HOME | Komunitas & Hobi |

HOBI

Urban farming, cocok tanam ala penghuni apartemen

oleh : Yudho Winarto | Kamis, 31 Agustus 2017 | 21:47 WIB

Urban farming, cocok tanam ala penghuni apartemen

KONTAN.CO.ID - Keterbatasan tempat bagi warga perkotaan dalam bercocok tanam mendorong orang untuk lebih kreatif. Salah satunya dilakukan oleh Inner City Management (ICM), perusahaan pengelola apartemen di Jakarta. Mereka menerapkan konsep urban farming, yakni bercocok tanam yang bisa dilakukan oleh masyarakat kota.

“Jadi lahan yang terbatas ini betul-betul dimanfaatkan untuk ditumbuhi tanaman,” ujar Koordinator Estate and Green Waste ICM, EM Kadek di Jakarta dalam keterangannya Kamis (31/8).

Kadek mengatakan, awalnya dia dan timnya hanya berupaya menanggulangi persoalan sampah penghuni apartemen yang cukup banyak tiap harinya. Sampah itu akhirnya dipisahkan antara yang bisa didaur ulang (organik) dan sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual.

Sampah daur ulang tersebut antara lain menghasilkan kompos padat dan cair dan gas metana. Adapun sampah anorganik seperti plastik, kertas/karton, kaleng, botol, dan lain-lain boleh diambil oleh pemulung.

Kompos-kompos itu kemudian dimanfaatkan untuk menanam tanaman hias, sayuran, dan lain-lain untuk mempercantik lingkungan apartemen dan sayuran gratis.

Menurut Kadek, pemanfaatan kompos itu kemudian memberikan ide untuk menanam tanaman produksi yang bisa dikonsumsi. Dia dan timnya pun mencoba untuk memanfaatkan lahan terbuka yang berada di atap menara apartemen.

Menggunakan drum bekas yang dipotong dua, proses menanam tanaman produksi itu pun membuahkan hasil, diantaranya kangkung Pakcoy dan sejenisnya. Hasil tanaman itu awalnya dikonsumsi oleh Kadek beserta timnya.

“Karena kalau mau dijual ke pasar kontinuitasnya belum memenuhi, jadi memang untuk konsumsi sendiri dan kami sebutnya Urban Farming,” kata Kadek.

Pihak ICM kemudian menginformasikan tentang penanaman itu kepada para penghuni apartemen. Responnya pun cukup positif. Sebagian penghuni cukup antusias untuk bisa ikut periode panen tanaman.

Bahkan, tak jarang penghuni memesan tanaman yang ingin dikonsumsi. “Jadi nanti penghuni petik hasil panen sendiri, cuci hasil panen, ditimbang, lalu bayar. Bagi sebagian penghuni itu seperti rekreasi karena banyak yang baru mencoba panen tanaman,” kata dia.

Uang hasil penjualan itu dimanfaatkan untuk biaya pemeliharaan sarana bercocok tanam hingga membayar upah pekerja yang memang ditugaskan khusus mengurus tanaman produksi tersebut.

Kegiatan ini juga menciptakan lapangan pekerjan mandiri dan memberdayakan para pemulung sehingga terjadi aspek sosial di dalamnya. “Terjadilah di sini swasembada biaya dan kontinuitas usaha. Semua tercatat jelas, dan pengeluarannya juga dilaporkan,” ujar Kadek.

Kadek mengatakan, konsep itu sudah diterapkan sejak tahun 2011 lalu. Urban Farming sendiri saat ini sudah diterapkan di Apartemen Nias Residence Kelapa Gading dan Apartemen Mediterania Garden 2 Residence Tanjung Duren. Kedepan, beberapa apartemen yang dikelola oleh Inner City juga akan mengaplikasikan Urban Farmin ini, salah satunya Kalibata City.

Dia pun menjamin urban farming itu tidak merusak gedung apartemen. “Standar keamanan, keselamatan, dan kenyaman penghuni tetap diprioritaskan,  jadi semua pasti aman,” ucap dia.

Berkat kreativitas itu, Kadek beberapa kali diminta untuk berbagi konsep mengembangkan urban farming tersebut. Dia mengatakan, Kedutaan Besar Belanda juga pernah mengajaknya berbagi ilmu karena konsep itu dianggap berhasil.

Selain itu, Kadek juga beberapa kali diminta pihak Kelurahan Tanjung Duren Selatan untuk membagikan ilmunya kepada kelompok Ibu PKK Kelurahan.

“Kami senang bisa berbagi konsep itu agar lebih banyak orang yang bisa menerapkannya. Bahkan penghuni apartemen yang kami kelola minta diperbanyak lahan yang digunakan untuk urban farming itu,” kata Kadek.