Kopai Osing, Kopi Khas Banyuwangi yang Sarat Ornamen Budaya

Selasa, 15 November 2022 | 10:00 WIB   Reporter: Rizki Caturini
Kopai Osing, Kopi Khas Banyuwangi yang Sarat Ornamen Budaya

ILUSTRASI.


KONTAN.CO.ID - Kopi menjadi salah satu daya tarik wisata Banyuwangi, selain berbagai destinasi wisata alam yang semakin populer di kalangan wisatawan lokal maupun asing. Jadi akan semakin istimewa jika Anda menyempatkan waktu menikmati senja di Banyuwangi dengan secangkir kopi khas kabupaten yang dijuluki Sunrise of Java itu.  

Kopai Osing boleh jadi berada di daftar teratas kedai kopi yang perlu disambangi bagi para pecinta kopi. Dalam bahasa suku Osing sebagai suku asli Banyuwangi, kopi disebut kopai. Suku Osing menyebut kata dalam Bahasa Indonesia yang berakhiran "i" dengan "ai". 

Kembali ke Kopai Osing, kenapa tempat ini menjadi istimewa? Karena tak hanya penyuka kopi yang akan dimanjakan oleh suguhan secangkir kopi nikmat. Anda yang ingin merasakan suasana desa adat Osing di masa lampau, juga ada di tempat ini. Di kedai Kopai Osing bernama Sanggar Genjah Arum. 

Tempat ini milik Iwan Subekti, sang tester dan peracik kopi andalan Banyuwangi yang sudah melanglang buana ke berbagai negara di dunia. Ia telah menyambangi Amerika Serikat (AS), Brasil dan banyak negara di Asia Tenggara sebagai juri kopi. 

Iwan Subekti, pemilik kedai Kopai Osing Banyuwangi

Sebagai orang asli Banyuwangi, Iwan ingin tak hanya kopi yang menjadi keahliannya, yang dilihat oleh dunia. Tapi juga budaya Osing perlu dikenal dan terus dilestarikan. Itu sebabnya, Iwan memiliki perhatian begitu besar pada budaya lokal.  

Terletak di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, pengunjung diajak menyusuri potret kehidupan masyarakat Osing dengan bangunan rumah Osing asli yang ia kumpulkan di lahan seluas sekitar 7.000 meter persegi.

"Rumah-rumah ini tidak menggunakan paku tapi menggunakan pasak dan sistem knock down. Tiap bagian dari rumah ini ada filosofinya," ujar Iwan.   

Baca Juga: Jadi Tuan Rumah IFRC, Bumi Suksesindo BSI Dukung Pariwisata Banyuwangi

Pengunjung juga akan dimanjakan oleh lantunan irama para penumbuk padi yang mengenakan jarit, musik dan tarian khas Banyuwangi. Kampung Osing mini ini juga sarat dengan berbagai ornamen tradisonal yang memenuhi sudut rumah. 

Sanggar Genjah Arum - Kopai Osing Banyuwangi

Ngopi pun terasa makin nikmat ditemani jajanan pasar tradisional seperti tempe goreng, tahu goreng, pisang goreng, kue cucur hangat yang langsung di masak di tempat oleh warga setempat. 

Iwan menggadang tagline "Sekali Seduh Kita Bersaudara" untuk kopi miliknya. Ia ingin kopi buatannya bisa dinimati semua orang. Dari yang tidak suka kopi sampai penikmat kopi, akan menyukai kopi buatannya. 

Pria ini memiliki asa besar terhadap bagaimana cara pandang masyarakat umum terhadap kopi. Ia ingin menyebarluaskan cara penyajian kopi yang benar. "Kopi itu bukan hitam dan pahit tapi kopi itu nikmat," kata dia.  
 
Begitu terasa seberapa banyak pengetahuan dan kecintaannya terhadap kopi. Dia memberdayakan petani kopi setempat untuk bisa menanam dan mengolah biji kopi yang tepat. Teknik menyangrai hingga menyeduh kopi dia kuasai dan diajarkan kepada warga sekitar.

Baca Juga: Pariwisata Kembali Berjaya, tiket.com & Kemenparekraf Rayakan World Tourism Day 2022

Salah satu sarannya, seduh kopi mengarah berlawanan dengan jarum jam dengan air panas yang baru saja mendidih. 

Sebagai pegiat kopi, Iwan juga mempersiapkan kopi masa depan dalam rangka menghadapi perubahan iklim global. Yakni kopi liberika Banyuwangi. Karena tanaman kopi ini termasuk bandel. Daging buahnya tebal dan tahan hama, meski hasil rendemannya rendah.  

Dia bilang, jangan pernah takut minum kopi. Yang nyata, usaha Iwan untuk mengangkat kopi khas Banyuwangi ke pentas dunia akan terus bergelora, sebesar kecintaannya pada budaya leluhur yang tampak pada miniatur desa Osing miliknya itu. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini

Terbaru