Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Noverius Laoli
Lahir dari keluarga birokrat dan pengusaha di Timor Leste, Joao Angelo De Sousa Mota tumbuh dalam kerasnya dinamika sosial-politik. Anak ketujuh dari delapan bersaudara ini mewarisi darah Portugis, Angola, dan Timor.
Ayahnya, seorang Wedana yang menentang ketidakadilan rezim Portugis, ditahan dan wafat di Angola pada 1976 tanpa pernah diadili. Sementara ibunya, seorang guru, mengakhiri karier sebagai Kepala Kantor Wilayah Depdikbud.
“Sejak usia lima tahun saya sudah akrab dengan pelarian, bom, dan serpihan granat di tubuh saya. Kami hidup dari kebun, buah tinggal petik,” kenangnya saat berbincang dengan KONTAN.
Baca Juga: Simpanan Nasabah Kaya di Perbankan Tumbuh Tipis hingga April 2025
Tahun 1989, Joao hijrah ke Jakarta melalui program beasiswa dan menempuh pendidikan SMA di Cijantung. Meski gagal dua kali masuk Akademi Militer, semangatnya tidak padam.
Ia menyalurkan energi lewat pencak silat, bahkan pernah mewakili Cimahi di Pra-PON.
“Saya sempat berpikir silat adalah jalan hidup saya, sampai kalah terus dari juara SEA Games,” ujarnya sambil tertawa.
Joao kemudian melanjutkan studi hukum di Universitas Nasional (UNAS). Hobinya membaca membuatnya terbiasa menamatkan hingga 100 buku dalam setahun.
Baca Juga: Aset Kantor Cabang Luar Negeri BNI Tumbuh 7% hingga Kuartal II-2025
Beasiswa membawanya ke luar negeri, mulai dari Selandia Baru, Amerika Serikat, hingga Meksiko. Di sanalah ia bersentuhan dengan realitas keras, tinggal bersama pengacara kartel narkoba yang nyaris menyeretnya jadi “guard.”
“Untung saya sadar, itu bukan jalan saya,” katanya.
Meniti Usaha Konstruksi dan Properti
Sekembalinya ke tanah air, Joao sempat mengajar bahasa Spanyol sebelum bekerja di kapal pesiar. Setelah kontrak berakhir, ia membangun bisnis konstruksi dan outsourcing yang berkembang pesat, memasok tenaga kerja ke berbagai BUMN serta menangani perawatan gedung.
“Kontrak Rp 1 miliar pertama saya terasa luar biasa,” ungkapnya.
Setelah itu, ia merambah properti kecil-kecilan seperti kos-kosan dan cluster rumah. Namun, 72 pintu kos yang ia kelola justru membuatnya jenuh.
“Lebih melelahkan daripada mengurus anak. Saya pilih jual, lalu re-invest,” ujarnya.
Baca Juga: Pendapatan Premi MSIG Life Tumbuh 29% hingga Mei 2025
Meski mapan di dunia konstruksi, Joao tak pernah meninggalkan kecintaannya pada kebun. Baginya, bertani adalah jati diri. Di NTT, ia mengelola 200 hektare lahan: 150 hektare tanaman keras, sisanya padi dan hortikultura.
“Hidup saya dibentuk dari kebun. Dari kecil, saya mengerti bagaimana tanam dan panen,” jelasnya.
Ia pun mendirikan pelatihan pertanian swadaya di lahannya, melatih ribuan petani dan siswa SMK untuk bertani secara alami dan mandiri. Dedikasi itu membawanya ditunjuk Presiden sebagai Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, perusahaan agribisnis pelat merah.