Tokoh

Bisnis sejak kuliah

Jumat, 28 Juni 2019 | 17:58 WIB   Reporter: Fransiska Firlana
Bisnis sejak kuliah

KONTAN.CO.ID - Bisnis otomotif bukan hal baru bagi Ari Utama. Sejak duduk di bangku kuliah, lelaki kelahiran Jakarta, 28 Januari 1976 ini sudah merintis usaha di bidang otomotif. Saya dulu kuliah sembari jualan aksesori mobil, seperti velg, ujar lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Jakarta ini.

Dari situ, usahanya berkembang ke bisnis jual beli mobil bekas. Usahanya itu makin besar, hingga akhirnya Ari bisa memiliki showroom jual beli mobil bekas. Jadi sejak lulus kuliah, saya memang tidak berusaha melamar pekerjaan ke perusahaan, katanya.

Pasalnya, Ari tidak terlalu percaya diri dengan nilainya semasa kuliah. Ia tidak yakin, dengan modal nilai kuliah, ia bisa melamar menjadi karyawan sebuah perusahaan. Akhirnya saya memilih untuk merintis usaha sendiri, ujar Ari yang mengaku lebih banyak main ketika masih kuliah dulu.

Rupanya bisnis showroom mobil bekas tak membuat Ari puas. Ia lantas menjajal bisnis oil trading. Sekitar tahun 1999, ia keliling di kilang-kilang minyak dengan Jeep kesayangannya, mencari proyek. Belum pakai modal waktu itu. Cuma modal mobil dan bensin, katanya.

Pelan tapi pasti, satu per satu, proyek masuk ke tangan Ari. Di situlah, dia merasakan butuh dukungan dana. Dia pun menggandeng saudaranya untuk menyuntikkan modal dengan sistem bagi hasil. Ini memang bukan bisnis keluarga. Bisnis ini benar-benar saya rintis dari nol. Meski orangtua saya bekerja di Pertamina, tapi mereka tidak tahu bisnis saya di bidang migas. Setelah beberapa tahun bisnis migas saya berjalan, mereka baru tahu, ujar lelaki berkacamata itu.

Satu per satu proyek yang masuk, menjadikan rekam jejak pengalaman bisnis Ari semakin panjang. Ia menjadikan ini sebagai modal untuk mengajukan pinjaman ke bank. Bisnisnya pun makin besar. Perusahaan saya di bidang migas, yaitu PT Arnov Energi, masih eksis sampai saat ini. Bisnis itu bisa mengantarkan saya nyemplung lagi ke bisnis otomotif seperti sekarang, katanya.


Editor: Fransiska Firlana


Terbaru