Masih minim penghargaan, baru sebatas ajang kreasi

Rabu, 23 Maret 2011 | 09:59 WIB
Sumber: Harian KONTAN, 23 Maret 2011  | Editor: Test Test

Para pengembang atau developer aplikasi masih belum bisa merasakan nikmat dari menjamurnya pengguna ponsel sistem operasi Android di Indonesia. Padahal, di sisi lain, tanpa keanekaragaman aplikasi maka Android ibarat rumah tanpa perabotan.

Chief Executive Officer (CEO) Javan IT Services Wisnu Manupraba melihat, masalahnya adalah masih minimnya penghargaan bagi developer aplikasi Android. Maklum, Google sebagai pemilik Android tidak serius mengembangkan pasar lokal. Mereka belum mengizinkan aplikasi berbayar dari para pengembang asal Indonesia.

Google hanya memberikan ruang pendapatan bagi developer Indonesia di Android Market melalui iklan per klik lewat Google Mobile Ads atau yang kadang dikenal sebagai Google Admob. Pendapatan dari sini sangat kecil. "Untuk 1.000 user, pendapatannya tidak sampai US$ 10 per bulan," keluh Wisnu.

Meski begitu, dia tetap menghargai langkah Google. Pembuat aplikasi Android sejak tahun 2010 ini sudah menciptakan tiga aplikasi yang bisa diunduh secara gratis melalui Android Market milik Google dan i-Store Indosat. Aplikasi itu adalah Kurs Rupiah, Ngomik, dan X Trans. Meski gratis, Wisnu tak mau membuat aplikasi yang asal-asalan. Produk ini merupakan cara berpromosi ampuh untuk mencari klien.

Wisnu bersyukur masih banyak perusahaan yang membutuhkan jasa pembuatan aplikasi. Ia mematok harga satu aplikasi Rp 50 juta. "Kami sudah membuat 10 aplikasi untuk klien perusahaan dalam negeri," papar dia.

Pengalaman berbeda terjadi pada Aditya Pamungkas. Pria ini mengaku pernah membuat aplikasi di Windows Mobile. Setelah Windows memperbarui sistem operasinya ini menjadi Windows 7, sistem tersebut menjadi tertutup.

Akhirnya, Aditya berpaling ke Android dengan membuat aplikasi Android bernama Angkutan Umum. Ia menawarkan aplikasi ini melalui toko aplikasi Indosat i-Store.

Aplikasi ini membantu pengguna Android mencari rute angkutan umum di wilayah Jabodetabek. Pengguna hanya tinggal memasukkan lokasi atau tempat tujuannya, maka aplikasi ini akan menampilkan daftar bus atau angkutan umum apa saja yang dapat digunakan.

Namun, kecilnya potensi fulus di Android Market ini juga membuat Aditya enggan menjajakan karyanya di gerai toko dunia maya tersebut. Ia lebih memilih menawarkan aplikasi di i-Store dan situs pribadi miliknya meski potensi diunduh oleh pengguna Android lebih kecil.

Andri Fisaterdi, Head of VAS and Content Development IM2, mengaku saat ini aplikasi di i-Store tengah dikembangkan Indosat. Targetnya, tahun ini akan ada 500 aplikasi baru di toko tersebut. Salah satu cara mencapai target itu adalah, menggelar kompetisi bagi developer aplikasi Android sejak Desember 2010 hingga Juni 2011.

Untuk meningkatkan kualitas aplikasi, IM2 menggelar IM2 Android Bootcamp. Program yang membahas seluk-beluk pembuatan aplikasi Android ini diberikan secara gratis dan rutin. Tak cuma di Jakarta, kegiatan ini juga bakal digelar di Bandung (ITB), Surabaya (ITS), Bogor (IPB), Yogyakarta (UGM), Medan, dan Makassar.

Saat ini pengguna ponsel Android bisa berbelanja aplikasi secara gratis maupun berbayar di i-Store. Misalnya aplikasi penanda masa subur bagi perempuan yakni FertileSystem. Ada pula berbagai kamus dan terjemahan, KaskusLauncher, ItsMe Messaging, Quran, dan horoskop. Sedangkan AHFin Rec merupakan aplikasi untuk menghitung keuangan keluarga, dan aplikasi lain-lain.

Telesindo-Telkomsel juga memanfaatkan ajang lomba untuk terus memberikan edukasi mengenai cara membangun aplikasi Android. "Beberapa kampus dan komunitas di Makassar dan Medan meminta kami mengadakan sosialisasi," kata Lily Salim, Direktur Bussines Development Telesindo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Terbaru