HOME | Kedai |

LAKSA ASIROT

Godaan Laksa Betawi Asirot yang kuahnya jawara

oleh : Danielisa Putriadita | Sabtu, 28 Januari 2017 | 10:00 WIB

Godaan Laksa Betawi Asirot yang kuahnya jawara

Buat pembeli yang baru pertama kali mampir ke kedai ini, mungkin akan bertanya-tanya: benarkah bangunan di Jalan Asirot Nomor 2 Sukabumi Selatan, Jakarta Barat, itu adalah Laksa Betawi Asirot.

Kok? Bangunannya tidak mirip kedai sama sekali. Lebih menyerupai rumah tinggal biasa.

Begitu masuk kedai berkelir hijau ini, Anda akan langsung merasakan suasana bertamu di rumah orang betawi. Maklum, kedai yang berdiri 1978 silam itu menjadi satu dengan tempat tinggal sang pemilik.

Oh, iya, mulut Jalan Asirot terletak di Jalan Kebayoran Lama. Kalau Anda datang dari Pasar Kebayoran Lama, Jalan Asirot ada di kiri jalan.

Kedai milik Hajah Muroni ini buka saban hari, dari jam 10 pagi sampai 9 malam. Praktiknya, kedai yang sanggup menampung 24 pengunjung itu sering tutup lebih awal, sore hari, lantaran seluruh dagangannya ludes terjual.

Jadi, Anda tahu, kan, kapan harus datang ke Laksa Betawi Asirot.

Dan, kekuatan laksa betawi racikan Hajah Muroni ada di kuahnya yang kaya rempah. Sesuai namanya, laksa yang diambil dari bahasa Sanskerta, Laksha, memiliki arti: banyak. Ini sesuai dengan banyaknya bumbu yang dipakai dalam pembuatan kuah laksa.

Kaya bumbu

Nufi Salam, menantu Hajah Muroni yang kini mengelola kedai, bilang, kuah laksanya terbuat dari segala jenis bumbu, mulai kunyit, lengkuas, sereh, daun salam, daun jeruk, kencur, jahe, temu kunci, jintan, lada, biji pala, kemiri, ketumbar, dan tak ketinggalan rebon.

Bumbu-bumbu ini ada yang melewati proses penggilingan, juga penumbukan. Setelah halus, semua bumbu tadi ditumis kemudian dicampur dengan santan.

Tak heran, citarasa gurih dan sedap pun langsung pecah, begitu kuah kental laksa betawi berwarna kuning besutan kedai ini menyentuh lidah. "Rasa laksa betawi di kedai ini memang beda. Kuahnya terasa banget bumbunya," ungkap Aan Hermanto, pelanggan lama Laksa Betawi Asirot.

Penggunaan rebon alias udang kecil, Nufi bilang, yang membuat laksa betawi berbeda dengan laksa tangerang dan laksa bogor yang menggunakan oncom.

Pembeda lainnya: isi laksa betawi tak seramai laksa tangerang dan laksa bogor. Selain ketupat, hanya ada daun kucai, taoge, daun kemangi, dan bawang goreng.

Untuk ketupat, kedai ini memproduksi sendiri dengan melewati proses perbusan selama 12 jam. Hasilnya, rasa ketupatnya lezat dan empuk.

Dengan merebus selama setengah hari, ketupat juga jadi lebih awet. "Sampai tiga hari ketupat saya tidak basi," kata Nufi.

Tentu, tak lengkap menyantap laksa betawi tanpa pendamping. Menurut Nufi, laksa betawinya yang seharga Rp 20.000 seporsi sangat cocok disandingkan dengan semur.

Anda tinggal pilih, ada semur daging dan empal dengan harga Rp 15.000 per potong, lalu semur tahu  tempe kentang Rp 2.500 per porsi, semur jengkol seharga Rp 5.000 seporsi, juga semur telur Rp 3.500  per butir.

Cuma, Nufi mengungkapkan, pelanggannya yang keturunan Tionghoa lebih suka menyantap laksa betawi dengan semur jengkol. "Lidah mereka cocok sama masakan betawi, pakai lauknya tidak macam-macam, hanya jengkol," ujarnya.

Semur jengkolnya super empuk, dengan citarasa manis dan pedas lada. Kuah semurnya berwarna coklat pekat dan kental. Sungguh memikat. Aroma jengkol pun tak tercium.

Tak sabar ingin segera meluncur ke Laksa Betawi Asirot? Catat, kedai yang juga menjual ketupat sayur ini tidak punya cabang. Jadi, mau tidak mau Anda mesti datang ke Sukabumi Selatan, Jakarta Barat.

Hajah Muroni, pemilik kedai, yang masih turun tangan ke dapur untuk meracik bumbu, tidak berencana buka cabang, meski banyak ajakan. "Laksa betawi langka dan kami ingin yang mengelola keluarga sendiri," kata Nafi.

 

Laksa Betawi Asirot

Jl. Asirot No. 2 Sukabumi Selatan, Jakarta Barat.

Telp. 021-7267504

Koordinat GPS:
-6.2258325, 106.7743662