HOME | Kedai |

SHAFA KEBAB

Terjerembab pada nikmatnya Shafa Kebab

oleh : Fransiska Firlana | Sabtu, 11 Februari 2017 | 10:00 WIB

Terjerembab pada nikmatnya Shafa Kebab

Hujan rintik turun di kawasan Kebun Raya Bogor awal Januari lalu. Namun, hal itu tak mengendurkan semangat para pedagang kali lima menjajakan dagangannya di kawasan itu.

Tak jauh dari Kebun Raya Bogor, tepatnya di Jalan Empang sebuah gerobak kebab tampak ramai dikerumuni pembeli. Di bawah penerangan yang temaram, warna gerobak dan dagangan yang dijajakannya tidak terlihat jelas.

Setelah dekat, baru ketahuan bahwa gerobak itu tempat berjualan kebab. Gerobak kebab ini ternyata cukup populer di Bogor dan sekitarnya.

Namanya Shafa Kebab, namun banyak orang Bogor lebih suka menyebutnya Kebab Empang. Maklum, lokasinya di Jalan Empang, belakang Bogor Trade Mall (BTM).

Kebab ini terkenal karena punya cita rasa yang enak, unik, sekaligus murah. Penjual kebab ini juga menawarkan kebab berukuran jumbo yang panjangnya lebih dari 30 cm.

Jejen, seorang ibu dua anak hampir saban minggu jajan Kebab Empang. Sekalipun harus rela antre untuk bisa mendapatkan kebab yang ia pesanan, dia rela.

“Ya, kalau beli kebab pasti di sini, enak dan murah,” timpal pembeli lain bernama Sultan yang juga selalu meluangkan waktu membeli Kebab Empang sepulang kerja.

Memang, menikmati kebab ini pembeli harus rela antre. Begitu tiba, kita akan menerima nomor antrean dan nota pesanan.

Lalu, kita akan dipanggil untuk memesan kebab yang Anda pilih. “Saya datang sehabis magrib tadi. Dapat nomer urut 9. Menunggu 20 menit baru dipanggil,” kata Jejen.

Waktu tunggu akan lebih lama bila Anda memesan kebab di atas jam 19.00 WIB. Saat itu pembeli Kebab Empang semakin ramai. Selain itu, satu orang pembeli bisa memesan dua sampai empat potong kebab.

Muhammad Abdul Azis, pemilik Shafa Kebab, berujar, warungnya baru buka antara jam setengah enam sore sampai habis atau sekitar jam sebelas malam. Selama itu, antrean bisa mengular sampai 50 pembeli.

Bila akhir pekan, jumlah antrean lebih banyak lagi. Dalam sehari Muhammad bisa menjual 12 kilogram (kg) daging sapi untuk isian kebab.

Kebab di gerai ini tak menyediakan varian berdasarkan isi. Varian yang dia tawarkan hanya berbeda ukuran. Ada ukuran jumbo, super, libanis, sedang, dan kecil.

Ukuran jumbo cukup untuk dinikmati dua orang. Kalau dimakan sendiri bisa blenger.

Ukuran panjangnya sekitar 30 cm, sedangkan ketebalannya mencapai sekitar 6 cm. Bila mau makan untuk sendiri, lebih pas memesan ukuran libanis.

Anda juga bisa memesan kebab dengan roti. Kulitnya berupa roti panjang seperti yang digunakan pada hot dog. “Kalau isiannya sama. Tinggal mau pedas atau enggak saja,” tutur seorang karyawan gerai.

Setelah nomor antrean tiba, Anda akan dipanggil. Silakan mendekat ke tukang racik.

Anda akan ditanya apa saja isian yang ingin dimasukkan ke dalam kebab. Plus ditanya pedas atau tidak.

Isian kebab komplet terdiri dari irisan daging sapi yang berwarna merah, potongan selada yang segar, irisan tomat, potongan ketimun, irisan bawang bombai, lembaran keju, mayones, dan saus. “Kebab di sini tak pelit memberikan potongan dagingnya,” ujar Jejen.

Setelah isian kebab lengkap, kulit kebab digulung membungkus semua isian. Terakhir, gulungan itu pun dibalut dengan kertas tipis.

Kebab pun bisa langsung disantap. Sebelum disajikan daging dan kulit kebab dipanasi dengan api yang menyala.

Kulit kebab terasa tawar dan sedikit alot, namun ketika dipadukan dengan segarnya sayuran dan daging sapi yang sudah teroles saus dan mayones, rasanya menjadi nikmat. Bakal tak terasa segulung kebab ludes dalam sekejab.

Harga kebab di sini ditentukan berdasarkan ukuran. Kebab kategori jumbo cukup ditebus dengan harga Rp 21.000. Sedang kebab super dihargai Rp 18.000 dan kebab libanis seharga Rp 12.000.

Adapun kebab berukuran sedang dan kecil masing-masing dihargai Rp 12.000 dan Rp 10.000. Sementara kebab dengan kulit roti dihargai Rp 9.000.

Tak ada rahasia

Para pembeli yang menyambangi Shafa Kebab biasanya membawa makanan itu untuk dibawa pulang. Gerai ini memang tak menyediakan tempat duduk yang nyaman untuk menikmati kebab. Tempat duduk hanya digunakan bagi mereka yang mengantre pesanan.

Muhammad mengaku tak memiliki rahasia khusus atas racikan kebabnya. “Semua bahan banyak tersedia di pasar. Saya yang membeli semua bahan baku. Dagingnya pun sudah jadi, saya membeli dari Jakarta,” kata lelaki yang sudah memutih rambutnya itu.

Nah, kulit kebab, dia membuat sendiri. Muhammad menugaskan anaknya untuk membuat kulit kebab itu.

Lagi-lagi, menurut Muhammad tak ada yang berbeda antara kulit kebab di gerainya dengan kulit kebab pada umumnya. Bahannya sama, cuma terigu.

Sejak berdiri tahun 2004, Muhammad hanya menambah dua karyawan. Sekarang, dia memiliki tiga karyawan.

Satu karyawan bertugas memanaskan kulit kebab, satu karyawan lagi mengiris-iris daging sapi plus mencatat pesanan pembeli, dan satu lagi meracik isian kebab.

“Kalau ada satu yang tak masuk tidak ada masalah. Tapi kalau dua yang enggak masuk, itu masalah,” kata lelaki yang sudah berumur 73 tahun itu.

Muhammad sendiri, sekalipun tak gesit seperti dulu, selalu setia mendampingi karyawannya membuka gerai.

Meski tak terjun lagi meracik kebab, Muhammad masih suka wira-wiri mencarikan bahan yang kurang untuk dagangannya. Atau ,sekadar menukarkan uang kecil ke toko lain.

Oh, iya, Muhammad hanya menutup gerobaknya selama libur Lebaran.

 

Shafa Kebab atau Kebab Empang

Jalan Empang Blok Wahir No 51, Bogor (Belakang  Bogor Trade Mall)

Koordinat GPS:

-6,6068530, 106,7955380