HOME | Rendezvous |

FILM

Pesona 7 gunung tertinggi di film Negeri Dongeng

oleh : Jane Aprilyani | Jumat, 18 Agustus 2017 | 11:14 WIB

Pesona 7 gunung tertinggi di film Negeri Dongeng

KONTAN.CO.ID - AKSA 7 hadirkan special screening film ‘Negeri Dongeng' yang menanamkan rasa cinta tanah air dan alam generasi muda melalui berbagai kegiatan positif.

“Pemerintah mendukung setiap kegiatan yang mendukung kelestarian alam serta kegiatan menanamkan rasa nasionalisme oleh dan bagi generasi muda,” tutur Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup.

Turut hadir mendampingi, aktris, putri Indonesia, model sekaligus guest expeditor dalam film Negeri Dongeng, Nadine Chandrawinata. Nadine berkomentar, kalau film dokumenter ini ingin menyampaikan pesan mendalam bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya serta siapa saja yang menontonnya.

Sebagai guest expeditor Nadine merasakan makna ke dalam dan ke luar dirinya sendiri. Proses pendakian ke Puncak Cartenz Pyramid membuat Nadine bersyukur akan ciptaan indah yang Maha Kuasa.

“Sedangkan, makna keluarnya adalah bagaimana kita sebagai generasi muda harus bisa menjaga alam Indonesia sebagai warisan pada generasi berikutnya,” tambahnya.

Film yang berlangsung sekitar 90 menit ini ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil menjunjung bendera Merah Putih berukuran 4x6 meter oleh para penonton di dalam bioskop. Selain itu, turut hadir puluhan awak media, blogger dan komunitas pendukung.

Rencananya, Film Negeri Dongeng akan ditayangkan serentak di seluruh Indonesia pada September 2017 mendatang.
Negeri Dongeng adalah film documentary creative yang diangkat dari kisah nyata tentang perjalanan pendakian ke-7 puncak gunung tertinggi di Indonesia oleh 6 film maker muda Indonesia beserta yang tergabung dalam Aksa7 dan 1 guest expeditor.

Pendakian dibagi menjadi beberapa periode dan berlangsung selama hampir 2 tahun. Pendakian pertama dimulai pada bulan November 2014 menuju Gunung Kerinci, kemudian dilanjutkan pada bulan untuk Gunung Kerinci, Desember 2014 untuk Gunung Semeru.

Pada Januari 2015 untuk Gunung Rinjani, Februari 2015 untuk Gunung Bukit Raya, Mei 2015 untuk Gunung Rantemario, November 2015 untuk Gunung Binaiya. Ditutup dengan pendakian ke Gunung Cartenz, Papua, yang termasuk dalam seven summit dunia pada April 2016.

Pengambilan gambar film merupakan dokumentasi kejadian nyata yang dialami selama kegiatan ekspedisi berlangsung. Sisi menarik yang dapat disaksikan adalah melihat lebih dekat kehidupan masyarakat pegunungan serta proses interaksi personal antar tim ekspedisi demi mencapai ke-7 puncak gunung yang didaki.

Pengambilan gambar film dilakukan sembari mendaki. Ekspeditor Aksa7 adalah personil Aksa7 adalah Anggi Frisca (Sutradara), Teguh Rahmadi, Jogie KM Nadeak, Rivan Hanggarai, Wihana Erlangga, Yohanes Patiassina, dan dr. Chandra Sembiring (Produser).

Film ini juga menghadirkan 67 public figure sebagai guest expeditor yang turut dalam tiap ekspedisi, diantaranya adalah Nadine Chandrawinata, Medina Kamil dan Matthew Tandioputra yang merupakan pendaki termuda yang telah menyelesaikan 7 puncak gunung tertinggi Indonesia.

Negeri Dongeng tidak bernaung di bawah Production House besar dalam proses pembuatannya. Pendanaan film ini terbilang menarik karena sifatnya ‘Gotong Royong’.

Yang mana Berawal dari inisiatif Sutradara Anggi Frisca yang percaya Film dapat menggerakkan hati banyak orang untuk berbuat sesuatu dan dorongan untuk mendokumentasikan 7 gunung tertinggi di Indonesia. Selain mengandalkan pendanaan mandiri, sponsor dan donatur, Aksa7 juga melakukan penjualan merchandise film di sosial media mereka.

Untuk makin mendekatkan film ini ke masyarakat terutama target penonton, Aksa7 dibantu oleh 32.000 pendukung mereka yang terbentuk lewat berbagai kegiatan bootcamps selama proses produksi Film tersebar di seluruh Indonesia, yang dikenal dengan sebutan Warriors Aksa7.

Anggi Frisca, Sutradara Film Negeri Dongeng berharap setelah menyaksikan film yaitu penonton bergerak untuk Indonesia dengan caranya masing- masing. Gotong-royong untuk Indonesia yang lebih baik dengan tidak merusak alamnya dan membangun potensi lingkungan dan wisata sebagai tulang punggung negeri ini.

“Semoga film ini dapat membangkitkan lagi semangat gotong royong, membangun empati, dan toleransi terhadap lingkungan sekitar, “ pungkas Anggi Frisca dalam keterangan yang diterima KONTAN, Jumat (18/8).