 
Program ini menyasar para pelancong yang menggunakan media online atau dikenal sebagai digital traveller. Indonesia memiliki lebih dari 17.100 pulau dengan 74.954 desa di Indonesia. Sehingga dengan beragam etnik dan pariwisatanya, hal ini menjadi potensi bisnis yang sayang dilewatkan.

Anneke Prasyanti, Tenaga Ahli Menteri bidang Arsitektur, yang sekaligus adalah Ketua Tim Percepatan Pengembangan Homestay Desa Wisata Kementerian Pariwisata menjelaskan, arahan Menteri Pariwisata pada homestay adalah untuk peningkatan ekonomi di desa wisata. Selain itu, waktu pembangunan yang singkat, biaya yang lebih rendah dibandingkan hotel dan dapat diarahkan untuk kembali kepada identitas asli daerah dengan mengusung Arsitektur Nusantara.
 
“Sudah saatnya Arsitektur Nusantara menjadi kebanggaan bagi daerah masing-masing, dan mampu menyodorkan keunikan rumah wisata yang akan mampu menarik minat wisatawan, selain sebagai sarana edukasi warga setempat. Apalagi lokasinya berada di desa wisata sehingga pengunjung bisa berinteraksi dengan masyarakat lokal sambil menikmati kekhasan arsitekturnya. Setiap daerah unik, punya identitas,” ujar Anneke kepada KONTAN, Rabu (4/10).
 
Ada dua konsep homestay desa wisata yang ditawarkan ke wisatawan. Pertama, pondok wisata di mana wisatawan tinggal dengan penghuni dan berinteraksi langsung dengan pemilik. Kedua, rumah wisata bangunan rumah yang disewakan kepada wisatawan oleh pengelola. Pengelola bisa merupakan kelompok atau perseorangan, bisa juga dikelola Badan Usaha Milik Desa di bawah Kementerian Desa, untuk desa-desa yang sudah memiliki Bumdes.
 
Kementerian Pariwisata dalam hal ini adalah fasilitator – menjembatani program-program untuk desa yang sudah ada di antara Kementerian lain, untuk didampingi proses desainnya agar memenuhi kriteria wisata desa dan standar homestay ASEAN. Fasilitasi di sini juga termasuk bantuan pemasaran dan pelatihan untuk pemilik rumah berinteraksi dengan wisatawan.

Hingga kini, Kementerian Pariwisata telah menjalin kerjasama dengan mitra pengelola baik swasta ataupun daerah, perguruan tinggi untuk pelatihan bahasa kepada para pemilik homestay, dan Kementerian Pekerjaan Umum.
 
Bicara soal rumah wisata nusantara atau pondok wisata, Anneke menyampaikan bahwa biaya bisa saja dikeluarkan oleh masing-masing pengelola, namun sangat memungkinkan juga dari sumber-sumber dana lainnya yang saat ini masih dikonsolidasikan bersama Kementerian Pekerjaan Umum. 

Harga rata-rata unit dipertimbangkan untuk ada di kisaran di bawah Rp 200 juta, tergantung material yang tersedia di masing-masing daerah, demi terealisasinya harga rendah untuk masyarakat, dan kelokalan. Misalnya rumah di Sumatera Utara menggunakan kayu, Rumah wisata Jawa Barat menggunakan bambu, Rumah wisata Nusa Tenggara Timur menggunakan elemen batu-batuan.
 
Sesuai hasil pendataan di lapangan, banyaknya homestay eksisting yang perlu dibenahi, dan rumah-rumah kosong yang perlu difungsikan kembali, maka Anneke menentukan adanya empat skema pengembangan homestay, yaitu konversi, renovasi, revitalisasi dan bangun baru.

“Jadi beberapa rumah wisata nusantara ada yang sudah dibangun namun hanya perlu diperbaiki atau dilengkapi interiornya. Banyak rumah adat yang ditinggalkan penghuninya merantau sehingga kami fasilitasi agar dapat difungsikan sebagai homestay, dan ada juga yang daerahnya punya potensi untuk dibangun homestay baru,” pungkas Anneke.

Sampai saat ini, Tim Percepatan Pengembangan Homestay sedang menangani hampir 2.000 unit kamar homestay di 10 Destinasi Pariwisata Prioritas dan Destinasi Branding, yang pada akhir tahun ditargetkan sesuai standar, dan dapat dipasarkan.

Sementara,  hasil karya pemenang sayembara sedang dalam proses pembangunan di 10 DPP. Sesuai arahan Menteri Pariwisata,  dalam tiga tahun Tim Percepatan Homestay Desa Wisata akan menyiapkan10.000 unit kamar homestay, untuk menyambut target peningkatan 20 juta wisman di tahun 2019.