SEPERTI daerah lainnya, Jawa Timur juga mempunyai sajian kuliner yang khas. Sebut saja, rujak cingur, rawon, tahu tek, lontong kupang dan sebagainya. Menu-menu inilah yang kerap dijajakan di warung-warung khas Jawa Timuran. Di Jakarta, Anda bisa mencicipi menu jawa timur di Warung Ngalam.
Nama Ngalam berasal ejaan terbalik kata Malang, kota yang ada di Jawa Timur. Maklum, arek Jawa Timur memang suka mengucapkan kata dengan terbalik.
Kendati penampilannya sederhana, Warung Ngalam yang terletak di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, menjadi buruan pecinta kuliner di Jakarta. Saat KONTAN bertandang ke sana, banyak pekerja kantoran yang tengah bersantap siang di Ngalam.
Dwi Rini Handayani, pengelola Warung Ngalam, mengaku, kedai ini diciptakan dengan konsep minimalis. Artinya, semuanya tampil dalam ukuran minimal.
Kedai ini memang tak besar ukurannya. Dengan bentuk memanjang, Ngalam menempati lahan seluas 50 meter persegi. Ada 50 bangku kayu bundar dengan meja kayu memanjang yang melekat di kedua dindingnya.
Kaleng kerupuk biru berjajar rapi di antara bagian meja panjang. Tak ketinggalan botol sambal, kecap, dan peralatan makan.
Kipas angin mengusir gerah para pengunjung kedai. Tapi, Jangan khawatir, Anda tak bakal kepanasan karena pemilik membiarkan salah satu dinding warung terbuka. Alhasil, sembari makan, Anda bisa melihat ke jalan.
Meski tampil minimalis, Ngalam selalu tampil bersih dan rapi. "Biar pun konsepnya warung, kami ingin tampil bersih dan aman," kata Dwi. Benar saja, Anda pun tak akan mendapati seorang pengamen di warung Ngalam.
Pemilik Ngalam, Hariono, menyediakan berbagai sajian menu-menu khas Jawa Timur. "Semua menu ini berasal dari resep keluarga pemilik kedai," ujar Nunuk Saptaningtyas, pengelola Ngalam. Beberapa sajian andalan Ngalam adalah rawon, sop iga, iga goreng dan asem-asem bandeng.
Rawon Ngalam tersaji dalam sebuah mangkok putih, lengkap dengan sambal dan tauge pendek yang disajikan dalam mangkok terpisah.
Irisan daging rawon yang tersaji lumayan besar dan banyak. Bumbu rawon juga meresap sempurna, hingga kuah berwarna hitam pekat. Begitu kuah rawon panas mengalir, aroma yang segar plus gurih segera terasa.
Sebagai teman makan rawon, Anda bisa memesan telur asin. Telur asin ini memang harus dipesan sendiri karena tak tergabung dalam menu rawon ini. Anda juga bisa mencicipi bakwan jagung Ngalam yang tak kalah gurih.
Di Ngalam, pemilik membiarkan pengunjung mengambil nasi sendiri. Bila masih lapar, Anda bisa menambah nasi sepuasnya, dan tetap hanya membayar untuk satu porsi.
Sajian lain yang tak kalah gurih adalah sop iga. Dalam sebuah mangkok putih, irisan kentang, wortel dan tomat terlihat melengkapi sop iga. Ada pula taburan bawang goreng dan daun bawang.
Daging sop begitu gampang terlepas dari tulang. Tak perlu pula susah mengunyah, karena daging sop iga ini empuk. Jangan lupa menyeruput kuah sop yang terasa sangat gurih.
Iga goreng juga layak menjadi pesanan berikutnya. Rasa asin, asam, dan manis berpadu dalam daging iga nan empuk ini. Sama seperti sopnya, daging iga juga sangat empuk dan gampang terlepas dari tulang.
Bila ingin yang lebih segar, Anda bisa memesan asem-asem bandeng. Rasa asam pedas kuah bandeng bisa menyegarkan mulut. Tak heran, irisan belimbing wuluh dan cabe merah terlihat pula menemani bandeng yang telah dicabut durinya itu.
Yang perlu diingat, makan banyak di Ngalam tak akan menguras isi kantong. Pasalnya, banderol harga menu di kedai Ngalam cukup bersahabat. Misalnya, harga seporsi rawon Rp 18.500, harga semangkok sop iga Rp 26.000, dan harga iga goreng dengan berat 500 gram Rp 33.000. Harga seporsi kuah asam bandeng, jugahanya Rp 20.000.
Dari Jepang ke Kampung Sendiri WARUNG Ngalam yang berdiri sejak dua tahun lalu, berawal dari ide sederhana. Hariono, sang pemilik, semula hanya ingin mempunyai tempat makan yang menjajakan masakan dari daerah asalnya, Malang. Tak mengherankan jika Hariono ingin mengembangkan menu kuliner asli kampung halamannya. Hariono yang juga pemilik griya pijat Bersih Sehat itu telah 15 tahun menggeluti bisnis restoran Jepang Midori. "Menjual menu Jepang saja bisa, kenapa saya tidak menjual masakan dari tempat asal sendiri? Saya menyesal baru punya pikiran itu tahun 2007," kata Hariono. Selain membuka Warung Ngalam di Wahid Hasyim, Hariono juga membuka Ngalam di Jalan Tebah, Mayestik, pada awal tahun ini. Namun konsep Ngalam di Mayestik berbeda dengan Warung Ngalam di Wahid Hasyim. "Di Mayestik konsepnya seperti resto. Jadi ada AC," tutur Dwi Rini Handayani, pengelola Warung Ngalam di Wahid Hasyim. Target pasar yang dibidik tentunya juga berbeda. "Kami membidik pasar dari kalangan atas," ujar Dwi. Jangan heran kalau banderol harga di Resto Ngalam lebih tinggi dibandingkan harga Warung Ngalam. Selain membuka cabang baru, Hariono juga menambah fasilitas untuk pelanggan Warung Ngalam di Wahid Hasyim. Pengelola menyediakan ruangan khusus berkapasitas 15 orang yang dilengkapi pendingin ruangan. Tak ada biaya khusus untuk menyewa ruang. Harga menu pun tetap sama. "Ruang ini bisa digunakan untuk event khusus, seperti meet-ing atau arisan," kata Dwi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News