Melompat lalu melayang

Selasa, 11 Juni 2013 | 09:33 WIB
Sumber: Mingguan KONTAN, 10 Juni - 16 Juni 2013  | Editor: Catur Ari

Bearry Wibawanto melayang di udara sambil memandang kawasan perbukitan Bantul, Yogyakarta, dari atas Kebun Buah Mangunan di Dlingo. Gaya terbang Bearry itu diabadikan dalam foto berjudul Fly Away, hasil jepretan Anjar Adi Pratama yang mejeng di situs LevitasiHore, komunitas fotografi levitasi.

Tapi, Bearry tidak betul-betul terbang. Sebab, memang dia tidak bisa terbang seperti Superman. Bearry tampak seolah-olah melayang karena Anjar memakai teknik levitasi.

Levitasi? Apaan, tuh? Levitasi yang dicomot dari bahasa Latin levitas yang berarti ringan adalah teknik fotografi yang membuat seseorang atau sesuatu tampak seolah-olah melayang melawan gravitasi tanpa menggunakan alat bantu.

Lantaran unik, belakangan semakin banyak orang yang menggeluti hobi fotografi levitasi. Hendra Alya, salah satu contohnya. Pria 28 tahun asal Pekanbaru, Riau, ini mulai suka fotografi levitasi sejak April 2012 lalu. “Fotonya unik dan punya cerita yang berbeda dari foto lainnya,” kata dia.

Cuma, Hendra yang sehari-hari berprofesi sebagai fotografer lepas mengakui fotografi levitasi memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi ketimbang teknik fotografi lain. Soalnya, dalam proses pemotretan membutuhkan kerja sama antara fotografer dengan model, agar mendapatkan pose, ekspresi, dan timing yang tepat.

Tak heran, fotografi levitasi menguji kesabaran fotografer sekaligus stamina model. Pasalnya, untuk mendapatkan foto yang bagus, model harus mengulang lompatan hingga puluhan kali. “Untuk model yang sudah terbiasa, jumlah lompatan mungkin hanya tiga sampai lima kali,” ujar Hendra.

Sebuah foto levitasi dikatakan berhasil kalau objek dalam foto tidak terlihat terpental, dijatuhkan, melompat, atau dilemparkan, melainkan melayang tanpa beban. Jelas, ini bukan pekerjaan gampang.

Toh, tingkat kesulitan fotografi levitasi tak menyurutkan niat Wahyudin menekuni hobi ini. Pengusaha dari Yogyakarta ini baru beberapa bulan melakoni kegiatan fotografi levitasi. “Saya melihat levitasi adalah sebuah seni fotografi yang unik dan menarik, karena foto ini memakai objek yang seolah olah melayang,” katanya.

Meski baru hitungan bulan melakoni hobi fotografi levitasi, semua foto-foto Wahyudin yang dia posting di situs LevitasiHore selalu menjadi pilihan admin. “Karena banyak yang suka dan itu memberikan kepuasan batin tersendiri, secara tidak langsung saya berhasil dalam berlevitasi,” tutur Wahyudin.

Sama seperti Hendra dan Wahyudin, Imam Wahyudi menyukai fotografi levitasi karena berbeda dengan seni-seni fotografi lain. Makanya, begitu pertama kali melihat foto-foto yang menggunakan teknik levitasi Desember 2012, mahasiswa Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, ini langsung kepincut dan segera mempelajari tekniknya. “Levitasi lebih unik dan bermakna,” ujarnya.

Punya cerita

Meski begitu, pria 19 tahun ini bilang, untuk menghasilkan sebuah foto levitasi, fotografer harus mempunyai konsep. Jadi, bukan sekadar melayang, tapi juga memiliki cerita tersendiri di dalam foto itu.

Cuma, Imam tidak hanya suka memotret. Dia juga kegandrungan menjadi model fotografi levitasi. “Menjadi model fotografi levitasi bisa dijadikan olahraga kecil-kecilan, karena pengambilan gambarnya harus melompat dan dengan melompat-lompat kita akan mengeluarkan keringat,” katanya.

Menjadi model juga salah satu alasan Lilik Dwi Koestiawan melakoni hobi fotografi levitasi sejak Januari 2012 lalu, selain pastinya lantaran aliran fotografi ini unik dan berbeda. Dengan tubuh tambun, dia kadang-kadang ingin terlihat ringan. Dan ternyata, “Hal itu bisa diwujudkan dalam fotografi levitasi,” ungkap dia.

Itu sebabnya, lelaki 31 tahun yang bekerja sebagai jurnalis di Jakarta ini sering menjadi foto model levitasi. Bahkan, beberapa kali Lilik jadi model untuk pembuatan foto levitasi komersial, dan mendapat imbalan yang lumayan, sekitar Rp 1 juta untuk sehari pemotretan.

Tapi, bukan berarti foto-foto levitasi karya Lilik dipandang sebelah mata. Buktinya, beberapa fotonya masuk dalam buku dengan judul Fotografi Levitasi yang berisi tip dan trik penting untuk model dan fotografer levitasi. Juga, buku ini menampilkan foto-foto levitasi karya anggota LevitasiHore.

Asyiknya, hobi ini juga bisa menghasilkan uang. Sebab, mulai banyak pasangan yang menggunakan konsep levitasi untuk foto prewedding mereka. Bahkan, ada juga yang menginginkan foto keluarga dengan konsep levitasi. “Tarifnya tergantung tingkat kesulitan dan konsep,” ujar Hendra.

Lalu, bagaimana sih, membuat foto levitasi? Foto levitasi bisa dihasilkan dengan dua cara: pertama, model melompat dan berpose seolah-olah melayang. Kedua, dengan photoshop trick, model berpose melayang di atas alat bantu seperti meja dan kursi. Nantinya, dengan bantuan Brush Tool, alat bantu dihapus sehingga model tampak melayang.

Untuk cara yang pertama, kerapihan rambut dan atribut yang digunakan model, ekspresi yang natural, dan pose yang tidak terlihat melompat, sangat menentukan keberhasilan dari sebuah foto levitasi.

Karena itu, tip dari LevitasiHore ialah gunakan penjepit supaya baju tidak tampak menggembung atau tersingkap saat model melompat. Lalu, gunakan hair spray, gel, bando, topi, atau lainnya agar rambut tidak berantakan. Melompat di tempat, jangan sambil berlari. Dan, wajah lebih bagus jika tidak melihat ke kamera.

Anda tertarik melakoni hobi fotografi levitasi? 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Terbaru