HOME | Tokoh |

0

Nino Fernandez meramu kopi dengan hati

oleh : Klaudia Molasiarani | Selasa, 10 Oktober 2017 | 09:00 WIB

Nino Fernandez meramu kopi dengan hati

KONTAN.CO.ID - Keinginan Nino Fernandez yang lama terpendam akhirnya kesampaian juga. Bukan cuma hasrat meracik kopi di sebuah kedai kopi, aktor blasteran Indonesia dan Jerman ini kini punya kedai kopi sendiri.

Awal Mei 2017 lalu, Nino membuka usaha kedai kopi dengan mengusung nama Di Bawah Tangga. Lokasinya di Gandaria City, Jakarta Selatan.

"Berbeda dengan coffee shop lainnya, saya ingin menonjolkan konsep yang full Indonesia," kata pria kelahiran Hamburg, Jerman, 13 Januari 1984 ini.

Kopi bukanlah dunia baru buat Nino. Aktor yang membintangi banyak judul film ini sudah jatuh cinta dengan kopi sejak remaja.

Ketika masih tinggal di Jerman, Nino yang sedang kuliah di Universitas Hamburg  pernah bekerja di salah satu kafe di kota pelabuhan itu. Tapi saat itu manajemen kafe tidak pernah mengizinkan Nino bekerja di bagian bar untuk meracik kopi.

"Mereka terlanjur memercayakan bagian servis kepada saya karena kinerja saya di bagian itu sangat bagus," ujar Nino yang memulai karier keartisan sebagai video joki (VJ) di MTV Indonesia.

Keinginan Nino meracik kopi akhirnya kesampaian juga, setelah dia hijrah ke Jakarta. Seiring makin seringnya minum kopi, dia membeli mesin kopi.

Hasratnya bertambah, tak sekadar meracik kopi tapi juga punya kedai kopi. Apa lagi peluang bisnisnya terbuka karena menyeruput kopi sudah jadi gaya hidup di Indonesia.

Tambah lagi, film Filosofi Kopi tayang di bioskop-bioskop tanah air berbarengan dengan niat Nino membuka kedai kopi. Menurutnya, film yang naik layar lebar tahun 2015 ini membuat animo masyarakat meminum kopi di kafe kian bertambah.

"Saya pikir, ini saat yang tepat membuat coffee shop sendiri, sekaligus menguji apakah passion saya benar-benar ada di sini," ucap dia.

Sebelum merintis usaha kedai kopi, Nino berguru pada Yoshua Tanu, juara Indonesia Barista Championship 2014. Dari Yoshua, ia belajar tentang apa saja yang harus dipahami seseorang yang ingin memulai bisnis kedai kopi.

Meski hanya beberapa hari, Nino merasa cukup berguru pada Yoshua. Lalu, "Saya kembangkan sendiri, karena saya punya mesin kopi. Jadi, setiap hari bikin kopi," akunya.

Harga terjangkau

Dengan mengusung konsep Indonesia sepenuhnya, Nino tentu menggunakan bahan baku kopi asli Indonesia. Dia memakai kopi organik pekebun dari berbagai daerah, seperti Sumatra, Bali, Sulawesi.

Dari konsep itu juga, Nino menyediakan jajanan pasar di kedainya sebagai pelengkap. "Pelanggan bisa minum kopi dengan harga yang terjangkau. Jadi, konsepnya unik dan baru," ujar Nino bangga.

Hanya dengan merogoh kocek Rp 19.000, pelanggan sudah bisa menyeropot secangkir kopi di mal mewah. Memang, Nino bilang, tantangan dalam bisnis kedai kopi sekarang adalah, bagaimana menghadirkan secangkir kopi dengan harga murah, suasananya asyik, tapi tidak merugi.

Satu lagi, Nino bilang setiap gelas kopi yang tersaji di Bawah Tangga dibuat dari bahan berkualitas, dan diramu dengan hati "Setiap cangkir, kalau kopi yang kita buat dengan hati, orang yang minum pasti merasa," ujarnya. Maka tak heran dia mengusung tagline: Kopi Enak Itu Dibuat Dengan Hati.

Untuk sukses, Nino mengibaratkan pemilik kedai harus jadi kepala, jangan buntut. Kalau menjadikan uang di kepala kita, akan cenderung ikut tren. "Tetapi kalau kita jadi kepalanya, apapun yang mau kita lakukan, uang pasti akan ikut. Yang juga penting dalam bisnis kopi, konsistensi dan pakai hati," tambah Nino.

Meski kedai kopinya baru seumur jagung, Nino sudah siap berekspansi. Ia berencana membuka satu kedai kopi lagi tahun ini, juga di sebuah pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Pusat.

"Masyarakat Jakarta kehidupannya banyak di mal. Mereka cari one stop rest area yang bisa makan, ada hiburan, bisa ngopi sambil ngobrol atau baca buku," jelas Nino.

Semoga sukses, ya.