HOME | Wisata |

JEPANG

Agar tak malu, ini 6 etika saat liburan ke Jepang

oleh : Rizki Caturini | Minggu, 23 April 2017 | 19:52 WIB

Agar tak malu, ini 6 etika saat liburan ke Jepang

JAKARTA. Pribahasa berbunyi: di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung" bisa menjadi pedoman bagi wisatawan saat berkunjung ke negara atau tempat manapun. Salah satunya adalah saat berkunjung ke Jepang. Negara ini dikenal sebagai negara yang disiplin dan bersih. Hal ini dapat dilihat dari keseharian warga Jepang dalam menjalani kehidupan.

Oleh karena itu, wisatawan yang berkunjung ke Jepang diharapkan dapat berlaku hal yang sama. Ada beberapa peraturan dan kebiasaan yang harus dipatuhi. Berikut rangkuman beberapa etika yang perlu diperhatikan wisatawan saat berkunjung ke Jepang.

1. Etika membuang sampah

Masyarakat Jepang memperhatikan sampah yang mereka buang. Ada beberapa kategori sampah yang dibedakan di Jepang, misalnya sampah plastik, sampah kertas, sampah kaca, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, selain membuang sampah pada tempat sampah, jika berkunjung ke Jepang Anda harus membuangnya ke tempat sampah sesuai kategori sampah yang akan Anda buang. Misalnya sampah plastik dibuang di tempat sampah khusus plastik.

Selain itu terdapat jadwal pembuangan sampah yang berbeda-beda di setiap daerah. Oleh karena itu setiap pemilik rumah harus membuang sampah dengan kategori tertentu pada hari tertentu pula, misalnya sampah plastik diangkut oleh petugas pada hari Senin dan seterusnya.

Masyarakat Jepang juga terbiasa membawa kantung sampah sendiri. Sehingga bila di perjalanan dan tidak menemukan ada tong sampah, mereka akan menyimpan sampah tersebut di kantung sampah terlebih dahulu dan ditaruh di tas.

2. Etika menyeberang

Setiap orang harus menyeberang di tempat yang sudah ditentukan, yakni zebra cross. Di setiap zebra cross biasanya ada lampu khusus menyeberang. Ikutilah tanda dari lampu tersebut.

Meskipun jalanan kosong dan lampu tanda menyeberang masih merah, jangan sekali-sekali nekat melanggar. Karena di setiap sudut kota biasanya ada kamera CCTV dan Anda akan dianggap melanggar peraturan.

3. Etika di dalam transportasi umum

Ketika sedang menaiki transportasi umum di Indonesia, sering kali kita bisa mendengar orang lain yang tengah mengobrol. Hal tersebut tidak akan Anda temui di Jepang, karena ada peraturan untuk tidak membuat gaduh di dalam transportasi umum.

Ada baiknya pula Anda mengaktifkan mode silent pada telepon genggam Anda dan jangan mengangkat telepon pada saat menaiki transportasi umum. Kabarnya peraturan ini dibuat untuk menghormati para orang tua yang terkadang membutuhkan suasana tenang.

4. Etika pada saat di tangga jalan atau eskalator

Tak hanya etika menyeberang, Jepang juga menerapkan peraturan penggunaan tangga jalan atau eskalator. Ketika Anda berada di wilayah Kanto (Tokyo), Anda diwajibkan untuk berdiri di di sebelah kiri. Sementara itu, sebelah kanan digunakan untuk menyalip atau yang sedang terburu-buru.

Hal ini berbeda ketika Anda berada di Osaka. Di Osaka, Anda harus berdiri di sebelah kanan pada saat di eskalator. Sedangkan bagian kiri digunakan untuk menyalip atau sedang terburu-buru.

5. Dilarang menyentuh bunga Sakura

Bunga sakura hanya mekar selama dua minggu dalam tiap tahunnya. Oleh karena itu, orang Jepang sangat menghargai dan mengagumi bunga Sakura.

Salah satu cara orang Jepang untuk menghargai bunga sakura adalah dengan tidak menyentuhnya atau mematahkan tangkai dan batang dari pohon Sakura. Bila Anda melanggar peraturan ini, siap-siap Anda akan masuk ke beberapa media di Jepang.

6. Membereskan alat makan di tempat makan umum

Di Indonesia yang hampir semua restoran dan warung makan mempunyai karyawan atau pelayan yang akan membersihkan alat makan dan sisa makan setelah pelanggan menyelesaikan santapannya.

Berbeda dengan hal itu, di Jepang terutama di kedai makanan ramen dan udon, kantin, atau makanan cepat saji, tidak ada pelayan atau karyawan yang membereskan alat makan. Jadi pelanggan harus membereskan sendiri sisa makan dan alat makan. 

Buang sisa makan di tempat sampah yang tersedia. Sementara baki dan peralatan makan ditaruh di tempat khusus untuk alat makan yang sudah dipakai.

Sebelumnya, salah satu warga Indonesia, Tyas Palar, menulis status di halaman Facebook miliknya tentang kelakuan turis Indonesia di Jepang yang tidak patut dilakukan. Dalam beberapa hari, tulisan itu pun viral.

Salah satu paragraf yang menjadi perhatian khusus adalah tentang rombongan turis Indonesia yang meninggalkan meja makan dalam keadaan kotor.

“Salah satu rombongan turis itu telah pergi, menyisakan meja yang berantakan seperti yang saya foto.,,, Mungkin mereka berpikir ini seperti di Indonesia, akan ada pelayan atau petugas yang membersihkan. Padahal tidak ada,” tulisnya di halaman Facebook milik Tyas yang sedang studi di Jepang ini.

(ALek Kurniawan)

Sumber Kompas.com