HOME | Rendezvous |

INVESTASI ALTERNATIF

Benarkah minat seni kontemporer tengah turun?

oleh : Tane Hadiyantono | Jumat, 17 November 2017 | 20:42 WIB

Benarkah minat seni kontemporer tengah turun?

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah pengamat dan pelaku industri seni melihat tantangan dalam seni kontemporer. Minat pembeli biasanya condong pada lukisan dengan nilai sejarah dibandingkan guratan modern para seniman abad ke 20.

Namun seharusnya pembelian karya seni tidak hanya melihat nilai sejarah dan motivasi investasi semata, namun juga ke apresiasi pada seni tersebut.

Dalam halnya melakukan kurasi dan penawaran karya seni pada pelanggan, Edwin Rahardjo, Ketua Asosiasi Galeri Seni Rupa Indonesia (AGSI) menyatakan sangat penting bagi calon pembeli seni untuk memiliki kemampuan apresiasi dan pengalaman seni.

Pasalnya, akan sayang sekali bila lukisan yang dibeli tidak dapat memberikan nilai tambahan selain motivasi finansial untuk dijual kembali. "Saya tidak pernah menyarankan orang untuk berinvestasi tapi saya menyarankan orang untuk beli dan menikmati seninya," kata Edwin, Jumat (17/11).

Menurut Edwin, bukan berarti karya seni kontemporer tidak bagus, namun disiplin dan jaringan yang tidak terbentuk cenderung menggerus para seniman-seniman kontemporer muda Indonesia.

"Seni kontemporer sedang agak turun daun dibandingkan seni klasik karena banyak yang menghilang," jelas Edwin.

Namun Edwin terus optimistis terhadap pergerakan kontemporer karena seni selalu menyajikan hal yang baru. "Di galeri saya banyaknya kontemporer karena saya lihat yang namanya seniman ini pasti banyak pembaruannya," jelasnya.

Selain sebagai Ketua AGSI, Edwin juga memiliki Edwin's Gallery yang terletang di bilangan Kemang Raya memiliki karya kontemporer seperti Heri Dono, Nyoman Masriadi dan Sigit Santoso. Namun ada juga karya para modernis seperti S. Sudjojono, Mochtar Apin, Affandi dan Srihadi Soedarsono.