Belanja |

PELATIHAN BERKEBUN

Sepetak kebun mini memberikan hasil maksi

oleh : Hendra Gunawan | Senin, 22 Oktober 2012 | 09:20 WIB

Sepetak kebun mini memberikan hasil maksi

Berkebun boleh dibilang susah-susah gampang. Apalagi jika lahan yang digunakan sangat terbatas seperti halaman rumah. Nah, sebelum Anda mencoba mengolah pekarangan sempit itu, tak ada salahnya mencari informasi terlebih dulu agar proses berkebun berjalan lancar.

Berbagai informasi tentang cara berkebun bisa ditemukan di buku dan internet. Cara lain adalah mengikuti pelatihan berkebun. Ya, saat ini banyak lembaga yang khusus memberikan pelatihan berkebun di lahan terbatas. Di antaranya Fam Organic, Indonesia Berkebun, dan Politeknik Tristar.

Kelebihan pelatihan tersebut, para pesertanya dapat langsung mempraktikkan ilmu berkebun. Ini berbeda dengan informasi di buku atau internet yang hanya memaparkan teorinya.

Setiap lembaga atau organisasi pelatihan berkebun ini memiliki konsep dan teknik pelatihan yang berbeda-beda. Begitu pula biaya pelatihannya. Jika Anda tertarik, berikut ini gambaran singkatnya.

Fam Organic

Ini merupakan perusahaan ecopreneur yang didirikan tahun 2009 oleh pasangan suami istri, Soeparwan Soeleman dan Donor Rahayu. Setiap bulan, Fam Organic rutin menggelar pelatihan yang terbuka untuk umum. Namun, peserta setiap pelatihan dibatasi maksimal 20 peserta.

Soeparwan membatasi peserta karena memang ruang pelatihan yang berada di rumahnya, di Kota Bandung, tidak terlalu luas. Batasan 20 orang cukup membuat peserta nyaman. “Dulu pernah sampai 25 orang, tapi tidak nyaman,” tuturnya.

Untuk sekali pelatihan Fam Organic mengenakan biaya Rp 300.000 per peserta. Biaya itu sudah termasuk makalah, snack, makan siang, dan starter kit yang terdiri tray semai, media tanam, pupuk, dan sampel benih. “Jadi, pas pulang, mereka bisa langsung praktik tanpa harus beli apa-apa lagi,” imbuh Soeparwan.

Peserta yang mengikuti pelatihan di Fam Organic ini tidak hanya berasal dari Bandung, tetapi juga dari kota lain seperti Jakarta, Lampung, Palembang, dan Yogyakarta. Fam Organic juga bersedia memberikan pelatihan di tempat peserta di kota lain. Syaratnya, cukup sediakan proyektor dan tambahan biaya sewa kendaraan untuk mengangkut tanaman.

Menurut Soeparwan, pelatihan yang diberikan oleh Fam Organic menggunakan konsep halaman organik. Konsep ini mengusung tiga aspek, yaitu berkebun di rumah, kebun organik, dan 3R alias reuse-reduce-recycle yang menitikberatkan pada pemanfaatan bahan-bahan bekas yang ada di lingkungan sekitar.

Yang dimaksud dengan aspek pertama, berkebun di rumah, adalah membuat kebun atau taman di halaman rumah yang memberikan fleksibilitas dan kreativitas. Tanaman tidak hanya ditempatkan di lahan atau tanah, tapi juga bisa dilakukan di pot, polybag, ataupun wadah-wadah lain seperti kaleng, dan media lainnya.

Aspek ini juga menitikberatkan pada efisiensi dan efektivitas penggunaan lahan. Alhasil, dengan lahan yang terbatas, kita dapat menampung tanaman secara lebih optimal.

Aspek yang kedua adalah kebun organik. Salah satu karakteristik utama kebun haruslah organik; yaitu tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Tujuannya agar tanaman organik itu dapat membantu menyehatkan udara di sekitar lingkungan dan tidak akan mengganggu warga lain.

Sedangkan aspek yang ketiga yaitu 3R adalah memanfaatkan aneka sampah rumah, baik sampah dapur, sampah dalam rumah, dan sampah halaman rumah, untuk digunakan sebagai kompos atau pupuk cair.

Selain itu, bekas gelas air mineral, bekas botol air mineral, bekas susu kotak, kaleng bekas, kotak plastik bekas kue dan sebagainya juga harus dimanfaatkan sebagai bahan atau alat untuk menunjang kegiatan berkebun.

Cara ini dapat mengurangi sampah yang dibuang. Jadi, pertama-tama, Fam Organic mengajarkan prinsip berkebun itu dulu. Sedangkan soal jenis tanamannya terserah masing-masing peserta. “Dia sukanya makan apa, apakah bayam, salad, atau perlu cabai?” tandas Soeparwan.

Tristar Politeknik

Lembaga pelatihan ini tergolong cukup komplet. Berbagai jenis pelatihan kewirausahaan tersedia di tempat ini. Sebut saja pelatihan cara membuat batik, pelatihan aneka olahan apel, pelatihan cara membuat pupuk, hingga pelatihan pelapisan logam. Tristar juga sanggup memberikan pelatihan bercocok tanam di lahan terbatas.

Di dalam program ini, perusahaan yang berkantor pusat di kota Surabaya ini mengajarkan bercocok tanam menggunakan teknik vertikultur. Teknik ini dapat diartikan sebagai budidaya tanaman secara vertikal alias bertingkat.

Lydiana Santi, Kepala Pemasaran Tristar, menjelaskan, teknik ini tidak memerlukan lahan yang luas. Bahkan, Anda juga dapat membuka kebun jenis ini di rumah Anda yang tidak memiliki halaman. Jadi, teknik vertikultur ini sangat cocok bagi mereka yang ingin memiliki kebun dengan memanfaatkan tempat secara efisien. “Sekarang lahan sangat terbatas, dengan lahan terbatas ini mereka diajari cara agar tetap bisa berkebun,” katanya. Salah satu caranya adalah menggunakan tabung bertingkat.

Menurut Santi, awalnya teknik ini digunakan pada taman yang dimanfaatkan untuk menutup pemandangan yang kurang sedap. Ada juga yang menggunakannya sebagai latar belakang untuk menyajikan pemandangan yang indah.

Berbeda dengan Fam Organic, jadwal pelatihan di Tristar tidak rutin alias lebih fleksibel. Kapan pun ada peserta yang menginginkan pelatihan ini, mereka bisa langsung datang. Syaratnya: peserta minimal harus 10 orang. Tristar mengenakan tarif Rp 500.000 untuk pelatihan selama satu hari. “Biaya itu sudah termasuk akomodasi, makan siang, snack, makalah, sertifikat, dan pupuk,” imbuh Santi.

Yang menarik, dalam melakukan pelatihan ini, Tristar bekerja sama dengan para dosen pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Surabaya. Menurut Santi, setiap bulan selalu ada saja peserta yang mengikuti pelatihan ini. Para peserta tersebut datang dari berbagai daerah di Surabaya. “Jika pesertanya datang dalam satu grup, kami bisa memberikan diskon,” tandas Santi, bernada promosi.

Indonesia Berkebun

Berbeda dengan Fam Organic dan Tristar, Akademi Indonesia Berkebun sama sekali tidak mengutip biaya pelatihan dari peserta alias gratis. Maklum, lembaga tersebut merupakan organisasi atau komunitas pecinta tanaman sehingga lebih mengedepankan semangat berbagi ilmu pengetahuan bagi  semua orang yang membutuhkannya.

Meski begitu, peserta tetap harus membayar uang pendaftaran sebesar Rp 25.000. Uang tersebut digunakan untuk membeli konsumsi bagi peserta lantaran kegiatan pelatihan dilakukan sepanjang hari, mulai dari pagi hingga sore hari.

Selain itu, uang pendaftaran tersebut lebih bertujuan sebagai bentuk tanggung jawab dari para peserta agar disiplin mengikuti pelatihan. Pasalnya, sebelumnya ketika gratis dan tidak dipungut uang pendaftaran, banyak peserta yang tidak hadir.

Pelatihan berkebun dalam akademi itu dibuka setiap dua bulan sekali. Pengetahuan yang diberikan mulai dari materi dalam ruangan hingga praktik  di lapangan.

Dalam setiap kelas berkebun, peserta diajari pengenalan jenis sayuran, cara bercocok tanam, pengendalian hama, hingga saat yang tepat untuk memanen.  Untuk yang berniat menekuninya secara komersial, akademi ini juga akan mengajarkan cara pemasarannya.

Sumber Mingguan KONTAN, Edisi 22 - 28 Oktober 2012