HOME| Wisata|

INDUSTRI PARIWISATA

Tanjung Lesung siapkan 50 ha lokasi produksi film

oleh : Yudho Winarto | Jumat, 26 Mei 2017 | 23:51 WIB
0 Komentar
Salin Tulisan
Tanjung Lesung siapkan 50 ha lokasi produksi film

HENGDIAN. Perusahaan pengembang kawasan industri, PT Jababeka menyiapkan lahan seluas 50 hektare di Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, Banten, untuk lokasi produksi film.

"Kalau untuk tahap awal mungkin tiga atau lima hektare dulu. Tapi paling tidak kami sudah siapkan 50 hektare," kata Direktur PT Jababeka Setiawan Mardjuki di sela kunjungan ke Hengdian World Studios, Provinsi Zhejiang, China, Jumat (26/5).

Jababeka mendapatkan izin dari pemerintah untuk pembangunan kawasan objek wisata Tanjung Lesung dan Morotai, Maluku Utara, sebagai bagian dari 10 destinasi wisata andalan.

Di Tanjung Lesung saat ini sudah ada hotel berbintang empat dan beberapa akomodasi pariwisata lainnya.

Menurut dia, Tanjung Lesung tidak kalah dengan Hengdian yang saat ini telah menjadi pusat lokasi produksi film mirip dengan Hollywood di Amerika Serikat.

"Kami punya pantai dan hutan yang alami. Ditambah dengan properti buatan, tentu lebih menarik dibandingkan dengan di Hengdian," ujarnya.

Lokasi Tanjung Lesung sendiri tidak terlalu jauh dari Jakarta, yakni hanya 180 kilometer atau dapat ditempuh dalam perjalanan darat selama empat jam.

Sama halnya dengan Hengdian World Studios yang dapat ditempuh perjalanan darat selama 30 menit dari Ibu Kota Provinsi Zhejiang di Dongyang dan empat jam dari Shanghai.

"Kalau sudah ada lokasi syuting seperti di Hengdian maka saya yakin makin banyak wisatawan yang datang ke Tanjung Lesung," ujar Setiawan.

Sementara itu, Deputi Pemasaran Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI Joshua PM Simandjuntak dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa konsep Hengdian World Studios bisa diterapkan di Indonesia.

"Konsep ini bagus karena bisa memberikan dampak ekonomi yang positif bagi warga sekitar," katanya.

Selain lokasi pengambilan gambar berupa bangunan permanen mirip Kota Terlarang dan Tembok Besar di Beijing serta bangunan di belahan dunia lainnya sesuai masa yang berbeda, di Hengdian juga terdapat penyedia jasa properti film berikut akomodasi para pemain dan kru.

Bahkan untuk pemeran figuran dalam jumlah berapa pun tersedia. Honor seorang pemain figuran di Hengdian relatif terjangkau, yakni hanya 50 RMB (Rp100.000) per jam.

Menariknya lagi produser film tidak dikenai biaya sewa penggunaan lokasi pengambilan gambar dengan berbagai latar belakang yang dapat disesuaikan dengan tema film.

"Yang kayak begini ini yang perlu ditiru. Jangan sampai kita di Indonesia nanti justru meminta pungutan jasa pembuatan film. Dengan dijadikan lokasi pembuatan film, daerah atau tempat itu akan membawa dampak ekonomi," kata Joshua yang mencontohkan Yogyakarta yang masyarakatnya mendapatkan keuntungan secara ekonomi setelah dijadikan tempat pengambilan gambar film Ada Apa Dengan Cinta 2 dan Belitung setelah meledaknya film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.


Bekraf sendiri telah memasarkan Banyuwangi, Bojonegoro, Yogyakarta, Bandung dan Siak (Riau) sebagai lokasi produksi film.

Sementara itu, Chen Nan Zheng, selaku pengelola Hengdian World Studios, menyebutkan bahwa pada 2016 kawasan seluas 300 hektare yang dulunya pabrik tekstil itu telah menghasilkan 271 judul film.

"Pada tahun lalu juga kawasan ini telah dikunjungi 16 juta wisatawan. Selain berwisata, mereka juga dapat kesempatan bertemu bintang film pujaannya di sela-sela syuting," kata salah satu pengurus teras Partai Komunis di Provinsi Zhejiang tersebut.

Pendapatan lain yang didapat kawasan yang pertama kali digunakan syuting film "Opium War" pada 1996 tersebut adalah tiket masuk ke wahana-wahana dan pertunjukan seni serta penginapan.

"Kalau untuk syuting film, kami sama sekali tidak memungut biaya sewa. Tapi selama produksi film di sini, mereka tentu butuh penginapan dan makan kru serta sewa properti," kata Chen.

Sumber Antara


0 Komentar
Salin Tulisan