kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Hai orangtua, hindari memarahi anak di depan orang lain


Kamis, 10 Oktober 2019 / 20:20 WIB

Hai orangtua, hindari memarahi anak di depan orang lain
ILUSTRASI. mendidik anak yang benar


KONTAN.CO.ID - Orangtua adalah orang yang paling mengenal anaknya sendiri. Setiap orangtua pasti ingin yang terbaik untuk buah hatinya dan terus berusaha melindungi mereka. 

Menegur ketika anak berbuat hal yang tidak seharusnya menjadi salah satu ungkapan rasa sayang orangtua. Namun, tak sedikit orangtua yang menegur bahkan memarahi anak di depan orang lain, membuat hal tersebut seolah umum dilakukan. 

Baca Juga: Mochtar Riady: Ada Teman-Teman Menantang Saya

Padahal, seperti dilansir Kompas.com, memarahi anak di depan orang-orang ternyata bisa membawa dampak buruk terhadap perkembangan anak kelak. Apa saja dampaknya? 

1. Anak mungkin menganggapnya sebagai hinaan 

Ambilah contoh ketika anak berkelakuan tidak baik di depan kerabat. Orangtua mungkin akan memarahinya atau memberi hukuman lain sebagai cara mendisiplinkan mereka. Namun, berbicara kasar ketika ingin memperbaiki kesalahan anak justru bisa membuat anak merasa terhina.

Bukannya mengubah sikapnya, anak justru akan bersikap makin buruk. Jika mereka berkelakuan kurang baik, lebih baik orangtua menjelaskan tanpa emosi pada anak apa yang menjadi kesalahannya. Ajak anak berdiskusi menggunakan bahasa yang mudah ia mengerti. 

2. Berdampak pada kesejahteraan emosional 

Memarahi anak di depan kerabat atau orang tak dikenal bisa membuat anak merasa tersakiti. Omelan secara konstan dapat membuat anak merasa ditolak, bahkan meskipun orangtua mencintai mereka. 

Alih-alih menjadi pribadi yang disiplin, anak justru akan merasa dirinya individu yang buruk. Anak-anak sangatlah polos dan bisa dengan mudah dibentuk sesuai keinginan orangtua. 

Baca Juga: Kepedulian Tugu Insurance terhadap Anak Berkebutuhan Khusus Melalui Program CSR

Jadi, daripada memarahi, lebih baik orangtua menjelaskan pada mereka kebiasaan mana yang baik dan buruk sehingga mereka bisa belajar dari kesalahannya. 


Sumber : Kompas.com
Editor: Noverius Laoli

Video Pilihan


Close [X]
×