HOME | Otomotif |

OTOMOTIF

Tren aliansi industri otomotif, bagaimana RI?

oleh : Eldo Christoffel Rafael | Jumat, 11 Agustus 2017 | 21:51 WIB

Tren aliansi industri otomotif, bagaimana RI?

KONTAN.CO.ID - Tren aliansi di industri otomotif global kian marak. Pasca aliansi antara Mazda dan Toyota di Amerika Serikat tahun lalu. Beberapa Agen Pemegang Merek sepakat aliansi lebih ke arah transfer teknologi.

Fransiscus Soerjopranoto, Executive General Manager PT Astra Toyota Motor mengatakan aliansi dengan Mazda, ke depannya di Indonesia belum dapat diketahui seperti apa. "Tetapi teknologi Mazda seperti SkyAktiv dan lainnya, mungkin saja suatu saat bisa dikombinasikan denngan teknologi Toyota," kata Soerjopranoto, Jakarta, Kamis (10/8).

Di Indonesia, menurutnya kolaborasi yang sudah terlihat dari Toyota dan Daihatsu. Yang di mana meriset kebutuhan-kebutuhan pengembangan produk untuk negara-negara berkembang. "Untuk Toyota dan Mazda itu kan di Amerika Serikat, tetapi kami akan melihat posibilitasnya seperti apa," tuturnya.

Untuk saat ini yang sudah bisa dipastikan adalah kolaborasi Toyota dan Daihatsu di Indonesia. Jadi nantinya pengembangan produk-produk baru seperti Avanza, Calya, Rush, itu akan dikombinasikan antara kebutuhan Toyota dan Daihatsu.

Menurut analisa Soerjo, dalam research and development untuk kendaraan membutuhkan investasi besar. Jadi dengan aliansi, maka bisa ada penggabungan beberapa teknologi.

"Kalau di bisnis, kami menyebutnya coopetition, competition tapi cooperative. Jadi kami mengharapkan ada sinergi sehingga biayanya tidak terlalu besar. Itu bisa saling melengkapi," tutur Soerjo.

Roy Arman Arfandy, Presiden Direktur PT Eurokars Motor Indonesia mengatakan aliansi Mazda dan Toyota baru untuk mengembangkan mobil listrik di pasar Amerika. "Untuk di Indonesia sementara belum ada pengaruh," kata Roy, Kamis (10/8).

Head of Communication PT Nissan Motor Indonesia, Hana Maharani, mengatakan di balik layar, langkah konkrit aliansi Nissan-Renault dan Mitsubishi sudah dilakukan. Seperti segi logistik akan menjadi efisien. "Sebab ada penggabungan supplier Nissan dan Mitsubishi sehingga proses pengiriman bisa lebih cepat dan efisien," tutur Hanna (11/8).

Selain itu di tingkat riset produk menurutnya ada efisiensi. Karena biaya investasi riset yang besar bisa disatukan. "Tapi dari segi branding dan pemasaran masing-masing tetap bersaing sendiri," tuturnya.