HOME | Wisata |

TRAVEL

Tak perlu ke Bogor piknik ke hutan, Jakarta saja

oleh : Adi Wikanto | Selasa, 28 Maret 2017 | 18:48 WIB

Tak perlu ke Bogor piknik ke hutan, Jakarta saja

JAKARTA. Apa yang ada di benak Anda saat ingin berwisata ke kawasan Jakarta Barat? Mungkin sebagian dari Anda akan memilih untuk mengunjungi berbagai mal, Kota Tua, atau museum lainnya.

Namun, sebetulnya ada alternatif lain untuk berwisata alam, yakni dengan mengunjungi Hutan Kota Srengseng di Jalan Haji Kelik, Srengseng, Jakarta Barat.

Meskipun datang di siang hari, Anda tidak akan merasa gerah karena keseluruhan kawasan di hutan ini sangat rindang dan sejuk. Terdapat sekitar 4.800 pohon dengan 63 varietas berbeda, di hutan buatan yang sudah ada sejak 1995.

Hutan Kota Srengseng mudah dikunjungi dengan menggunakan transportasi umum. Hutan ini berada sekitar 300 meter dari halte Transjakarta Jalan Panjang, dan dari jalur sebaliknya tersedia angkutan kota nomor 24 dan bus Kopaja jurusan Blok M-Meruya.

Anda juga tak perlu merogoh kocek berpuluh ribu rupiah untuk dapat masuk ke hutan ini. Cukup membayar Rp 2.000 per orang saja, dengan penambahan untuk kendaraan bermotor roda dua sebesar Rp 2.000 dan roda empat sebesar Rp 4.000.

Apabila masuk dari gerbang depan hutan, Anda akan menemui lahan parkir yang cukup luas di sebelah kanan. Di depan lahan parkir tersebut ada enam tenda tempat berjualan makanan dan minuman. Anda bisa membeli beragam kopi dan kudapan lain, sambil berkeliling di hutan yang luasnya sekitar 15 hektar ini.

Beragam fasilitas

Hutan di tengah kota ini juga disertai sejumlah fasilitas. Tepat di sebelah lahan parkir, ada kawasan bermain anak yang dilengkapi beragam jenis permainan.

Permainan seperti perosotan, jungkat-jungkit, serta beberapa permainan panjat-panjatan yang seluruhnya berada di area berpasir tersedia di sini.

Kompas.com sempat berbincang-bincang dengan salah satu warga yang datang ke hutan ini yakni Syahril (54). Ia merupakan warga Kampung Baru yang datang bersama kedua cucunya, Sakila (6) dan Atnan (3).

"Mereka (Sakila dan Atnan) ajak saya ke sini (Hutan Kota Srengseng) katanya mau main. Ternyata bagus juga (tempatnya), banyak pepohonan jadi sehat," ujar Syahril, Senin (27/3/2017).

Menurut Syahril, kawasan ruang terbuka hijau (RTH) seperti ini sangat penting di Jakarta. Namun ia sendiri baru kali pertama mengunjungi hutan kota.

Ia merasa perlu ditingkatkan dari segi sosialisasi mengenai keberadaan hutan ini, agar semakin banyak warga yang bisa menikmati udara segar di tengah kota.

Berbeda dengan Syahril, Wardi (63) adalah warga Srengseng yang rutin datang ke hutan untuk memancing ikan sekadarnya di danau. Berbekal alat pancing tanpa umpan, Wardi duduk di pinggir danau sambil menunggu ikan tertangkap. "Paling (ukuran ikan yang tertangkap) tiga sampai lima jari. Saya enggak pakai (umpan) soalnya, bisa lebih gede lo (dapat ikannya)," ujar Wardi.

Wardi yang datang dengan satu adik dan dua orang temannya itu sudah datang dari pukul 09.00 WIB. Menurut dia ikan-ikan akan lebih sulit tertangkap di pagi hari.

Biasanya ia pulang ke rumah sekitar pukul 13.00 WIB, setelah menangkap sekitar tiga ekor ikan mas, mujaer, atau lele. "Ya kalau dapat (ikan), biasa mah buat makan sendiri," kata Wardi.

Minim pemahaman

Saat ditemui di kantornya, koordinator yang mengawasi Hutan Kota Srengseng, Iwa Gustiwa mengatakan, pihak pengelola sebetulnya melarang kegiatan memancing di danau.

Namun, menurut Iwa, larangan memancing mendapat penolakan keras dari warga sekitar. Sehingga untuk meredam konflik berkepanjangan, Iwa membiarkan para warga untuk tetap memancing. "Susah (melarang) karena banyak yang mau (memancing). Jadi biarkan saja, seadanya yang penting tidak meresahkan," ujar Iwa.

Menurut Iwa seharusnya danau dihadirkan untuk ditanami tanaman rawa. Karena itu pihak pengelola tidak mengembangbiakkan jenis-jenis ikan di danau, karena bukan menjadi tujuan awal dan bertentangan dengan sifat hutan sesungguhnya.

"Hutan kota termasuk ruang terbuka hijau (RTH), itu kan binaan atau buatan, ya isinya tanaman saja yang kami atur. Kalau merembet mengurusi satwa atau binatang lain jadinya nanti ke arah kawasan konservasi atau taman nasional," ucap Iwa.

Partisipasi warga

Ada yang menarik dari pengelolaan Hutan Kota Srengseng yang berbeda dengan kawasan lain. Di sini, warga yang datang berkunjung bisa memilih sendiri bibit pohon dan menanamnya di area hutan.

Iwa mengatakan, ini merupakan salah satu upaya untuk mengajak warga lebih peduli lingkungan dan juga bisa dijadikan sebagai ‘peninggalan’ warga itu sendiri. "Ini juga nantinya buat warga, nantinya bisa kasih tunjuk ke anak dan cucu kalau dia pernah ambil bagian (tanam pohon) untuk menjaga oksigen," ujar Iwa.

Sedangkan bibit pohon yang disediakan pengelola terdiri dari beragam jenis seperti matoa, jati, sawo, dan masih banyak lagi. Pohon yang baru ditanam ini nantinya akan menggantikan tanaman pelindung yang bersifat sementara untuk menjaga kegemburan tanah.

Kompas.com berkesempatan untuk menanam pohon matoa yang merupakan tanaman buah khas Papua. Proses dari memilih jenis bibit pohon, menaruh bibit ke dalam tanah, hingga menggali dan mencangkul tanah dilakukan sendiri sambil didampingi oleh petugas setempat.

Terhitung sejak 17 Febuari 2017 lalu, sudah ada 31 warga yang berpartisipasi dalam penanaman ini. Iwa juga mempersilakan bagi warga yang membawa bibit sendiri dan ingin menanam di sini.

Ia berharap upayanya ini dapat berjalan baik, sehingga partisipasi Hutan Kota Srengseng sebagai pundi-pundi oksigen Jakarta terasa semakin nyata.

(Dea Andriani)

Sumber Kompas.com