Tarot, Permainan yang Tetap Menawan

Minggu, 17 Mei 2009 | 08:18 WIB   Reporter: Aprillia Ika

tarot2SIAPA tak kenal peramal kenamaan Mama Lauren? Saban akhir tahun, ramalannya banyak ditunggu orang. Soalnya, Mama Lauren kerap meramalkan terjadinya bencana seperti tsunami, banjir, gempa, dan sebagainya. Tahukah Anda bahwa Mama Lauren meramal menggunakan media kartu tarot? Apa, sih, kartu tarot? Kartu tarot tak ubahnya kartu untuk main remi. Hanya, berbeda dengan gambar pada kartu remi ataupun kartu gaple, di kartu tarot terdapat gambar perlambang kejadian dan peruntungan yang akan dilalui seseorang atau sesuatu. Kabarnya, kebenaran ramalan kartu tarot tersebut sampai 90%. Tak heran jika banyak orang yang suka diramal dengan kartu tarot. Permainan tarot ini, konon, sudah ada sejak zaman Nabi Musa. Lalu, permainan ini terbawa sampai ke negeri Israel dan berkembang pesat di sana. Pada saat perang Salib, permainan ini turut hijrah ke Eropa, dan sangat berkembang terutama di Italia pada abad ke-14. Di Italia, permainan tarot lebih populer di kalangan kaum gipsi. Tarot masuk ke Indonesia pada masa pendudukan Belanda. Rupanya, di kala senggang ada segelintir orang Eropa gemar berkumpul dan mengajarkan permainan ini ke penduduk lokal. Aliran permainan tarot yang masuk dan berkembang di Indonesia adalah aliran Waite. Waite adalah seorang pewacana tarot yang menggubah kartu tarot kuno yang asli jumlahnya ada 970 jenis kartu menjadi hanya 470 jenis kartu. Kartu tarot aliran Waite ini sangat populer, karena mudah dipahami dan dipelajari. Meski begitu, selama puluhan tahun mayoritas penduduk Indonesia masih asing dengan tarot. Metode meramal ini baru naik daun setelah terbit buku bertajuk Bunga Rampai Wacana Tarot, serta munculnya Tarot Wayang Indonesia tahun 2002. Tarot wayang merupakan permainan tarot bernuansa budaya lokal, yaitu memakai simbol-simbol tokoh wayang. Sejak tahun 2002 itulah komunitas pewacana tarot bertumbuh bak cendawan di musim hujan. Bukan cenayang Salah satu perkumpulan yang ada adalah Padepokan Tarot Indonesia. Padepokan ini didirikan oleh Ani Sekarningsih, seorang pewacana tarot yang mendapat gelar dan ijazah resmi sebagai pewacana tarot dari Asosiasi Tarot Amerika. Ani-lah yang membuat kartu tarot wayang dengan bantuan tiga orang dalang. Ani berpendapat, tarot bukanlah dunia cenayang seperti yang dituduhkan banyak orang, melainkan dunia yang penuh pertimbangan rasional. Itu sebabnya, ia lantas mendirikan Padepokan Tarot Indonesia untuk membantu orang Indonesia memahami tarot. “Tarot lebih mudah dipelajari sebagai bagian dari disiplin ilmu,” ujar Ani yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Lebih lanjut, menurut Ani, semakin baik orang mengenal tarot, jiwanya akan semakin arif. Seperti apa penampilan para pewacana tarot ini? Tentu saja, mereka tidak berdandan bak peramal gipsi di pasar malam seperti dalam film barat. Mereka tidak menggunakan sorban penutup kepala plus anting-anting bundar dari besi. “Komunitas kami enggak ribet, kok! Enggak ada guru atau murid, enggak juga harus berpakaian ala gipsi,” gelak Ani. Ani mengaku geli mendengar betapa seringnya tarot dikaitkan dengan gipsi. Malah, menurut Ani, pewacana tarot yang berpenampilan aneh ada kalanya karena kurang percaya diri, atau baru belajar sebatas manual di setiap kemasan kartu. “Mereka juga ingin cepat terkenal,” lanjut Ani. Coba tengok komunitas pembaca tarot lain bernama Magus. Magus dalam artian bahasa Latin adalah magician. Komunitas ini sering kumpul-kumpul setiap hari Sabtu di Darmint Cafe, Pasar Festival Kuningan, bukan dengan jubah hitam dan bola kaca. Penampilan mereka, ya, lazimnya anak muda biasa. Saat ini, Magus punya anggota 15 orang. “Magus justru ingin mengikis kesan klenik yang melekat pada tukang ramal,” ujar Priatna Ahmad Budiman, salah seorang pendiri Magus. Menurut penuturan Priatna, Magus juga aktif berkomunikasi dengan berbagai komunitas pembaca tarot lain. “Gaya pembacaan kartu yang berbeda-beda membuat pengetahuan kami makin kaya,” ungkap Priatna. Jika Anda tertarik untuk jadi pewacana tarot, Magus tak pelit berbagi ilmu. “Ideologi kami sejak awal adalah terbuka untuk berbagi,” imbuh Priatna serius. Perkumpulan lain yang baru saja terbentuk di daerah Semarang, Jawa Tengah, adalah Komunitas Pewacana Tarot Saraswati. Komunitas ini baru terbentuk bulan Desember tahun 2007. “Padahal ajang kumpul-kumpulnya sudah lama,” cetus Cesar Indrawan, salah seorang pendiri komunitas. Saat ini, anggota aktif Saraswati mencapai 22 orang dan rata-rata adalah pekerja. Sebulan sekali para anggota berkumpul, untuk saling bertukar ilmu. Dikisahkan Cesar, ada banyak pewacana tarot yang dengan sedikit teknik telah berani meminta bayaran mahal kepada kliennya. Tak ayal, reputasi pewacana dan permainan tarot pun sering dicap bohong. “Kasihan kliennya, sudah bayar mahal-mahal kok dibohongi,” lanjut Cesar, yang kerap dipanggil Ki Srondhol ini. Maka, para pewacana tarot Semarang pun bikin komunitas agar mereka bisa saling menularkan ilmu. Tanpa bantuan klenik Nah, kalau Anda mau tahu, yang namanya memainkan kartu tarot sama sekali tidak mensyaratkan ritual khusus seperti puasa atau semedi ke tempat keramat, agar mendapat ilmu membaca tarot. Hanya, menurut Ani, ia menganjurkan pewacana tarot untuk bermeditasi sekitar limabelas menit saban hari. Bukan apa-apa, karena dengan itu pewacana tarot bisa lebih berkonsentrasi untuk membaca tebaran kartu. Anda tidak perlu minta bantuan makhluk halus karena menurut Caesar, sebenarnya membaca kartu tarot relatif mudah. “Misal, kartu queen of cap, itu artinya wanita lembut yang emosional. Ketika muncul kartu itu, ya mungkin si klien sedang ada masalah dengan seorang wanita yang lembut tapi emosional,” ungkap Ki Srondhol van Semarang ini. Selain itu, ada pula teknik elemen, numerologi, dan teknik astrologi untuk tarot. Sayangnya, karena teknik astrologi didasarkan pada perhitungan musim di Barat, hasil ramalan menggunakan teknik ini kurang cocok untuk Indonesia. Jika ingin fasih bermain tarot, belajarlah minimal selama dua hari, masing-masing selama empat jam seperti dipraktekkan Padepokan Tarot Indonesia. Atau, bisa juga selama enam sampai delapan kali pertemuan dengan durasi masing-masing selama 1,5 jam seperti yang dipraktekkan komunitas Saraswati. Selain itu, diakui banyak pewacana, belajar tarot tidak sekadar menghafal statistik dan kata kunci semata. “Hal terpenting adalah menguasai ilmu psikologi,” tutur Ani. Maklum, kalau sedikit saja ada pembacaan yang salah, bisa menyinggung perasaan si klien. “Dalam komunitas inilah saya belajar bagaimana berkomunikasi dan mengenal watak klien dengan cepat,” lanjut Cesar. tarotAda kalanya tabiat klien berbeda-beda. Misal, orang Jakarta lebih suka jika pewacana tarot mengungkapkan isi ramalan secara apa adanya. Sedang kalau dengan orang Semarang, harus lebih halus membacakannya. “Makanya, mewacanakan tarot pun harus ada etikanya,” tutur Ridwan Yanova Harman, anggota Padepokan Tarot Indonesia. Selain itu, Ridwan menganjurkan bagi pewacana tarot agar rajin mengasah intuisi. Salah satunya dengan tafakur. Kebetulan saat ini Ridwan juga sibuk sebagai guru di Yayasan Supranatural Indonesia. “Hal itu membantu sekali, tapi benar-benar tidak ada unsur jin atau sihir. Hanya tafakur,” lanjutRidwan meyakinkan. Kebanyakan penyuka ramalan tarot adalah wanita atau pekerja. “Klien saya 60% adalah wanita dan pekerja. Sedang 40% lainnya pria pekerja,” kata Caesar yang merupakan karyawan sebuah perusahaan swasta ini. Menurutnya, hal tersebut terjadi karena kesalahan pendidikan di Indonesia yang membuat wanita selalu bergantung pada pihak lain. Adapun pertanyaan mengenai jodoh dan peruntungan merupakan hal yang paling sering ditanyakan oleh para klien. Hanya, kerap kali pewacana tarot malah jadi grogi karena diberondong pertanyaan seperti jodoh saya siapa, orang mana, warna kulitnya apa, orang bule atau Asia, pekerjaannya apa, kapan saya menikah, dan sebagainya. Menurut Caesar, jika klien memberondong dengan pertanyaan itu, justru mereka tidak mengenali keinginan mereka sendiri dan tidak merencanakan masa depan. “Kami ini bukan dukun super yang tahu segalanya tentang klien, tetapi dari gerak-gerik klienlah kami tahu bagaimana wataknya,” ungkap Cesar. Untuk mengantisipasi watak yang berbeda-beda ini, Ridwan sering meramal dengan kartu tarot yang berbeda pula untuk setiap pasiennya. “Sering pasiennya nebak-nebak sendiri arti gambaran yang ada. Saya, sih, senyum-senyum aja,” timpalnya enteng.

Menyalahi Aturan Tuhan? SAMPAI SAAT ini, hambatan terbesar perkembangan komunitas tarot adalah pandangan bahwa kegiatan meramal menyalahi aturan Tuhan. Padahal, kartu tarot juga tidak bisa dipisahkan dari kegiatan ramal-meramal. Sebagian khalayak bahkan menganggap permainan tarot diciptakan oleh setan, sehingga dicap aliran sesat. Merunut ke belakang, hambatan seperti ini sebenarnya sudah terjadi sejak beratus tahun lalu. Pada abad ke-14, perkembangan tarot sempat terhambat gara-gara Gereja Katolik dan pemerintah daerah di Eropa memberangus perjudian dan permainan kartu. Tarot ketiban apes, karena tergolong permainan kartu. Itu sebabnya, tarot lantas berkembang di kalangan gipsi yang hidupnya nomaden dan marginal di masyarakat. Hal yang sama terjadi di Indonesia. Kartu tarot tidak lepas dari stigma negatif seperti dosa dan klenik. Akibatnya, praktek tarot dan pembelajaran tarot pernah harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. “Padahal, tarot itu sangat rasional,” ujar Ridwan Yanova Harman, guru Yayasan Supranatural Indonesia yang anggota Padepokan Tarot Indonesia. Pernyataan ini diamini oleh Ani Sekarningsih, dosen Fakultas Psikologi UI yang juga seorang pewacana tarot. “Kalau ada gerai pewacana tarot dibikin mistis, itu kan hanya untuk menarik klien saja!” kata Ani. Cesar Indrawan, seorang pemerhati budaya, yang kerap dipanggil Ki Srondhol, menganalogikan ramalan tarot layaknya ramalan cuaca. Kalau kartu tarot diibaratkan satelit cuaca yang mendeteksi adanya mendung dengan gumpalan awan yang mengandung elektron tinggi, kesimpulannya akan datang hujan. Jika gejalanya berubah, otomatis kesimpulannya pun berubah. Begitu pula dengan pembacaan kartu tarot. “Ya mau dibilang apa; apakah itu ramalan, prediksi, prakiraan, ya terserah. Karena yang saya lihat itu gejalanya,” ujarnya pasrah. Selain itu, jika kartu tarot sedemikian sakti, kata kunci dari setiap kartu tidak mungkin berubah. Nyatanya tidak demikian. Kartu the death, misalnya, pada masa lampau dianalogikan si klien akan mati. Tapi, sekarang artinya berubah jadi kesialan atau berhentinya satu tahapan kehidupan si penanya. “Misal, berhenti dari pekerjaan,” lanjut Cesar. Nah, percaya atau tidak, sepenuhnya terserah Anda.

Editor: Test Test


Terbaru