Penderita diabetes Indonesia terbanyak kelima, kenali penyakit ini lewat chatbot WA

Sabtu, 04 Desember 2021 | 14:26 WIB   Reporter: Ahmad Febrian
Penderita diabetes Indonesia terbanyak kelima, kenali penyakit ini lewat chatbot WA

ILUSTRASI. Petugas Novo Nordisk Indonesia mengecek kadar gula dalam darah warga dalam layanan gratis memperingati Hari Diabetes Sedunia. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Diabetes merupakan penyakit kronis yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Secara global, diperkirakan terdapat 537 juta penderita diabetes.

Dengan jumlah tersebut, kurang lebih 1 dari 10 orang di seluruh dunia hidup dengan diabetes. Angka ini diproyeksikan akan meningkat menjadi 643 juta pada tahun 2030 dan 784 juta pada tahun 2045 apabila tidak dilakukan tindakan intervensi.

Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB Perkeni), Ketut Suastika mengatakan, jumlah penderita diabetes di Indonesia terus meningkat dari 10,7 juta pada tahun 2019 menjadi 19,5 juta pada tahun 2021. 

“Tahun ini, Indonesia menduduki peringkat kelima dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia, naik dari peringkat ketujuh di tahun 2019. Peningkatan ini sangatlah memprihatinkan," kata Ketut, dalam rilis yang diterima Kontan.co.id, Sabtu (4/12). 

Maka, Novo Nordisk Indonesia bersama Perkeni dan Kementerian Kesehatan mengembangkan TanyaGendis. Ini adalah sebuah chatbot WhatsApp yang menyediakan berbagai informasi mengenai diabetes dan membantu masyarakat memahami risiko diabetes masing-masing. 

Vice President & General Manager Novo Nordisk Indonesia, Anand Shetty mengatakan, penyebaran informasi melalui berbagai platform merupakan strategi meningkatkan kesehatan dengan memanfaatkan teknologi digital. “Informasi yang tersedia dalam chatbot maupun alur cerita dalam iklan layanan masyarakat akan mendorong gaya hidup yang lebih sehat dan mengedukasi masyarakat agar mampu menilai risiko diabetes secara mandiri,” terang Anand. 

Selanjutnya: Amerika Serikat sebut keberadaan militer Rusia di perbatasan Ukraina mengancam

Editor: Ahmad Febrian
Terbaru