Menggali Pertemanan di Komunitas Mercy Macan

Sabtu, 02 Mei 2009 | 08:56 WIB
Reporter: KONTAN  | Editor: Test Test

Mercedes Bens Club IndonesiaMEMPUNYAI tunggangan Mercedes Benz memang membanggakan. Mobil kebanggaan orang Jerman ini memang menjadi simbol kemakmuran. Tak hanya Mercedes atau Mercy keluaran teranyar yang membuat pemiliknya bangga. Mercy lawas pun masih disayang-sayang oleh para penggemarnya. Bahkan, belakangan ini muncul komunitas Mercy lawas. Namanya Mercy Tiger Club (MTC).

Komunitas MTC merupakan kumpulan para pecinta Mercy yang diproduksi antara 1977 hingga 1986.

Asal tahu saja, sebenarnya penggemar Mercedes di negara asalnya tak mengenal Mercy Tiger. Adalah para pecinta Mercy di Indonesia yang menyematkan julukan khusus ini terhadap Mercy dengan nomor seri produk W123 ini.

Lantas, mengapa mobil ini mendapat embel-embel Tiger? Padahal, tampang si Mercy jauh dari kesan sangar.

Menurut Iswachyudhi, Bendahara MTC, sebutan Tiger diberikan oleh para pedagang di era mobil ini masih diproduksi di Indonesia. “Sebutan itu untuk mengekspresikan keunggulan spesifikasi yang dimiliki mobil seri ini,” tutur Iswachyudi.

Kala itu para pedagang mengekspresikan keunggulan Mercy ini dengan sebutan si Macan. Namun, karena sebutan “macan” kurang keren, mereka pun menggantinya dengan tiger, yang artinya juga macan. “Penamaan Tiger untuk Mercedesbenz seri W123 merupakan suatu bentuk apresiasi dari apa yang dilihat oleh orang pada waktu era kejayaan mobil ini,” kata Iswachyudhi.

Sebenarnya, lanjut dia, bukan hanya Mercy W 123 yang mendapat julukan unik. Penamaan serupa juga diberikan pada produk Mercedes Benz seri 300E, yang kerap disebut Boxer. Pemberian julukan tidak hanya dilakukan di Indonesia. Di luar negeri, seperti di Thailand, ada julukan Pagoda untuk Mercedes Benz seri 113.

Salah satu keunggulan Mercy Tiger adalah penerapan teknologi antilock braking system (ABS) yang kala itu merupakan teknologi maju. Sudah begitu, kualitas mesinnya juga oke alias bandel sehingga tidak menyulitkan si empunya kendaraan. “Harganya pun terjangkau oleh kantong banyak orang. Saat ini harga sekennya cuma Rp 30 juta”Rp 80 juta. Ada juga, sih, orang yang menjualnya seharga Rp 350 juta per unit,” kata Iswachyudhi.

Namun, ia buru-buru menambahkan, harga-harga Mercy Tiger lawas itu akan terbayar oleh tongkrongan mobil ini yang sangat ciamik. Tampilan Mercy Tiger terbilang klasik karena ada beberapa bagian mobil yang bersalut krom mengkilap sehingga menampilkan kesan elegan. “Siapa pun yang mengendarainya bakal memiliki pancaran kharisma dan kewibawaan,” tambah Iswachyudhi.

Mobil-mobil lansiran Mercedes-Benz memang memiliki jejak rekam yang mengesankan. Tak salah jika para pecinta Mercy Tiger pun akhirnya mau mengikrarkan diri membentuk MTC pada 12 Maret 1999. “Tanggal 12 Maret kami pilih untuk menyesuaikan nomor seri Mercy Tiger, yakni 123. Jadi, nomor itu bisa diartikan dengan 12 Maret,” papar Iswachyudhi.

Menurut dia, awalnya pada 1998, komunitas ini hanya merupakan wadah berkumpul yang anggotanya kurang dari 10 orang. Namun, dalam jangka waktu tidak sampai setahun, jumlah anggotanya sudah membengkak hingga mencapai 70 orang.

Bahkan, seiring berjalannya waktu, komunitas MTC pun makin membesar dan terus menyebar ke sejumlah daerah di Nusantara, termasuk Semarang, Yogyakarta, Cirebon, dan Surabaya. Sekretariat Pusat MTC di Jalan Ciomas II/23, Blok S, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Iswachyudi memerinci, jumlah anggota MTC di wilayah Jakarta mencapai 218 orang; Semarang (50), Surabaya (70), dan Cirebon 35 orang. Tumbuhnya MTC di berbagai daerah memang memaksa pusat MTC untuk membuka cabang sekretariat di daerah.

Semakin besarnya anggota komunitas ini juga semakin menunjukkan betapa besarnya fanatisme mereka terhadap Mercy Tiger. Padahal, kini sudah semakin bejibun komunitas-komunitas pencinta otomotif yang mengunggulkan teknonologi terbaru.

Syarat menjadi anggota cukup mudah

Menjadi anggota MTC memang tidak sulit, apalagi berbelit. Seperti laiknya sebuah organisasi, MTC pun tetap menerapkan persyaratan bila ingin menjadi anggota.

Di antaranya, anggota minimal harus memiliki satu unit Mercy Tiger yang telah berusia minimal 18 tahun. Selain itu, anggota hanya dikenai biaya bergabung (join fee) sebesar Rp 75.000 pada saat pertama kali mendaftar.

Untuk iuran bulanan, MTC hanya membebani anggotanya iuran sebesar Rp 15.000. Sedangkan untuk ongkos touring ditanggung sendiri masing-masing anggota. Walau begitu, pihak pengurus berusaha mencari sponsor untuk menekan biaya touring. “Orang yang bukan anggota tidak dapat mengikuti kegiatan tersebut, kecuali direkomendasikan oleh anggota klub, itu pun dikenai biaya normal,” kata Iswachyudhi.

Seperti kebanyakan komunitas otomotif lain, kegiatan MTC juga berkutat di seputar otomotif, mulai diskusi otomotif, tren teknologi, hingga pameran mobil. Di Jakarta, tempat berkumpul paling favorit anggota MTC adalah Parkir Timur Senayan. Di situlah mereka membahas beragam seluk-beluk mobil kesayangan mereka, mulai mesin hingga aksesori.

Kegiatan yang paling digemari oleh anggotanya adalah touring. “Seperti klub-klub otomotif lainnya, kegiatan kami tidak hanya berkumpul di satu tempat dan duduk-duduk saja, melainkan juga membuat perjalanan wisata ke sejumlah situs wisata,” kata pria yang telah menjadi anggota MTC sejak komunitas ini berdiri.

Meski begitu, MTC juga tak lekang dari kegiatan sosial, terutama saat mereka melakukan touring. Contohnya, pada 7 Maret-8 Maret lalu, MTC mengadakan perjalanan ke Ciamis, Jawa Barat. Bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat, mereka menyosialisasikan objek-objek wisata, seperti Situ Panjalu dan Ciungwanara yang merupakan situs kerajaan purba tertua di Jawa.

MTC juga aktif membantu saat gempa besar terjadi di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Mereka memberi bantuan berupa bahan bangunan. Tujuannya, agar masyarakat setempat bisa segera membenahi rumah secara berkelompok di setiap RT.

Anak muda pun tertarik bergabung

Kegiatan sosial lainnya adalah memberikan bantuan pada korban banjir di Jakarta, dan masih banyak lagi. “Jadi kami tidak hanya memikirkan satu kelompok yang eksklusif, melainkan juga memikirkan bantuan untuk masyarakat yang membutuhkan,” papar Sunar Satrijo, anggota MTC Cabang Semarang, Jawa Tengah.

Kebersamaan. Itulah kata kunci yang membuat seluruh anggota komunitas MTC hingga kini terus menyatu. Bahkan, hal tersebut juga mengundang orang di luar komunitas tertarik bergabung dengan MTC. “Ketika touring kami sangat kompak. Jika ada sesuatu yang terjadi pada anggota saat konvoi, semua akan berhenti, saling membantu,” kata Satrijo yang mengaku memiliki koleksi tiga Mercy Tiger ini.

Suasana kebersamaan di antara para anggota itu juga diakui oleh Felix P. Oetomo. Felix adalah anggota MTC termuda karena dia baru berusia 19 tahun ketika bergabung dengan MTC pada 2007 lalu. Menurut Felix, MTC merupakan komunitas yang peduli pada setiap anggotanya.

Dengan bergabung dalam MTC, Felix mengaku bisa berkenalan dengan banyak orang dari berbagai latar belakang pekerjaan, pendidikan, usia, maupun gender. Dengan begitu, dia bisa mempelajari banyak karakter orang. Apalagi, kendati sebagian besar anggota MTC berusia di atas 40 tahun, masing-masing tetap menghargai satu sama lain. “Biasanya orang tua acuh terhadap anak muda, tapi di sini tidak. Kami sama rata sama rasa,” kata Felix, pemilik satu Mercy Tiger.

Kelak, Bakal Jadi Klub Mandiri dan Profesional

SIAPA bilang kegiatan komunitas hanya terbatas sebagai ajang berorganisasi semata? Menurut Iswachyudhi, Bendahara Mercedes-Benz Tiger Club (MTC), sedari awal komunitas ini memang ditargetkan untuk bisa mandiri dan profesional.

Artinya, kelak komunitas ini bisa mempunyai unit usaha produktif sendiri yang dikelola oleh para anggota komunitasnya. Dengan begitu, komunitas ini tidak akan lagi bergantung pada sponsor karena secara ekonomi sudah mandiri.

MTC meyakinkan, komunitas ini sangat terbuka bagi para anggota yang berminat untuk mengembangkan usahanya. Asalkan, mereka memenuhi aturan main yang berlaku. Misalnya, ada anggota yang memiliki usaha jual beli suku cadang. Dia boleh menawarkannya kepada anggota komunitas, asalkan melalui pengurus kegiatan usaha MTC.

Si anggota hanya memberikan daftar harganya. Selanjutnya pengurus komunitas akan mendistribusikan produknya kepada anggota yang ingin membelinya. Di sini, para pengurus bisa menetapkan harga yang sedikit lebih tinggi dari daftar harga tersebut.

Walau demikian, keuntungan penjualan itu bukan untuk pengurus. Nantinya keuntungan itu akan masuk ke kas organisasi. “Sistemnya dengan anggota yang memiliki usaha tersebut adalah konsinyasi,” kata Iswach-yudhi.

Selain itu, adanya anggota komunitas yang memiliki koresponden di luar negeri memudahkan mereka mendapatkan suku cadang yang sudah tak tersedia di Indonesia. Jejaring seperti ini, kata Iswachyudhi sungguh penting bagi komunitas mobil tua MTC. Sebab, di sini sudah tidak ada lagi kepastian pasokan suku cadang.

Contoh lain, anggota yang kreatif bisa-bisa saja membuat merchandise dan memasarkannya ke anggota yang lain melalui pengurus organisasi. Sistemnya pun sama seperti pada usaha suku cadang tadi, yaitu melalui sistem konsinyasi alias titip barang.

Singkat cerita, komunitas sebesar MTC memang bisa membuka peluang usaha bagi anggota yang jeli. Sekarang tinggal minat anggota, mau sekadar mejeng rame-rame atau sekalian mengail fulus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Terbaru