Wisata

Mengenal tradisi Suku Sasak di Desa Ende Lombok

Sabtu, 29 Desember 2018 | 15:16 WIB   Reporter: Ferrika Sari
Mengenal tradisi Suku Sasak di Desa Ende Lombok

ILUSTRASI. Dusun Sasak Ende Lombok di Desa Sengkol

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Siapa yang tidak mengenal Lombok? Pulau yang terletak di Nusa Tenggara dianugrahi oleh keindahan alam yang menjadi incaran wisatawan asing, seperti pantai Kuta dan pantai Tanjung Aan yang terletak di Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Kedua pantai itu menyajikan pemandangan laut biru yang jernih dengan deburan ombak yang menenangkan. Di sekeliling pantai, ada lapak-lapak bagi turis untuk beristirahat dan menikmati jajanan khas Lombok. Bahkan, anak-anak penduduk lokal tak segan memberikan jasa foto yang intagramable kepada turis.

Namun, tak hanya keindahan pantai, ternyata Lombok juga kaya akan tradisi yang masih terawat hingga saat ini. Salah satunya, Dusun Sasak Ende Lombok di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Ini merupakan sebuah kampung yang dihuni oleh 37 kepala keluarga Suku Sasak.

Menariknya, masyarakat Sasak masih menjunjung tinggi nilai dan adat istiadat di tengah gempuran teknologi. Mereka menempati rumah adat yang masih tradisional, di mana seluruh material bangunan rumah terbuat dari alam. Begitu tradisionalnya, maka jangan harap Anda akan menemukan peralatan elektronik di rumah mereka.

Untuk atapnya saja, menggunakan anyaman alang-alang dan bambu yang dirajut sehingga bisa bertahan sampai tujuh tahun.

Sementara lantai rumah di Desa Wisata Ende menggunakan tanah liat. Penggunaan tanah liat ini karena mayoritas masyarakat di sana memeluk agama islam dan percaya bahwa manusia terbuat dari tanah.

Uniknya, lantai tanah liat telah dilumuri semen merek empat kaki alias dari kotoran sapi atau kerbau. Pemandu wisata bernama Husein menjelaskan, penggunaan kotoran ternak ini berfungsi merekatkan tanah liat agar tidak mudah retak.

Selain itu kotoran tersebut dipercaya sebagai simbol kerja keras petani. Karena sebagai besar masyarakat Sasak Ende hidup sebagai petani dan peternak.

Mereka juga mempunyai tradisi yang tidak biasa. Pasangan suami istri diharuskan tidur terpisah, perempuan tidur di dalam, sementara laki-laki di luar rumah.

Editor: Yudho Winarto


Terbaru