CLOSE [X]
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Mau belajar sambil berwisata? Mampir saja ke Museum Nyamuk Pangandaran


Sabtu, 22 Juni 2019 / 14:30 WIB

Mau belajar sambil berwisata? Mampir saja ke Museum Nyamuk Pangandaran


KONTAN.CO.ID -  PANGANDARAN. Wisata di Pangandaran, Jawa Barat, tak hanya bisa menyambangi berbagai pantai dan menikmati keindahan alam. Ada pilihan wisata edukasi di wilayah ini. Salah satu pilihannya, Museum Nyamuk Pangandaran. Museum ini berada di Kampung Babakan, Kecamatan Pangandaran.

Dari arah Ciamis atau Banjar, lokasinya tidak jauh sebelum Bundaran Marlin yang merupakan pintu gerbang masuk ke objek wisata Pantai Pangandaran. Pada bagian depan museum ini terdapat ikon yakni patung nyamuk raksasa.


"Kami tawarkan wisata ilmiah di Museum Nyamuk ini," kata Firda Yanuar, penanggung jawab wisata ilmiah dan museum, saat ditemui pada Sabtu (22/6).

Museum ini dikelola Loka Litbangkes Pangandaran di bawah Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan. Awalnya, yang bertugas di sini merupakan para peneliti yang meneliti tentang nyamuk.

Firda menjelaskan, museum ini dijadikan tujuan wisata edukasi dan ilmiah untuk mengubah persepsi masyarakat bahwa hasil-hasil penelitian itu terlalu berat. Menurut dia, mereka hanya melihat penelitian dari sifat ilmiahnya saja. Para peneliti di Loka Litbang Pangandaran berharap, dari hasil penelitiannya itu ada sesuatu yang bisa disampaikan kepada masyarakat tanpa melalui seminar maupun jurnal.

Cara penyampaian itu melalui wisata edukasi. "Ini goal (tujuan) utamanya. Edukasi masyarakat," jelas Firda. Dia mengatakan, para peneliti tidak mau hasil penelitian hanya menjadi penghuni perpustakaan. Pihaknya berusaha memvisualisasikan apa saja yang bisa disampaikan.

"Biasanya masyarakat melihat nyamuk biasa saja. Kita ingin setelah ke sini masyarakat tahu nyamuk banyak jenisnya. Ternyata sebabkan penyakit A, penyakit B. Kemudian bagaimana caranya biar enggak kena nyamuk. Itu yang ingin kita edukasi. Jika lewat seminar kadang-kadang beda dengan visual," papar Firda.

Di kompleks museum ini terdapat insektarium, laboratorium, mini bioskop, perpustakaan, tompen (tanaman obat malaria dan pengusir nyamuk). "Di bioskop ada film dukomenter (tentang nyamuk) untuk (wisatawan) siswa SMP ke atas. Kalau siswa SD dan TK ada film kartun tentang penularan DBD. Kapasitasnya sekitar 100 orang," kata Firda.

Di insektarium, kata dia, memelihara nyamuk jenis Aedes, dan Culex. Selain itu, ada pula telur, larva, pupa nyamuk yang bisa diketahui wisatawan yang datang. "Dikenalkan jenis telur nyamuk seperti ini," kata dia.

Sementara, di museum berukuran 8x8 meter ini, terdapat berbagai jenis koleksi nyamuk di Indonesia. Selain itu, ada peralatan terkait penangkapan nyamuk, obat anti nyamuk, dan lainnya. Untuk koleksi nyamuk di museum ini, ada sekitar 25 jenis.

Koleksi ini berasal dari sejumlah daerah di Indonesia, seperti Sumatra dan Sulawesi. Sejumlah tanaman yang berada di Tompen di antaranya lavender, zodia, kayu putih, akar wangi, dan mimba.

"Mimba terkenal sejak lama jadi obat malaria. Kemudian ada beberapa jenis tanaman yang bisa diekstrak dan sudah dikenal sebagai penolak nyamuk," kata Firda.

Pengelola museum menawarkan sejumlah paket wisata di antaranya paket wisata singkat, paket 2-3 hari, paket satu Minggu bahkan satu bulan. Karena merupakan instansi pemerintah, setiap wisatawan dikenakan tarif masuk sebagai bagian Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Pelajar TK, SD, SMP ditarif Rp 5.000 per orang. Untuk pelajar SMA Rp 7.500. Mahasiswa dan umum Rp 15.000. "(Tarif) Bagi wisatawan yang melakukan pelatihan, kita sesuaikan materi yang diminta," kata Firda.

Materi yang dilakukan mulai mencari jentik hingga menangkap nyamuk di daerah perindukan seperti bekas tambak yang tak terpakai. "Sore nyusul jentik. Malam sampai subuh seharusnya, karena sedang belajar cukup sampai jam 23.00 WIB menangkap nyamuk. Dijelaskan cara menangkapnya," kata Firda.

Awalnya, museum ini hanya buka pada Senin-Jumat pada jam kerja. Namun, sejak Mei 2019, museum buka setiap hari. "Karena ternyata tak sedikit yang datang ke sini di akhir pekan. Pulang dari pantai kemudian ke sini. Untuk Sabtu-Minggu buka mulai jam 10.00-14.00 WIB," kata Firdha. (Candra Nugraha)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Wisata ke Pangandaran, Mampir Belajar Seputar Nyamuk di Museum Ini",


Sumber : Kompas.com
Editor: Noverius Laoli
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0012 || diagnostic_api_kanan = 0.0024 || diagnostic_web = 0.2044

Close [X]
×