Kuliah Umum UGM: Tenaga Kerja Berkeahlian Rendah Masih Dominasi Dunia Kerja Indonesia

Rabu, 05 Oktober 2022 | 15:38 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Kuliah Umum UGM: Tenaga Kerja Berkeahlian Rendah Masih Dominasi Dunia Kerja Indonesia

ILUSTRASI. Kuliah Umum UGM: Tenaga Kerja Berkeahlian Rendah Masih Dominasi Dunia Kerja Indonesia. ANTARA FOTO/Makna Zaezar/foc.


KONTAN.CO.ID -  Dunia kerja di Indonesia saat ini masih didominasi oleh pekerja berkeahlian rendah atau low skill

Fakta tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi B.Sukamdani, dalam kuliah umum yang diselenggarakan oleh.

Hariyadi mengungkapkan, dari data Bappenas tahun 2018 diketahui pekerja di sektor pertanian dan industri sebagian besar berkeahlian rendah. 

Dari total pekerja sebanyak 121,02 juta sekitar 99,41% pekerja di sektor pertanian adalah berkeahlian rendah, 0,47% berkeahlian menengah, dan hanya 0,13% berkeahlian tinggi. 

Baca Juga: Lulusan SMA Juga Bisa Daftar Kartu Prakerja Gelombang 46, Ini Caranya

Kondisi tersebut tidak jauh berbeda di sektor manufaktur dimana sebanyak 90,45% berkeahlian rendah, 6,52% berkeahlian menengah, dan 3,03% berkeahlian tinggi. 

Kemudian pada sektor jasa dan lainnya cenderung membutuhkan keahlian menengah dan tinggi dengan perincian sebanyak 14,36% berkeahlian tinggi, 52,74% berkeahlian menengah, dan 32,90% berkeahlian rendah.

“Dalam empat tahun terakhir, proporsi pekerja formal berkisar pada 42% atau sekitar 53,09 juta di tahun 2018. Pekerja formal sektor industri cenderung berkeahlian rendah. Rendahnya kualitas pekerja ini salah satunya disebabkan keterbatasan angkatan kerja memperoleh pelatihan,”paparnya.

Pekerja perlu tingkatkan keterampilan

Hariyadi menyampaikan tenaga kerja di Indonesia selama tahun 2018-2021 masih didominasi oleh pekerja dengan tingkat pendidikan SD ke bawah. 

Masih mendominasinya pekerja dengan pendidikan rendah menandakan kualitas pekerja di Indonesia masih sangat rendah.

Menurutnya, upaya peningkatan keterampilan menjadi sangat penting untuk dilakukan. Salah satunya dengan membangun lingkungan pengembangan keterampilan yang baik. 

Beberapa diantaranya seperti pengembangan SKKNI sektor prioritas, pemagangan, pelatihan kejuruan, dan revitalisasi BLK. 

Selain itu, skema kebijakan ketenagakerjaan komprehensif  untuk pengembangan keterampilan. 

Kerja sama industri dengan sekolah kejuruan dan perguruan tinggi juga tidak kalah pentingnya dalam upaya meningkatkan keterampilan pekerja.

“Karenanya penting dilakukan kerja sama antara UGM dan APINDO ini untuk meningkatkan low skill pekerja ke medium bahkan high skill,” jelasnya

Baca Juga: 3 Penyakit yang Wajib Diwaspadai saat Cuaca Ekstrem Pekan Ini, Simak Apa Saja

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono, yang diwakili oleh Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, menyampaikan, industri kelapa sawit mempunyai peranan yang strategis terutama sebagai sumber devisa, penyerapan tenaga kerja dan pengembangan wilayah sehingga perlu terus dijaga kesinambungannya. 

Dengan luas dan tersebarnya industri sawit menjadi salah satu tempat belajar bagi mahasiswa maupun lulusan perguruan tinggi untuk untuk lebih memahami kinerja objektif industri sawit di lapangan.

“Dengan peran penting industri sawit dan luasnya penggunaan produk sawit untuk berbagai keperluan, sudah selayaknya UGM sebagai salah satu Perguruan Tinggi tertua dan terbesar di Indonesia memberikan perhatian lebih kepada industri sawit, dalam bentuk pengkajian, penelitian maupun riset-riset karya tulis yang dilakukan oleh mahasiswa maupun staf pengajar,” paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tiyas Septiana

Terbaru