HOME | Tokoh | Rendezvous |

NOVELIS

Drupadi, karya terbaru Seno Gumira Ajidarma

oleh : Yudho Winarto | Rabu, 08 Februari 2017 | 22:11 WIB

Drupadi, karya terbaru Seno Gumira Ajidarma

JAKARTA. Sastrawan Seno Gumira Ajidarma menerbitkan buku terbarunya berjudul "Drupadi" yang mengangkat kisah hidup salah satu tokoh perempuan dari wiracarita Mahabarata, yang merupakan istri Pandawa Lima.

Drupadi dikenal sebagai sosok yang menerima kodrat diperistri oleh kelima Pandawa yang memenangi sayembara memanah di Kerajaan Pancala, dan kemudian menderita saat harus diserahkan kepada Kurawa akibat kekalahan Yudistira, suaminya, dalam permainan dadu.

Dalam acara peluncuran dan diskusi karya terbarunya, Rabu (8/2), Seno mengungkapkan ketertarikannya mengangkat kisah tentang Drupadi yang memiliki unsur dramatis, digambarkan sebagai tokoh cantik rupawan dan berani membela haknya atas represi kekuasaan.

"Bahwa perempuan bicara dan menjadi tokoh telah ada dalam cerita ini, jadi tidak usah menunggu (gerakan) feminisme," kata dia.

Dalam buku setebal 149 halaman itu Seno juga menjadikan Pancawala sebagai anak Drupadi dari kelima ayahnya, tanpa tahu siapa ayah biologis Pancawala.

Pilihan ini dianggap lebih praktis dan lebih unik, daripada Drupadi memiliki lima anak dari lima ayah seperti dikisahkan dalam teks Kakawin Baratayuda.

Dengan begitu, Drupadi diceritakan sebagai sosok poliandris, berbeda dengan versi Jawa Baru dimana Pancawala dikisahkan sebagai anak Drupadi dari suaminya, Yudhistira.

Seno menjelaskan awal proses penulisan "Drupadi" dimulai sepanjang 1983-1984 saat dirinya mengisi rubrik khusus wayang di majalah mingguan Zaman.

Bab pertama hingga keempat dimuat bersambung dari edisi 14 Januari sampai 11 Februari 1984, kemudian lanjutan ceritanya tersebar di berbagai media cetak sebagai cerita pendek, hingga 2014.

Adalah Danarto, penulis dan pelukis idola Seno yang menjadi pemicu lahirnya "Drupadi". Kepiawaian Danarto dalam melukis tokoh pewayangan dalam rubrik majalah Zaman dianggap Seno lain dari yang lain, karena Danarto berani menggambarkan setiap tokoh dengan kreativitasnya sendiri atau di luar pakem yang ada.

"Jujur, saya ingin dalam tulisan saya ada ilustrasi gambar dari Danarto. Seperti karyanya, saya ingin menantang kreativitas saya dalam mengembangkan cerita Drupadi," kata Rektor Institut Kesenian Jakarta.

Namun, penulis "Sepotong Senja untuk Pacarku" itu mengaku mengalami dilema saat harus menulis tentang sosok Drupadi seperti yang umum dikenal khalayak atau yang sesuai interpretasi pribadinya.

"Waktu (bekerja) di majalah Zaman saya hanya berpikir menulis cerita wayang yang mudah-mudahan bagus, tanpa pretensi sastra atau keberpihakan. Walaupun pada saat itu sudah timbul kegelisahan tentang bagaimana sih perempuan kok dilombakan," tutur cerpenis yang tumbuh besar dan mengenal dunia wayang di Yogyakarta.

Novelis Ayu Utami menilai "Drupadi" sebagai karya yang bagus karena buku ini dapat membuat pembaca merasa, berdialog, dan merangsang daya pikir mereka.

Selain unsur kenikmatan bagi pembaca, Drupadi yang digambarkan memiliki ciri visual yang indah ternyata mengungkap pembelajaran bahwa ada persoalan mendasar yang tidak bisa diselesaikan dengan nilai moral.

"Kalau dibaca serius tentang perang Mahabarata yang antara lain disebabkan konflik yang melibatkan Drupadi, sebenarnya semua tokoh sudah memenuhi aturan atau darma yang ditetapkan. Tetapi itu saja tidak cukup, tetap ada dilema meskipun nilai moral sudah dipenuhi," ujar penulis novel "Saman".

Sumber Antara