Kumpul-kumpul startup, siapa tahu jadi incaran

Rabu, 21 Maret 2012 | 10:07 WIB
Sumber: Mingguan KONTAN, Edisi 20 - 27 Maret 2012  | Editor: Catur Ari

Gemuruh tawa ratusan orang mengguncang aula kantor Microsoft Indonesia di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (8/3) malam dua pekan lalu. Di depan aula, tampak Daniel Mananta, pembawa acara Indonesian Idol di RCTI.

Jangan salah, Daniel tidak sedang membanyol. Ia justru lagi menjadi pembicara dalam acara meetup #StartupLokal. Cuma, meski harus memaparkan materi yang serius, dia menyajikannya dengan fun. Malam itu, bekas video jockey (VJ) MTV ini berbagi pengalamannya terjun ke bisnis online.

Itulah salah satu acara pertemuan rutin bulanan atawa meetup yang digelar #StartupLokal. #StartupLokal? Ya, ini adalah komunitas pelaku usaha rintisan di bidang digital dan teknologi informasi alias information technology (IT).

Istilah startup sebenarnya berasal dari Sillicon Valley, pusat industri IT di Amerika Serikat. Untuk bisa menyandang status startup, sejatinya usaha rintisan digital dan IT harus memiliki tiga kriteria. Pertama, usahanya baru berdiri sekitar dua tahun. Kedua, jumlah karyawannya di bawah 20 orang. Ketiga, pendapatannya belum Rp 1 miliar per tahun.

Cuma, di #StartupLokal, tidak ada batasan semacam itu. Pokoknya, semua pengusaha rintisan digital dan IT bisa bergabung di komunitas ini. Bahkan, yang belum punya usaha dan baru bercita-cita ingin berbisnis di bidang digital dan IT juga boleh masuk menjadi anggota. “Tidak sedikit anak SMA yang datang ke acara kami. Karena sebenarnya syarat untuk bergabung di komunitas ini adalah mau maju dan memiliki cita-cita menjadi entrepreneur,” kata Natali Ardianto, salah satu pendiri #StartupLokal.

Komunitas ini terbentuk secara tidak sengaja melalui jejaring sosial Twitter. Itu sebabnya, terdapat tanda pagar dalam nama komunitas tersebut: #StartupLokal. Ketika itu, April 2010, saat saling berkicau di Twitter, beberapa pelaku usaha rintisan IT memutuskan untuk kopi darat di sebuah kedai kopi di FX Plaza Senayan.

Mereka tak menyangka. Target semula hanya belasan orang yang datang, ternyata yang hadir sampai 33 orang. Dari situlah terpikir untuk membuat sebuah komunitas. “Asyik juga, nih, semuanya ngurusin startup, bagaimana kalau kita ketemuan rutin sebulan sekali,” cetus Nuniek Tirta Sari, salah satu inisiator #StartupLokal, dalam pertemuan ketika itu.

Pertemuan kedua berlangsung di sebuah kafe di daerah Menteng. Lagi-lagi, yang datang jauh di luar perkiraan. Ada 140 orang yang hadir. Saking banyaknya, pengelola kafe sampai komplain ke mereka lantaran tempatnya penuh tapi yang pesan sedikit. “Akhirnya, kami minta temen-teman supaya order makanan, minuman, agar kami tidak diusir,” ujar Nuniek tergelak mengenang kejadian di pertemuan kedua itu.

Dari situ terlintas untuk merumuskan format acara yang lebih serius. Kalau dulu lebih bersifat informal, pertemuan berikutnya mengusung konsep layaknya sebuah seminar, dengan tema tertentu yang bisa berguna buat pengelola startup. Tetapi, suasananya tetap informal, dan yang tidak kalah penting adalah acaranya gratis dan terbuka bagi siapa saja.

Dapat sponsor

Meski awalnya kesulitan mencari tempat, lambat laun sponsor lokasi dan logistik pun mulai berdatangan untuk membantu meetup. Ambil contoh, dari Telkom, Nokia Indonesia, Microsoft, dan Bakrie Telecom. Sebetulnya, ada beberapa perusahaan, seperti Gramedia, yang menawarkan tempat untuk pertemuan rutin #StartupLokal. “Cuma, kami ingin tempatnya berganti-ganti supaya tidak monoton,” imbuh Nuniek.

Dalam meetup, berbagai tema yang terkait dengan upaya membangun usaha rintisan di bidang digital dan IT menjadi topik pembahasan. Biasanya yang berkaitan dengan bisnis, marketing, dan sejenisnya. Soalnya, materi yang berhubungan dengan pemrograman dan desain web, sudah banyak diketahui oleh para peserta.

Makanya, pengetahuan seperti bisnis, pemasaran, dan hukum yang paling banyak disajikan. “Melalui pembahasan di meetup dengan pembicara yang kami datangkan dan juga anggota komunitas yang berpengalaman, pelaku usaha startup bisa saling bantu untuk menyelesaikan masalah-masalah itu,” jelas Natali.

Selama ini, pengembang startup seringkali mengalami kesulitan dari aspek bisnis. Kebanyakan dari mereka mampu membuat produk situs yang bagus, namun kurang memiliki pengetahuan soal cara memasarkan dan mengemasnya. “Bisa jadi promosinya lemah, branding image tidak kuat, bisnis modelnya membingungkan, monetisasi atau cara mendatangkan uangnya dari mana tidak jelas,” papar Nuniek. Nah, dengan ikut meetup #StartupLokal, pengembang usaha rintisan digital dan IT bisa belajar aspek-aspek bisnis itu.

Bagi pelaku usaha yang menghadapi kesulitan teknis masalah semisal server dan web design, bisa berkonsultasi via mailing list startuplokal@yahoogroups.com dan Twitter
@startuplokal untuk diskusi online. Dua wahana komunikasi ini awalnya cuma difungsikan sebagai saranan janjian untuk kopi darat. Tetapi saat ini, keduanya menjadi forum obrolan, bahkan kerap jadi rujukan startup developer yang menghadapi masalah teknikal.

Kini, sudah ada 1.365 anggota yang bergabung di milis dan 5.986 followers di Twitter. “Sejak awal kami tidak kenal sistem keanggotaan. Pokoknya, siapa pun silakan datang dan ikut acara,” ujar Nuniek.

Di meetup, pembicara dari segala lapisan dan kalangan sudah hadir berbagi pengetahuan soal perbagai tema. Pada meetup v. 23, Kamis (8/3) dua pekan lalu, misalnya, mengangkat tema membangun usaha e-commerce. Selain Daniel, pembicara lain adalah Bernhard Soebiakto, pemilik Octovate Group yang mengelola OMG Consulting, OnBee, Fimela.com, serta Dapur Film. Kemudian, Heriyadi Janwar, Platform Strategy Lead Microsoft Indonesia.

Chief Executive Officer (CEO) Nexian Izak Jenie juga pernah hadir untuk berbicara soal mobile industry. Begitu juga dengan Bret Terrill, Director of Corporate Development Zynga, yang menyajikan materi tentang social media and mobile gaming industry.

Untuk tema personal branding dan brand image, pernah tampil Rene Canoneo Suhardono, pengusaha kafe sekaligus konsultan sumber daya manusia, dan Silih Wasesa, konsultan hubungan masyarakat dan pemasaran. Adapun masalah perencanaan keuangan, pernah juga hadir perencana keuangan Ligwina Hananto dan Aidil Akbar sebagai pembicara.

Orang-orang penting

Peserta yang datang? Jangan ditanya lagi. Pernah suatu waktu yang hadir ke meetup mencapai 400 orang. Lucunya, lantaran yang datang terkadang sampai ratusan orang, banyak orang penting yang hadir sebagai peserta tidak ketahuan.

Martin Hartono, salah satu contohnya, pernah beberapa kali datang ke meetup. Martin adalah putra Robert Budi Hartono, pemilik Grup Djarum. Dia pernah mengejutkan dunia IT dengan membeli Kaskus.com, situs komunitas online terbesar di Indonesia. “Karena orangnya low profile, kami tidak tahu. Kami baru tahu belakangan,” ujar Nuniek tertawa.

Petinggi Grup Bakrie juga pernah beberapa kali datang. Selain itu, investor dari perusahaan venture capitalist di Jepang, Singapura, China, dan Amerika Serikat juga sering hadir ke pertemuan bulanan #StartupLokal. Mereka datang untuk berburu startup lokal mana yang layak mendapat bantuan modal ventura.

Adanya media yang sering hadir di meetup juga membantu pemberitaan dan pemasaran startup lokal. Natali dan inisiator #StartupLokal lainnya, contohnya, pernah diundang untuk melongok perkembangan startup di Irlandia. Ini bisa terjadi setelah seorang pejabat Pemerintah Irlandia membaca tentang #StarupLokal dari sebuah majalah ketika menginap di sebuah hotel di Jakarta.

Banyaknya orang yang hadir dengan berbagai latar belakang memang sudah terbukti mampu menjadikan meetup komunitas ini sebagai ajang networking. “Pertemuan bulanan itu diharapkan akan menciptakan networking semua pihak yang berminat terhadap startup,” ungkap Aulia Halimatussadiah, inisiator lain #StartupLokal.

Tujuannya, menciptakan ekosistem yang matang antara startup dengan investor. Dengan begini, perkembangan dunia usaha digital dan IT akan semakin pesat dan terjamin keberlangsungannya. “Visi kami adalah menjadikan Indonesia sebagai digital IT hub di Asia. Misinya adalah menjembatani komunikasi antara teknopreneur, developer, investor dan media,” beber Natali.

Tertarik bergabung?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Terbaru