HOME | Kedai |

ENTHOK SLENGET

Kepentok nikmat tongseng entok Kang Tanir

oleh : Fransiska Firlana | Rabu, 01 Februari 2017 | 11:10 WIB

Kepentok nikmat tongseng entok Kang Tanir

Tongseng tentu bukan nama masakan yang asing lagi di telinga kita. Selama ini, jika mendengar nama tongseng, kebanyakan dari kita bakal teringat pada daging kambing.

Padahal, tongseng tak melulu masakan yang menggunakan daging kambing muda. Ada juga tongseng yang menggunakan daging menthok alias entok sebagai bahan utamanya.

Salah satu kedai yang terkenal menyajikan tongseng daging entok adalah milik Kang Tanir di Yogyakarta. Para pecinta kuliner yang sedang bertandang ke Kota Gudeg wajib mampir ke kedai ini.

Olahan tongseng entok racikan Kang Tanir sudah sangat kondang. Itu bisa terlihat dari asal pembeli di kedai Kang Tanir.

Mereka tidak hanya datang dari kawasan Sleman atau Yogyakarta saja, tetapi juga dari daerah lain. “Ada yang dari Solo, Bogor, Jakarta. Kebanyakan yang makan di sini malah dari luar kota,” ujar tukang parkir di depan kedai Kang Tanir.

Para pembeli dari berbagai daerah itu datang dengan satu alasan. Apalagi, kalau bukan menjajal kenikmatan tongseng entok ala Kang Tanir.

Banyak yang bilang, orang yang sekali menjajal tongseng entok Kang Tanir, pasti tergoda untuk mampir lagi kendati lokasi kedai ini jauh dari keramaian Yogyakarta. Ya, kedai ini terletak di antara hamparan kebun salak di Turi, Sleman, Yogyakarta.

Meski lokasinya berada di daerah yang jauh dari pemukiman, kedai yang diberi nama Enthok Slenget Kang Tanir itu tak pernah sepi dari pembeli. Sejak jam 4 sore setiap harinya, pembeli sudah berdatangan ke kedai milik Kang Tanir.

Menjelang magrib, warung yang berukuran sekitar 30 meter persegi itu bakal penuh sesak. Ada yang lesehan, ada juga yang menempati kursi bambu panjang.

Pembeli yang datang dan memesan tongseng entok sebelum magrib, hanya membutuhkan waktu tunggu 10 menit untuk bisa menikmatinya. Tapi pembeli yang datang dan memesan sesudah magrib, harus rela menunggu antrean sekitar 20 menit sampai 30 menit.

Dan sebaiknya jangan datang lebih dari jam setengah tujuh malam. Saat itu, biasanya persediaan entok di kedai Tanir sudah habis.

“Dalam sehari kami menyiapkan 15 ekor entok. Dan itu pasti habis,” tutur Kang Tanir ramah. Daging 15 ekor entok itu habis terjual dalam waktu tidak sampai tiga jam.

Oh, iya, kalau ingin menikmati menu tengkleng entok, Anda harus bergerak lebih cepat. Kalau perlu, pesan terlebih dahulu. Olahan jenis ini biasanya tandas satu jam setelah kedai buka.

Jika sudah sampai di lokasi kedai, silakan memesan langsung ke Kang Tanir. Si empunya kedai senantiasa asyik di dapur yang terletak di muka warung.

Dengan sigap Kang Tanir bakal mengolah tongseng dengan tingkat kepedasan yang diinginkan pembelinya. “Mau pedas sedang atau pedas sekali?” demikian pertanyaan yang biasa dilontarkan Kang Tanir yang berperawakan kecil itu.

Seketika Kang Tanir akan mengulek cabai rawit dengan kasar. Hasil ulekan akan kembali diulek dengan merica bubuk. Bila sudah sedikit halus, ulekan cabai dan merica dimasukkan ke dalam panci yang berisi potongan daging entok yang berkuah.

Berikutnya, giliran garam, bumbu tongseng, dan kecap manis yang ditambahkan. Sambil menunggu mendidih, biasanya Kang Tanir mengobrol dengan pembeli.

Sekitar tiga sampai lima menit, kuah tongseng pun mendidih. Kang Tanir akan menuangkannya ke dalam piring saji yang berukuran kecil.

Sajian tongseng entok itupun didampingi nasi hangat, potongan ketimun berukuran dadu, dan irisan tipis daun kol.

Pakai anglo

Begitu masuk ke mulut, kuah tongseng langsung menguasai indra perasa. Tongseng entok dengan tingkat pedas sedang saja langsung bisa bisa bikin kepala geleng-geleng.

Pedas rawit dan merica yang hangat tak melunturkan kesegaran kuahnya. Sebab di sela-sela rasa pedas itu ada rasa manis dari kecap. Benar-benar mantap.

Daging entok pun empuk ketika digigit. Bumbu meresap sempurna. Pedas dan manis sangat kental menguasai rasa daging.

Dan yang pasti, daging entok olahan Kang Tanir tidak amis. “Banyak orang malas mengolah entok karena dagingnya amis. Tapi saya punya tekniknya supaya bau amis hilang,” kata Kang Tanir sambil sibuk menggongseng daging.

Rasa pedas bisa jadi memacu Anda untuk lekas menandaskan hidangan. Tapi bila ingin menikmatinya, campurkan potongan ketimun ketika memakan daging dan kuahnya. Ketimun akan membantu mengurangi rasa pedas.

“Nggak sia-sia jauh-jauh ke sini. Benar-benar enak, nikmat, dan lain daripada yang lain tongseng ini,” ujar Adrian yang datang dari Jakarta. Adrian mendapat rekomendasi kedai Kang Tanir dari internet.

Untuk mendapatkan daging yang empuk, Kang Tanir merebus daging entok selama dua setengah jam. Perebusan dilakukan dengan menggunakan kayu bakar.

Daging pun dimasak bersama dengan bumbu tongseng di atas anglo yang menggunakan arang. “Belum mampu beli gas. Biar rasanya lebih nendang,” ujar Kang Tanir sambil bercanda.

Selain menyediakan tongseng entok, Kang Tanir juga menjual tengkleng entok. Anda juga bisa memesan balungan alias tulang entok.

Balungan entok ini memiliki citarasa yang manis. Tidak ubahnya masakan semur. Olahan yang pas menyebabkan tulang-tulang entok menjadi nikmat saat disesap.

Kang Tanir bilang, entok itu dagingnya lebih banyak ketimbang bebek. Selain itu, entok lebih mudah didapat.

Kang Tanir mendapatkan entok dari pemasok. “Saya tak sempat pelihara sendiri,” tutur dia.

Untuk menikmati seporsi tongseng entok, Anda cukup menebus seharga Rp 25.000. Sedang balungan entok ditawarkan dengan harga Rp 17.000 per porsi.

 

Enthok Slenget Kang Tanir

Pasar Agropolitan Pules, Donokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta

No. telp: 081804338944

Koordinat GPS:
-7,653878, 110,3793750