5 Penyakit Hati dalam Islam yang Wajib Dihindari Umat Muslim, Ini Penjelasannya

Jumat, 15 Juli 2022 | 16:14 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
5 Penyakit Hati dalam Islam yang Wajib Dihindari Umat Muslim, Ini Penjelasannya

ILUSTRASI. 5 Penyakit Hati dalam Islam yang Wajib Dihindari Umat Muslim, Ini Penjelasannya. KONTAN/Fransiskus Simbolon


EDUKASI - Jakarta. Dalam ajaran agama Islam, ada beberapa penyakit hati yang wajib dihindari oleh umat Muslim. 

Salah satu organ yang penting bagi manusia adalah hati. Organ ini berfungsi untuk menghancurkan racun hingga menghasilkan protein dan membantu proses pencernaan. 

Bersumber dari situs Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), dalam kacamata Islam, hati adalah inti dari segala perilaku manusia. 

Jika hati seseorang baik, maka perilakunya juga akan baik. Sebaliknya, jika harinya buruk maka perilaku yang bersangkutan juga buruk. 

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UM Surabaya, Thoat Stiawan, menyebutkan hati yang buruk disebut dengan hati berpenyakit. 

Penyakit hati sering dikaitkan dengan beberapa tingkah laku atau sifat tercela yang disebut juga al-akhlaq al-mazmumah.

Baca Juga: Mengenal Resesi Ekonomi, Penyebab hingga Dampak yang Ditimbulkan

Penyakit-penyakit hati dalam Islam

Thoat menyebutkan, ada lima penyakit hati dalam ajaran Islam, yakni:

1. Sikap sombong atau takabur

Penyakit hati yang pertama adalah sombong. Perasaan sombong adalah kondisi dimana seseorang memiliki rasa kebanggaan berlebih pada kemampuannya sendiri. 

"Ia memandang dirinya tinggi dan enggan mengakui bahwa ada orang lain yang lebih baik,” jelasnya seperti dikutip dari situs UM Surabaya. 

Allah SWT sangat membenci sifat sombong karena menjadi penyebab iblis menjadi kafir. Umat Muslim diminta menjauhi sifat ini seperti tertuang dalam QS. Al-Isra ayat 37. 

"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung," (QS. Al-Isra:37).

2. Mengagumi diri sendiri atau ujub

Dalam sifat sombong terdapat karakter ujub yang merujuk pada kecenderungan mengagumi diri sendiri. Kebiasaan ini menjadi cikal bakal rasa sombong dalam hati manusia. 

Rasulullah pernah bersabda; “Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan ujub (takjub pada diri sendiri),” (HR. Abdur Razaq).

3. Iri dengki atau Hasad

Thoat menyampaikan, tanda utama penyakit hati ini adalah tidak senang saat melihat orang lain, sukses, bahagia, atau mendapat rezeki. Jika sudah parah, seseorang bahkan berdoa agar kebahagiaan orang lain berpindah padanya. 

Perlu diketahui bahwa iri dengki merupakan salah satu penyakit hati yang dapat menggugurkan pahala. 

Hal ini seperti ucapan Rasulullah dalam hadis riwayat Abu Dawud “Waspadalah terhadap hasad, sesungguhnya hasad mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu,” (HR. Abu Dawud).

Baca Juga: 11 Kata Bahasa Korea yang Masuk KBBI, dari Oppa hingga Mokbang

4. Pamer atau riya

Sifat pamer biasa muncul saat telah melakukan hal-hal baik. Anda perlu berhati-hati karena perilaku ini bisa menghilangkan pahala amal kebaikan. 

Kebiasaan pamer ini termasuk salah satu kebiasaan yang tidak disukai oleh Allah SWT. 

5. Kikir atau bakhil

Penyakit hati dalam Islam selanjutnya adalah kikir atau bakhil. Dasar utama dari sifat ini adalah perasaan apa yang dimiliki masih kurang. 

Akibatnya, seseorang tidak mau berbagi rezeki kepada orang lain yang membutuhkan. Pada kenyataannya, harta atau rezeki yang dimiliki sudah lebih dari cukup untuk hidup nyaman. 

Dalam Al-Qur’an surah Al-Imran ayat 180, dijelaskan bahwa mereka yang kikir di hari kiamat kelak harus membawa hartanya dengan mengalungkannya. 

Thoat menegaskan, ada lima cara untuk mengatasi atau mengobati penyakit-penyakit hati ini. 

“Menurut Imam Ibnu Qoyim, ada cara mengatasi penyakit hati yaitu: pertama, membaca Al-Qur’an dan tadabbur (merenungkannya). Kedua, rajin mengosongkan perut (shaum). Ketiga, mendirikan shalat malam (tahajud). Keempat, merendahkan diri di hadapan Allah (dengan do’a dan dzikir). Kelima, bermajelis (bergaul) dengan orang-orang sholeh atau mengikuti kajian-kajian ke Islaman,” paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tiyas Septiana
Survei KG Media
Terbaru