Tokoh

Dari F&B Hingga Pet Food, David Hadiputra Mantapkan Langkah Sebagai Pet-Preneur

Sabtu, 19 September 2026 | 05:42 WIB
Dari F&B Hingga Pet Food, David Hadiputra Mantapkan Langkah Sebagai Pet-Preneur

ILUSTRASI. David Hadiputa, Managing Director PT Link Two Link Indonesia (Dok Pribadi/David Hadiputra)

Reporter: Fahriyadi  | Editor: Fahriyadi .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. David Hadiputra, Managing Director PT Link Two Link Indonesia (Link2Link), tidak pernah menetapkan satu industri tertentu sebagai fokus perjalanan bisnisnya sejak awal. Perjalanannya justru membawanya dari bisnis manufaktur, makanan dan minuman (F&B), hingga kini semakin fokus pada industri makanan hewan peliharaan (pet food). Namun, dari berbagai bisnis tersebut, David menemukan satu prinsip yang sama, yaitu bisnis yang mampu bertahan harus memiliki alasan yang jelas untuk dibutuhkan konsumennya.

“Bagi saya, bisnis jangka panjang harus berangkat dari kebutuhan yang nyata. Kita tidak mulai dari apa yang ingin kita jual, tetapi dari apa yang benar-benar dibutuhkan konsumen,” ujar David saat berbincang dengan KONTAN beberapa waktu lalu.

Lulusan Singapore Institute of Management dengan latar belakang Business, Marketing, dan Finance ini mengawali perjalanan profesionalnya pada bidang keuangan di Singapura. Setelah kembali ke Indonesia pada masa pandemi Covid-19, David mulai membangun bisnis sendiri, diawali dari penyediaan rope (tali_ untuk industri pelayaran, kemudian masuk ke sektor F&B melalui Gaja Chicken dan The Layer.

Pengalaman lintas industri tersebut turut membentuk cara David membangun bisnis. Salah satu pembelajaran terbesarnya datang ketika Gaja Chicken berkembang dan mulai menarik minat untuk diwaralabakan, sementara tim dan sistem saat itu belum cukup siap untuk mendukung pertumbuhan yang lebih besar.

“Dari situ saya belajar bahwa demand saja tidak cukup. Semakin besar bisnis, semakin penting kesiapan tim dan sistem untuk menopang pertumbuhannya. Karena itu saya sangat percaya pada continuous improvement,” jelas David.

Menemukan Fokus di Industri Pet Food

Dari sejumlah bisnis yang dijalankannya, pet food kini menjadi salah satu fokus utama David. Melalui PT Link Two Link Indonesia (Link2Link), ia mengembangkan bisnis distribusi dan pengembangan merek pet food internasional di Indonesia, termasuk Taste of the Wild, Diamond Naturals, Wanpy, dan Aatas Cat. 

Menurut Euromonitor International, nilai penjualan ritel industri pet care Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar Rp10,4 triliun pada 2026, tumbuh sekitar 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu,  Future Market Insights memperkirakan penetrasi commercial pet food masih berada di bawah 30% dari total populasi hewan peliharaan. Menurut David, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peluang industri tidak hanya datang dari bertambahnya jumlah pemilik hewan, tetapi juga dari meningkatnya pemahaman pet owners terhadap kebutuhan nutrisi hewan peliharaan.

“Pertumbuhan industri bukan hanya soal menjual lebih banyak produk. Yang lebih penting adalah bagaimana pet owners semakin memahami kebutuhan hewan mereka dan bisa membuat keputusan yang lebih baik,” ujarnya.

Sejak berdiri pada 2024, Link2Link telah membangun jaringan lebih dari 350 retailer dan pet shop di Jawa, Sumatra, Bali, dan Sulawesi, serta mencatat pertumbuhan pendapatan sekitar 40% pada 2025.

Ke depan, Link2Link menargetkan pendapatan hingga lima kali lipat dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Pertumbuhan akan diarahkan melalui penguatan merek yang sudah ada, peningkatan performa di jaringan retailer, perluasan distribusi ke wilayah potensial, serta penambahan merek dan kategori secara selektif.

Namun, pengalaman membangun berbagai bisnis membuat David memilih untuk tidak mengejar ekspansi tanpa kesiapan yang memadai.

“Berdasarkan pengalaman, terlalu cepat ingin berkembang ke banyak hal tidak selalu baik untuk bisnis jangka panjang. Kita harus benar-benar kuat di satu area sebelum masuk ke area berikutnya. Fokus dulu pada kebutuhan konsumen, produk, tim, dan sistem,” kata David.

Baginya, pet-preneur menjadi fokus yang merepresentasikan perjalanan bisnisnya saat ini, namun bukan batas dari identitasnya sebagai entrepreneur.

“Menjadi pet-preneur adalah fokus saya saat ini dan entrepreneur adalah identitas yang lebih besar. Pengalaman dari bisnis-bisnis sebelumnya banyak saya bawa ketika membangun bisnis sekarang. Industri bisa berbeda, tetapi pada akhirnya saya selalu kembali pada kebutuhan apa yang ingin kita jawab dan nilai apa yang bisa kita berikan,” ujarnya.

David berharap perkembangan industri pet food Indonesia ke depan tidak hanya tercermin dari semakin besarnya nilai pasar, tetapi juga dari meningkatnya pemahaman masyarakat dalam merawat hewan peliharaan.

“Saya melihat masih banyak ruang untuk membuat industri ini lebih baik, bukan hanya dengan menghadirkan lebih banyak pilihan produk, tetapi dengan benar-benar memahami apa yang dibutuhkan pet owners dan hewan peliharaan mereka. Itu yang ingin terus saya bangun di industri pet food,” kata David.

Ia pun optimis pada bisnis pet food di Indonesia karena industri ini disebut anti krisis, maksudnya kenaikan harga produk lantaran depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS atau kenaikan harga bahan baku di negara asal tidak terlalu berpengaruh pada daya beli pet owners.

Ia pun memprediksi ke depan semakin banyak orang yang berminat untuk memiliki hewan peliharaan seperti kucing dan anjing, khususnya kalangan Milenial dan Gen Z. Hal ini juga ditandai dengan semakin banyak pet shop yang ekspansi ke berbagai wilayah, khususnya di perkotaan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Terbaru