Komunitas pegiat mendaki Whatravel galakkan konsep pengurangan risiko pada traveler

Minggu, 07 November 2021 | 23:15 WIB   Reporter: Noverius Laoli
Komunitas pegiat mendaki Whatravel galakkan konsep pengurangan risiko pada traveler

ILUSTRASI. Siluet puncak Gunung Rinjani terlihat jelas saat matahari terbit dari Kota Mataram, NTB, Sabtu (14/8/2021). Komunitas pegiat mendaki Whatravel galakkan konsep pengurangan risiko pada traveler.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Komunitas Pegiat Mendaki Whatravel Trekking Community menggelar silaturahmi untuk mempopulerkan kegiatan trekking sebagai alternatif wisata di masa pandemi. 

Founder Whatravel M. Arif Rahman mengatakan terdapat perubahan tren wisata saat pandemi Covid-19, wisatawan mulai beralih dari mass tourism, menjadi special interest tourism seperti staycation, voluntourism, virtual tourism, road trip, dan wisata alam.

“Wisata alam menjadi tren populer yang digemari masyarakat dalam kondisi new normal. Khususnya wisata alam yang berbasis petualangan seperti trekking, snorkeling, diving, hiking, dan sebagainya, karena wisata alam yang bersifat outdoor memberikan wisatawan keleluasaan lebih untuk menerapkan physical distancing.” ujarnya dalam keterangannya, Minggu (7/11).

Menurutnya saat ini wisata curug atau trekking menuju air terjun menjadi daya tarik tersendiri, selain lokasi yang tidak begitu jauh dari Jakarta, masyarakat pun tidak perlu merogoh kocek yang dalam karena biayanya sangat terjangkau dan sudah banyak pilihan agen travel dengan pendampingan guide yang handal yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan para traveler. 

Baca Juga: Komunitas Mandalawangi berkolaborasi gelar vaksinasi masyarakat kaki gunung

Dalam acara ini turut hadir Ketua Umum Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) Ariyo Bimmo yang menyampaikan tentang konsep pengurangan bahaya (harm reduction) yang erat relevansinya dengan aktivitas jelajah alam bebas, maupun kegiatan sehari-hari. 

“Pendekatan harm reduction dekat dengan kehidupan kita. Khususnya saat traveling, kita perlu mengurangi bahaya terhadap lingkungan, kualitas udara, dan kenyamanan orang di sekeliling kita,” ujarnya.

Salah satu contohnya ialah pengurangan bahaya terkait dengan kebiasaan merokok. Akibat dibakar, rokok menghasilkan asap mengandung TAR yang berisiko terhadap kesehatan, mencemari udara dan lingkungan, bahkan dapat mengganggu orang lain di sekeliling traveler atau pendaki. 

Ia melanjutkan, daripada merokok, penggunaan produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik, produk tembakau dipanaskan, dan bisa mengurangi bahaya mencemari lingkungan. 

"Saat merokok, puntung rokok yang dibuang sembarangan dapat berisiko kebakaran. Di sisi lain, produk tembakau alternatif tidak dibakar sehingga tidak ada bara api serta tidak menghasilkan asap, melainkan uap,” terangnya.

Baca Juga: 5 Gunung tertinggi di dunia

Inovasi dalam beberapa tahun terakhir telah berhasil mengembangkan produk tembakau alternatif, yang telah dibuktikan oleh riset ilmiah, memiliki risiko terhadap kesehatan jauh lebih rendah daripada rokok. 

“Kenapa mengurangi risiko terhadap kesehatan, karena produk tembakau alternatif ini tidak dibakar. Misal, produk tembakau yang dipanaskan ini memanaskan tembakau, sehingga dapat mengurangi paparan zat bahaya hingga lebih dari 90% dibandingkan dengan rokok. Maka, produk ini dapat menjadi opsi bagi perokok yang ingin terus mendapatkan nikotin, tapi mau mengurangi bahaya bagi kesehatan dan lingkungan,” terang Bimmo. 

Ia menyampaikan bahwa biarpun menyebabkan ketergantungan, tapi nikotin bukan penyebab utama penyakit terkait merokok. 

Anggota komunitas Milly Shafiq turut mengamini pemaparan Ariyo. Milly menyampaikan bahwa harm reduction lewat produk tembakau alternatif bisa mengurangi bahaya pada rokok. Oleh karena itu, Milly menyayangkan masih banyak wisatawan perokok yang tidak mengindahkan kenyamanan pengunjung lain pada saat trekking. 

Selain asapnya mengganggu pengunjung lain, bahaya bara api juga bisa menyebabkan kebakaran hutan, dan puntung yang dibuang sembarangan bisa mencemari lingkungan.

Selanjutnya: Pesona 7 gunung tertinggi di film Negeri Dongeng

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli

Terbaru