HOME | Kedai |

0

Menyedot kopi susu tetangga kesukaan Pak Jokowi

oleh : Fransiska Firlana | Jumat, 01 September 2017 | 21:05 WIB

Menyedot kopi susu tetangga kesukaan Pak Jokowi

KONTAN.CO.ID - Puluhan pengemudi ojek online mengerubung di depan bangunan mini beratap rendah di bilangan Cipete Raya, Jakarta Selatan. Mereka bukan sedang berdemo, namun sedang mengantre panggilan atas pesanan kopi di Toko Kopi Tuku. 

Kontan saja, kerumunan pengojek ini membetot perhatian pengguna jalan. Hampir setiap orang yang lewat menoleh ke arah kerumunan. Sudah pasti mereka penasaran. Apa lagi papan nama kedai kopi ini kurang mencolok. Hanya ada kubus bertuliskan “Tuku”.

Sekalipun papan nama minimalis dan lahan parkirnya sempit, tapi kedai kopi mungil ini happening banget akhir-akhir ini. Apalagi, Presiden Joko Widodo beserta Ibu Iriana juga sempat bertandang untuk menyeruput secangkir kopi yang lagi diburu anak muda Jakarta dan sekitarnya ini.

“Tiap hari antrean ojek online ya begini. Panjang,” ujar penjaga parkir di sekitar kedai. Antrean ojek online baru surut selepas jam 3 sore. Pengelola  Toko Kopi Tuku rupanya menerapkan pembatasan pembelian lewat online, yakni mulai pukul  11 siang sampai pukul 3 sore.

Selepas itu, bukan berarti bebas antrean lo. Pembeli yang datang langsung tanpa melalui pesanan online pun harus sabar menanti untuk menikmati segelas kopi di kedai yang berdiri sekitar dua tahun lalu itu.

Bedanya, bila Anda membeli langsung di jam-jam antrean pesanan ojek online, kopi yang Anda pesan bisa datang setengah jam kemudian. Tapi kalau pesan selepas jam pesanan online, paling Anda cuma mengantri 10 menit.

“Wah wajar saja sih mengantre 10 menit. Enggak lama, engggak bosan ko. Soalnya sambil nunggu kita bisa menikmati aroma kopi di kedai ini,” ujar Hadar Nafis Gumay, mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum yang juga sedang mengantri di Toko Kopi Tuku. 

Sebagai pecinta kopi, Hadar mengaku tersihir dengan kenikmatan kopi susu di kedai milik Andanu Prasetyo. Hadar yang cukup sering melewati Jalan Cipete Raya No. 7C itu mengaku penasaran dengan kerumunan pembeli di depan Toko Kopi Tuku. “Saya mampir dan saya coba kopi susunya, wah mantap sekali,” katanya. 
Menurut Hadar, racikan kopi susunya pas banget. Sekalipun kopi susu dalam kondisi dingin saat dibawa pulang, tapi citarasanya tetap terjaga. Meskipun es batunya sudah mencair, rasa kopi dan manisnya masih terasa segar.

Kopi susu di Toko Kopi Tuku memang menjadi minuman favorit pembeli. Nama komplitnya Kopi Susu Tetangga. Minuman ini merupakan racikan latte dan gula aren. Weh, gula aren? Ya, kedai ini memang menyajikan kopi yang beda. Kopinya diseduh dengan gula aren. Kopi Susu Tetangga ini bila disajikan dengan es maka ditambah dengan creamer.

Siang yang terik cocoknya memang menenggak Es Kopi Susu Tetangga. Yakinlah, Anda tak akan menyesal kendati harus menunggu lama untuk mendapatkan segelas kopi susu ini. Warnanya coklat susu. Secara mata telanjang, kopi susu ini terlihat kental. Tapi ketika disedot, ternyata tak begitu kental dan tak begitu cair. Pas banget. 
Rasanya, benar-benar mantap. Paduan manis, pahit, dan gurihnya serasi benar. Gula aren memang menimbulkan sensasi manis yang berbeda. Bukan sekadar manis layaknya gula pasir, tapi manis yang melekat tanpa meninggalkan jejak di langit-langit mulut. Benar-benar paduan pas dengan kopi.

Sensasi menyesap kopi susu ini makin menyegarkan karena tersaji dingin. Benar-benar tak terasa, segelas kopi susu mengalir cepat ke tenggorokan. 
Segelas Es Kopi Susu Tetangga harganya Rp 18.000. Harga ini juga diterapkan untuk menu Kopi Susu Tetangga, Es Kopi Hitam Tetangga, dan Kopi Hitam Tetangga. Sedangkan untuk ukuran mininya, harganya cuma Rp 10.000. 

Bedanya Kopi Susu Tetangga dengan Kopi Hitam Tetangga terletak pada racikannya. Kopi Susu Tetangga merupakan paduan kopi dan gula aren. Sedangkan Kopi Hitam Tetangga kopi hitam murni. Sensasi rasa si kopi hitam tanpa gula ini pahit asam. Saat ini toko kopi ini menggunakan kopi garut. 

Bukan tempat kongkow
Makin sore, antrean pembeli makin menjadi. Rupanya jam pulang kerja menjadi jam-jam sibuk pelayan di Toko Kopi Tuku. Dengan cekatan enam pelayan kopi berbagi tugas menyelesaikan pesanan.

“Konsep kedai ini bukan tempat nongkrong. Tapi orang ke sini benar-benar cuma untuk beli kopi,” ujar salah seorang staf Toko Kopi Tuku. Dengan konsep ini, jangan heran kalau toko kopi ini tak menyediakan meja kursi yang nyaman buat kongko. Kursi memanjang yang menempel di dinding, kursi panjang di balik jendela di luar kedai, kursi panjang di luar kedai yang sempit hanya dijadikan tempat untuk menunggu pesanan. Bukan untuk menikmati kopi. Tak heran pula bila kedai hanya menyediakan gelas plastik bukan gelas keramik untuk menikmati kopi. Konsepnya memang dibawa pulang.

Mau menjajalnya? Anda bisa langsung datang di toko kopi ini sedari jam 7 pagi. Untuk pesanan online baru dibuka mulai jam 11 siang sampai jam 3 sore. Nah kalau hari minggu, tak ada layanan pesanan online. Toko kopi ini tutup jam 10 malam. Oya, sekalipun Anda datang di jam pesanan online, Anda tetap akan dilayani dengan jalur khusus di luar antrean ojek online.

Kalau terpaksa menunggu di luar, Anda bisa mengintip suasana peracikan kopi di kedai itu dari balik jendela mungil. Melalui jendela itu pula, pelayan sering menyerahkan pesanan kepada pembeli ketika suasana kedai benar-benar penuh sesak. Maklum ukuran kedai ini tak lebih dari 50 meter persegi.