Lalombaa Village, berwisata kakao di Sulawesi

Kamis, 12 Mei 2016 | 21:23 WIB
Lalombaa Village, berwisata kakao di Sulawesi

Reporter: Noverius Laoli | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Sulawesi memang dikenal sebagai daerah penghasil kakao di Indonesia. Untuk menarik minat masyarakat mengenal kakao, Sulawesi Tenggara (Sulteng) mengajak masyarakat mengenal cara pengelolaan kakao mulai dari pengolahan biji kakao fermentasi, sampai kakao menjadi cokelat yang diminati banyak kalangan.

Untuk itu, Pemerintah Daerah Sultar memperkenalkan lokasi wisata bernama Agrowisata Lalombaa Village di Kolaka yang merupakan salah satu daerah penghasil kakao.

Bupati Kolaka Provinsi Sultar Ahmad Safei mengatakan, tempat ini disiapkan agar masyarakat lebih mengenal terhadap tanaman kakao hingga menjadi cokelat yang bisa dikonsumsi areal agrowisata tersebut juga akan dilengkapi dengan galeri cokelat.

Semacam ruang display yang menampilkan produk olahan cokelat yang menggunakan biji kakao dari Kolaka, juga wahana permainan, air mancur dan pusat kuliner makan. “Sehingga tempat ini cocok dikunjungi bersama keluarga,” ucap Safei dalam keterangan tertulis, Kamis (12/5).

Ia menjelaskan, agrowisata kampung ini bisa dijadikan education center (pusat pembelajaran) pertama di Sulawesi yang berbasis kakao dengan target pengujung turis domestic maupun luar negeri. Artinya, melalui kampung kakao ini maka pengujung mancanegara akan lebih mengenal bahwa kakao di Indonesia adalah kakao terbaik.

Sehingga dalam hal ini di kampung kakao juga akan dibangun di bangun resort, dengan fasilitas adalah pengalaman menikmati back to nature bersama petani kakao. Bahkan juga akan dibangun penginapan bagi parang pengunjung yang ingin bermalam di kampung kakao tersebut.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Kolaka, Provinsi Sultar Bachrun Hanise menambahkan di daerah ini, setiap orang dapat menyaksikan bagaimana biji kakao diolah menjadi cokelat. Pada sisi lain terdapat gudang tempat penyimpan biji kakao sebelum dikirim ke pabrik.

Hal paling menarik, lanjutnya, terdapat wahana yang terintegrasi dengan kebun kakao yang tertata rapi dan cukup terawat seluas 300 hektare. “Pada saat musim panen, para pengunjung akan dimanjakan dengan pohon yang penuh dengan buah berwarna merah dan hijau,” kata Bachrun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

BERITA TERKAIT
TERBARU

Close [X]