Profesi | HOME |

CEO

Mas Wigrantoro, ahli telematika sibuk urusi baja

oleh : Agung Jatmiko, Jane Aprilyani | Sabtu, 02 September 2017 | 16:51 WIB

Mas Wigrantoro, ahli telematika sibuk urusi baja

KONTAN.CO.ID - TanggalĀ 29 Maret 2017 menjadi hari yang penting dalam perjalanan karier profesional seorang Mas Wigrantoro Roes Setiyadi. Sebab di tanggal itu, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk resmi menunjuknya sebagai Presiden Direktur.

Beban sebagai bos di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki kantor di Cilegon, Banten tersebut terbilang berat. Sebab, di perusahaan ini dia diberi tugas oleh Kementerian BUMN untuk memperbaiki kinerja. Pria kelahiran tahun 1961 ini harus bisa membalik kinerja perusahaan yang dalam lima tahun terakhir selalu mencatat kerugian, menjadi untung.

Saat berbincang dengan KONTAN beberapa waktu lalu, Mas Wig, sapaan yang juga merupakan akronim dari namanya ini menuturkan, tentang perjalanan kariernya hingga bisa berada di posisi seperti saat ini.

Mas Wig memulai kariernya dengan menjadi seorang teknisi di perusahaan komputer di Jakarta pasca lulus dari Sekolah Teknik Menengah (STM) Pembangunan Semarang pada tahun 1981. Pria kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah ini langsung ditempatkan oleh perusahaan di kantor perwakilan teknis di Palembang, Sumatera Selatan.

Dia mengaku tak ingin hanya sekedar mengecap pendidikan setara Sekolah Menengah Atas (SMA), makanya sambil bekerja menjadi teknisi, Mas Wig menyempatkan diri untuk kuliah Pendidikan Ahli Teknik Elektro di Universitas Sriwijaya. "Kuliah saya selesai, tapi saya tak dapat ijazah karena tak menulis skripsi ketika itu, sehingga saya bisa mengambil ilmunya saja dan bukan gelarnya," ungkap Mas Wig. Alasannya tak menulis skripsi ketika itu lantaran dirinya kembali ditugaskan ke Jakarta.

Selepas dari perusahaan Teknologi Informasi (TI), pada tahun 1984 Mas Wig bekerja di perusahaan minyak dan gas (migas) asal Amerika Serikat (AS). Tugasnya adalah sebagai bagian teknis kelistrikan dan perawatan. Di perusahaan ini Mas Wig digembleng berbahasa Inggris dan akhirnya dia mensyukuri karena mendapatkan ilmu lagi di pekerjaan tersebut.

Sambil bekerja, tahun 1987, Mas Wig memutuskan untuk kuliah lagi kali ini di Universitas Budi Luhur dan mengambil jurusan Teknik Informatika.

Alasan mengambil jurusan teknik informatika ketimbang melanjutkan teknik elektro yang pernah dipelajarinya karena dia merasa jurusan ini memiliki masa depan yang cemerlang. "Saya sudah jadi teknisi komputer dan belajar banyak, tapi saya ingin belajar lebih dalam lagi," ungkapnya.

Pada tahun 1990, Mas Wig memutuskan keluar dari perusahaan migas dan bekerja membangun bisnis IT bersama rekannya lewat Alpha Graha Computindo.

Bekerja di perusahaan tersebut, jam kerja Mas Wig lebih fleksibel sehingga dia bisa melalui kuliahnya dengan mulus dan lulus tahun 1992.

Tak ingin berhenti belajar, tahun 1992, Mas Wig berambisi untuk kuliah manajemen dan mencoba mendaftar ke Fakultas Magister Manajemen Universitas Indonesia (UI), namun rencana ini gagal karena terbentur biaya. "Ketika itu biaya kuliahnya Rp 24 juta dan maksimal harus dibayar dua kali. Saya tak punya uang sebanyak itu," kenangnya.

Selalu ada hikmah dari tiap kegagalan. Saat pulang dari rencana mendaftar kuliah Strata II (S-2), Mas Wig menemukan spanduk tentang adanya kelas ekstensi untuk kuliah manajemen tapi namun hanya dengan gelar sarjana. "Saya tertarik untuk belajar, makanya saya daftar dan diterima," ucapnya.

Lulus dengan gelar Sarjana Ekonomi tahun 1996, Mas Wig mengaku masih penasaran untuk mengambil gelar S-2. Ambisi ini tercapai tahun 1998, saat Mas Wig diterima di Magister Akuntansi UI dan menjadi angkatan pertama.

Namun, status sebagai mahasiswa S-2 UI yang cukup bergengsi sedikit ternoda. Sebab di saat yang sama statusnya sebagai Country Director Indonesia di Digital Microwave Corporation, perusahaan telekomunikasi asal AS yang dipegang sejak beberapa tahun terakhir harus dilepas, karena faktor krisis ekonomi. "Jadilah saya menganggur ketika itu," ucapnya.

Dia mengaku harus mengundurkan diri karena kantor perwakilan di Indonesia tutup dan digabung ke Singapura karena menurunnya proyek telekomunikasi di Indonesia. "Namun, saya tak mau pindah," ujarnya.

Makanya, Mas Wig hanya fokus untuk kuliah di UI. Namun, baru satu semester berjalan, dia mendapatkan kabar memperoleh beasiswa dari Temasek Foundation untuk kuliah di Singapura.

Demi bisa mengambil beasiswa ini, Mas Wig rela untuk fokus kuliah dan mempercepat kuliah Magister Akuntansi tersebut. "Pagi sore kuliah jadi dua semester kelar, tapi belum tulis tesis" ujarnya.

Tahun 1999, Mas Wig terbang ke Singapura untuk mengambil kuliah di Lee Kuan Yeuw School of Public Policy dan mengambil magister ekonomi politik dan lulus tahun 2001. Pulang dari Singapura, Mas Wig disurati Fakultas Ekonomi UI untuk segera menulis tesis dalam waktu tiga bulan dan diancam bakal dikeluarkan. "Saya selesaikan tesis dalam waktu dua bulan," ujarnya.

Hal yang menarik dari tesis tersebut, Mas Wig menguraikan tentang perdagangan elektronik atau e-Commerce yang menjadi buah bibir saat ini. Akhirnya, Mas Wig lulus dengan hasil memuaskan.


Bantu banyak orang

Tahun 2001, karier Mas Wig pun semakin mentereng. Mas Wig yang tengah mengurus studinya ke jenjang doktor di UI didapuk menjadi staf khusus Menteri Komunikasi dan Informatika yang pada saat itu dipegang oleh Syamsul Mu'arif.

Kuliah sambil bekerja harus kembali dilakoninya. Selain masuk ke pemerintahan, Mas Wig juga aktif sebagai kolumnis di sejumlah media. Tak punya karier pasti di satu tempat menjadi tahapan yang mesti dilalui selepas tak lagi menjadi staf khusus Menkominfo. Tercatat, Mas Wig pernah menjadi Ketua Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel).

Di tengah kesibukannya dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tersebut, Mas Wig masih sempat menyelesaikan gelar doktor bidang Strategi Ekonomi di UI tahun 2005.

Meski tak terlegitimasi, namun Mas Wig mengaku masih aktif membantu banyak perusahaan, terutama di bidang telekomunikasi, terutama ketika menghadapi masalah regulasi, hubungan dengan operator telekomunikasi. "Itu bagian dari membantu banyak orang," ujarnya.

Sampai tahun 2011, Mas Wig merasa diberi kesempatan membantu lebih jauh saat ditunjuk menjadi Direktur Utama PT Bakrie Metal Industri dan PT Bakrie Pipe Industri. Sampai akhirnya, Mas Wig diminta pemerintah untuk membantu membenahi Krakatau Steel sejak Maret 2017 lalu.

Mas Wig bilang hal pertama yang dilakukan pasca ditunjuk menjadi bos Krakatau Steel adalah melakukan pemetaan.

Dia bilang pemetaan ini berguna untuk mengetahui apa saja yang sudah dimiliki Krakatau Steel dan yang terpenting alasan dibalik kerugian yang diderita perusahaan ini.

Nah, sebagai perusahaan yang sudah lama dan besar, hampir semua perangkat manajemen dimiliki atau pernah digunakan oleh Krakatau Steel.

Dia melihat faktor Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi faktor utama. "Walaupun sistemnya bagus, alat-alatnya bagus, tapi kalau orang-orang yang menjalankan tidak memilikiĀ sense of belonging, tidak memiliki komitmen dan tidak mau mendukung perusahaan maka percuma," ujarnya.

Agar mampu membawa Krakatau Steel menjadi perusahaan yang tak lagi menanggung rugi, serta menjadi perusahaan berkelas dunia, Mas Wig tidak menerapkan strategi-strategi bisnis yang canggih dan hanya menggunakan ilmu yang paling dasar di dunia bisnis.

Ilmu dasar meraih untung ada dua, meningkatkan penjualan dan mengelola biaya. Mengelola biaya ini penting, supaya selisih antara pendapatan dengan biaya bisa menghasilkan laba.