Reporter: Hendrika Yunapritta | Editor: Hendrika
KONTAN.CO.ID - Membaca realitas sosial yang dibungkus dengan kedekatan pada alam, adalah ungkapan yang kita temukan dalam buku Perjalanan Celeng Ke Surga, karya Floribertus Rahardi.
F. Rahardi, dikenal juga sebagai pemerhati tanaman serta penulis bidang agribisnis di KONTAN, meluncurkan buku sastra yang bergaya prosa lirik. Selain dikenal sebagai pakar tanaman, Rahardi juga sastrawan.
"Menulis sastra itu harus tahan miskin, kalau mau kaya jadi buzzer," cetus Rahardi yang biasa ceplas ceplos ini saat seminar dan peluncuran bukunya di Atmajaya Jakarta, Sabtu (29/11) lalu.
Gaya ceplas ceplos Rahardi bisa kita baca di buku terbarunya ini. Melani Budianta, guru besar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia yang menjadi salah satu narasumber dalam seminar, mengungkapkan Perjalanan Celeng ke Surga memaparkan hal-hal serius dengan main-main.
"Semua kemampuan dikeluarkan oleh Rahardi, termasuk ilmu botani, zoologi, lingkungan," ujarnya sembari menegaskan bahwa Rahardi sejak awal adalah seorang penyair yang sangat kritis pada kondisi sosial masyarakat dan sangat suka sejarah. Kali ini, Rahardi menyajikannya dalam bentuk prosa lirik.
Baca Juga: Update Kode Redeem FC Mobile November 2025, Dapatkan Reward Pemain, Bisa Pilih!
Maka, dalam buku terbitan Obor setebal 245 halaman ini, kita bakal menemukan berbagai hal yang dibahas, dari hutan Sanggabuana, kerusuhan 1998, profesi wartawan, Taman Nasional Baluran, kopi, dan segala macam.
"Ini gaya Mikhail Bakhtin, heteroglossia, segala macam dibahas, campur aduk," tutur Melani. Bahkan point of view bisa beragam, dari celeng sampai Mbok Ngatirah.
Sedangkan Budi Widianarko, guru besar Fakultas Teknologi Pangan dan Kesehatan Unika Soegijapranata menyoroti prosa lirik ini, lekat dengan lokalitas dalam perspektif lingkungan. Pasalnya, di dalam buku ini, ada contoh-contoh kearifan dan spiritualitas lokal.
"Karena kalau kita membahas mengenai global climate change, itu justru mengalihkan perhatian dari masalah lokal," tuturnya. Fokus berlebihan pada narasi global, berisiko bikin hyperobia, Rabun dekat pada masalah-masalah lingkungan di depan mata kita, seperti sampah dan mikroplastik serta pencemaran radioaktif pada pangan yang banyak mengemuka belakangan ini.
Adapun Mikahel Dua, guru besar Fakultas Psikologi Universitas Atmajaya Jakarta, mengemukakan buku ini meminta kita untuk kembali mendengarkan alam.
"Mengumpulkan kemarahan atau apapun yang kita lihat untuk dipaparkan," katanya sembari menjelaskan bahwa celeng dalam prosa lirik ini adalah kita semua. Celeng yang berani menyuarakan keresahan masyarakat.
Selanjutnya: Aliran Modal Asing Masuk Rp 12,70 Triliun Ke Pasar Keuangan Indonesia Sepekan
Menarik Dibaca: 9 Inspirasi Dapur Rustic Kekinian yang Hangat dan Nyaman untuk Hunian Anda
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
