HOME | Tokoh |

ORANG KAYA / TAIPAN

Satu kenduri, empat presiden, dan Madam Ho

oleh : Barly Haliem | Sabtu, 11 Maret 2017 | 07:00 WIB

Satu kenduri, empat presiden, dan Madam Ho

Raut muka Prajogo Pangestu tetap ceria kendati harus berdiri berjam-jam. Ia sabar melayani ribuan kolega yang menyalaminya, satu demi satu. Sesekali senyumnya ditebar.

Aneka hidangan dan minuman terus mengalir tiada henti. Ada appetizer salad dan salmon cocktail hingga red wine Prancis kelas satu. Tersedia menu utama ala Asia, oriental,  hingga kontinental. Tak apa sekadar mereguk es jeli kelapa muda ala Thailand sebagai dessert.

Pria 72 tahun yang masuk daftar 20 orang terkaya Indonesia versi Forbes itu memang tengah menggelar kenduri besar. Dia menghelat resepsi pernikahan anak bungsunya, Baritono Prajogo Pangestu, di Grand Ballroom Hotel Mulia Jakarta, Minggu (5/3) malam.

Di panggung sayap selatan aula, Andien, Dira Sugandi hingga penyanyi asal Filipina Christian Bautista, bergantian melantunkan lagu-lagu cinta. "Undangannya 2.500 orang," kata Prajogo kepada KONTAN.

Rangkaian mawar putih membentuk sepasang angsa raksasa menjadi ornamen anggun di pelataran pelaminan. Kue pengantin lebih dari 2 meter menjulang hampir menyundul langit-langit.

Nyaris setiap jengkal ruangan bertabur rangkaian mawar serta bunga lili. Semerbak wangi dan romantis!

Barry, sapaan Baritono, menikahi Maria Jennifer Setiawan, putri pasangan Johannes Setiawan dan Catharina Setiawan. "Pak Johanes seorang profesional yang sudah pensiun. Bu Catharina adalah seorang dokter," kata kolega dekat keluarga taipan peringkat 20 besar versi Forbes itu.

Putra bungsu Prajogo Pangestu itu sekarang menjabat Wakil Presiden Direktur PT Chandra Asri Tbk. Sementara Jennifer berkarier di Grup Sinarmas.

Nancy Tabardel, putri Prajogo, menyapa hadirin dengan pidato singkat di atas mimbar. Ia mengenang tingkah Barry hingga ragam kegemarannya. “Selamat Jennifer, saya pasrahkan adikku  padamu,” ucapnya dengan nada haru.

Teman-teman lama Prajogo saat muda hingga kolega bisnis tumpah ruah menambah meriah. Pembantu rumah tangga, supir, tukang kebun, dan koki keluarga hingga tukang momong mempelai pria turut berpesta.

Ada cerita khusus tentang sosok suster bernama Suyatmi. Seorang kerabat bercerita, perempuan itu merupakan pengasuh setia anak hingga cucu sang taipan. “Karena semakin tua, sekarang dia naik pangkat menjadi neksus. Nenek suster hahaha..,” ucapnya.

Nah, senyampang kenaikan pangkat, si Neksus punya asisten. Namanya Sitari.


Presiden ketiga hingga ketujuh

Tahun 2008, Prajogo juga menghelat resepsi untuk Nancy yang menikah dengan pria asal Prancis, Nicolas Tabardel. Kala itu, pesta yang dihelat di Hotel The Ritz-Carlton Millennia Singapura dihadiri sejumlah pejabat, pengusaha, dan kaum jetset.

Deja vu! Aura elegan resepsi pekan lalu pun sepadan. Bahkan, kali ini empat presiden Indonesia dan dua wakil presiden, Jusuf Kalla dan Boediono, menghadiri undangan Prajogo. Senyampang pula ratusan pengusaha, pejabat tinggi, politisi, serta duta besar (dubes) Singapura, Prancis hingga Finlandia. 

Dari empat presiden yang masih ada, Presiden ketujuh Indonesia Joko Widodo hadir pertama. Jokowi datang bersama Ibu Negara Iriana yang tampak anggun dalam kebaya biru.

Orang nomor satu di republik ini menyapa hangat dan menyalami mempelai maupun tuan rumah. Kelar berfoto dan menyapa kerumunan tamu, Jokowi beranjak meninggalkan  Mulia.

Sepeninggal Jokowi, Presiden RI ketiga  B.J. Habibie hadir. Mantan presiden yang juga profesor aeronautika itu hanya sejenak bertandang.

Selang beberapa menit kemudian, giliran Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono dan  Nyonya Kristiani Herawati yang mengenakan kebaya merah cabai, datang ke tengah pesta. Usai dari panggung pelaminan, SBY singgah di ruang VIP.

Dijumpainya sejumlah tamu penting sembari bertegur sapa. Termasuk dengan Basuki Tjahaja  Purnama, mantan rival anaknya dalam Pilkada DKI Jakarta.

Beberapa saat setelah SBY beranjak, tibalah Presiden kelima Megawati Soekarno Putri. Ketua Umum PDI Perjuangan itu hadir diiringi Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti.

Kehadiran empat presiden itu serasa komplet dengan kedatangan Sinta  Nuriyah Wahid, istri mendiang Presiden keempat Abdurrahman Wahid. Tokoh gerakan perempuan dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) serta aktivis hak asasi manusia itu hadir didampingi cucu dan putrinya, Yenny Wahid. Pun kehadiran Sinta Wahid mengingatkan kembali pada kiprah dan sosok pluralis almarhum Gus Dur.

Empat presiden datang silih berganti kendati tak satu pun yang bersua satu dengan lainnya. “Kalau  saja semua duduk semeja, seru pastinya,” celetuk seorang tamu.

Empat hari kemudian, setidaknya dua presiden Indonesia sudah duduk sebangku dan satu meja. Kamis (9/3), Presiden Jokowi dan SBY bertemu di Istana Negara. Mak pyar! Kebekuan serasa mencair.


Kongko para triliuner

Di sela-sela kedatangan para presiden, sejumlah politisi dan pejabat penting datang bergantian. Mulai dari Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo hingga bos pasar modal Indonesia Tito Sulistio. 

Juga hadir Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua Partai Nasdem Surya Paloh, Menteri Koordinator Maritim Luhut Pandjaitan, hingga Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Menteri BUMN Rini Soemarno yang berkebaya merah, Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti, serta Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito,  Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro pun tampak di antara tamu VIP malam itu.

Tak lupa ribuan kolega pebisnis Prajogo turut meriung merayakan hajatan mantu. Nyaris semua triliuner penghuni tetap daftar Forbes kongko di Mulia malam itu.

Sebut saja keluarga Djarum, pemilik aset US$ 17,1 miliar versi Forbes, serta Anthony Salim, punggawa Grup Salim yang tercatat memiliki harta US$ 5,7 miliar. Ada pula Teguh Ganda Widjaja dan Frangky Wijaya dari keluarga Sinarmas yang disebut memiliki kekayaan tak kurang dari US$ 5,6 miliar.

Tampak pula pemimpin Grup Bakrie Aburizal Bakrie, keluarga TP Rachmat yang merupakan Grup Triputra, pemilik Grup Agung Sedayu Sugianto Kesuma atau Aguan, pemilik Grup Berca Murdaya Poo, The Ning King dari Grup Argo Pantes, keluarga raja properti Ciputra, hingga Bos Grup MNC Hari Tanoesudibjo.

Anggota keluarga Cendana Bambang Trihatmojo tampak menggandeng Mayangsari yang berbalut gaun merah. Sementara pemilik Grup Adaro Garibaldi “Boy” Tohir, Alim Markus (Maspion), serta Dato Sri Tahir (Mayapada) dan Sofjan Wanandi (Santini) serta ratusan pengusaha lain juga tampak di antara kerumunan tamu.

Ada yang menaksir, malam itu adalah kongko para taipan dan pebisnis dengan penguasaan aset di atas US$ 500 miliar atau sekitar Rp 6.750 triliun. Gergasi bisnis mereka ibarat poros engkol mesin diesel pemutar roda ekonomi Tanah Air. Jika setiap pengusaha mempekerjakan minimal 25.000 pegawai dengan dua anak, “rakyat” kerajaan bisnis para pebisnis yang datang malam itu tak kurang dari  75 juta jiwa. Ini setara dengan 31% populasi dan hak suaranya cukup sebagai modal menuju RI 1!

Oh, iya. Satu lagi tamu istimewa yang bertandang ke Hotel Mulia: Madam Ho Ching, Chief Executive Officer (CEO) Temasek Holding Singapura. Istri Perdana Menteri Singapura ‎Lee Hsien Loong (BJ Lee) itu hadir tanpa didampingi sang suami. Mengenakan busana sederhana, bercelana panjang merah cerah dan berselop, perempuan energik itu terlihat akrab bertegur sapa dengan tuan rumah.

Sampai kini, Ho Ching masih digelari sebagai perempuan “terkuat” di ranah bisnis Asia. Bayangkan, tahun lalu, nilai aset Temasek yang ia kendalikan mencapai US$ 242 miliar atau Rp 3.267 triliun. Angka itu melebihi rata-rata APBN negara anggota ASEAN.

Ihwal kedekatan Ho Ching dengan Prajogo tergolong unik. Awalnya, mereka sempat beradu sengit dan  berada dalam kubu berseberangan. Situasi  itu erat kaitannya dengan penjualan dan restrukturisasi PT Chandra Asri dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Namun, situasi sekarang berbalik 180 derajat. Dari awalnya lawan, kini keduanya berkawan baik dan menjadi mitra strategis. Bahkan, Temasek seperti pintu pembuka jalur Grup Barito untuk menjalin kongsi-kongsi strategis dengan korporasi global seperti Grup Siam Cement Thailand, Michelin Prancis, dan Grup Ayala Filipina. Resepnya? “Kita harus bisa kerja sama baik dan tulus,” ucap Prajogo.

Toh, sulit dipungkiri, di antara ribuan tamu dan ratusan tamu kehormatan, Basuki Tjahaja Purnama bak superstar malam itu. Kehadiran Gubernur Jakarta yang biasa disapa Ahok itu paling menyedot perhatian.

Ke mana pun beringsut, para tetamu mengikuti dan mengerubunginya seraya mengajaknya selfie. “Eh, banyak makanan tuh. Ayo makan-makan. Sayang dibiarin. Masa selfie terus,” canda Ahok.

Nah, Sumantri Suwarno, ekonom dan Ketua Gerakan Pemuda Ansor, punya kesan tersendiri saat menghadiri perhelatan ini, utamanya terkait kehadiran sejumlah tokoh penting negeri ini. "Resepsi ini menunjukkan luasnya pergaulan dan koneksi Prajogo baik di bidang ekonomi, sosial, dan politik," katanya.


Hoki bisnis sampai cucu

Lepas dari status tetamu maupun kalkulasi isi sakunya, hoki Prajogo agaknya tengah moncer di Tahun Ayam Api. Simak saja di bidang bisnis.

Jika tak ada aral melintang, bulan ini konsorsium PT Star Energy miliknya akan menuntaskan akuisisi dua aset Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) milik Chevron Corp. Total nilai transaksinya lebih dari US$ 2 miliar atau di atas Rp 27 triliun. Angka ini akan tercatat sebagai salah satu nilai akuisisi terbesar sepanjang sejarah akuisisi di Indonesia.

Objek transaksi berupa PLTP Salak berkapasitas 370 megawatt (MW) dan PLTP Derajat berkapasitas 240 MW. Satu lagi adalah 40% saham aset panas bumi Tiwi-MakBan Filipina berkapasitas 326 MW. Jadi, total kapasitas PLTP yang dibeli Star Energy cs mencapai 740 MW.

Star Energy saat ini mengoperasikan PLTP Wayang Windu I-III berkapasitas 287 MW. Pasca pembelian aset Chevron, total kapasitas listrik panas bumi kelolaan Star Energy sekitar 793 MW.

Penguasaan kapasitas itu bisa menempatkan Star Energy dalam daftar tiga besar pengelola PLTP terbesar dunia. Saat ini, Calpine Corp tercatat sebagai operator PLTP terbesar di dunia dengan produksi listrik panas bumi sebesar 945 MW.

Selain di sektor riil, Grup Barito juga menikmati bonanza di pasar modal. Maklum, harga saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Asri Tbk (TPIA) terus melejit.

Setahun terakhir hingga 9 Maret 2017, harga saham BRPT naik 420% menjadi Rp 2.460 per saham. Sementara harga saham TPIA melejit 568% menjadi Rp 23.550 per saham. Total jenderal, nilai kapitalisasi pasar (market capitalization) dua emiten itu mencapai Rp 94,58 triliun.

Analis pasar modal Boy Arman Manullang menilai wajar jika harga saham BRPT dan TPIA melompat tinggi. Hitungan dia, harga saham dua emiten itu memang masih terdiskon dibanding dengan fundamentalnya. “Keduanya cocok untuk tipe value investor dan long term,” kata Boy.

Di luar bisnis maupun saham, makin komplet keberuntungan sang taipan karena satu kabar: salah satu cucunya diterima kuliah di Standford University Amerika.

Konon, kendati ada puluhan ribu peminat,  universitas terbaik kedua di dunia ini hanya memberi kuota satu orang per tahun per negara untuk negara di luar Amerika. Tahun, ini cucu taipan inilah yang meraih jatah itu sekaligus satu-satunya wakil Indonesia.

Agaknya, tahun ini Dewi Fortuna sedang berpihak pada Prajogo. Hokinya menjalar dari keluarga hingga ladang usaha. Bisa jadi itulah energi penambah staminanya kendati harus berdiri berjam-jam. What a life!