MENYERUPUT SUP DI GUNUNG SINDUR

Senin, 05 Juli 2010 | 08:51 WIB
Reporter: Ragil Nugroho  | Editor: Test Test

Bosan dengan aneka hidangan kuliner di tengah kota, silakan berpetualang ke pelosok kampung. Salah satunya, nun di selatan Jakarta ada kedai Hajah Nunung yang menyajikan sup ayam dan sup sapi nan lezat.

Kedai yang berdiri sejak 1986 ini berada di Kampung Nagrog, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tepatnya sekitar dua kilometer dari Pusat Penelitian Ilmu dan Teknologi (Puspitek), Serpong, Tangerang Selatan, di pinggir jalan akses menuju Bogor.

Kendati berada di pelosok, kedai Hajah Nunung selalu dikunjungi pembeli. Bahkan di akhir pekan, calon penikmat menu olahan kedai ini harus mengantre panjang bak ular naga. Jalaran sebagian besar pengunjungnya dari luar Gunung Sindur, tak pelak tempat parkir di muka warung Hajah Nunung selalu penuh mobil.

Kedai yang beroperasi mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB ini sebenarnya menjajakan menu masakan Sunda. Nyatanya, warung ini tersohor dengan menu sup ayam, sup daging sapi, dan bakwan udang. “Sup ayam paling laris,” kata Noneng Nirmala, sang pewaris kedai Hajah Nunung.

Di terik siang, menu berkuah panas ini terasa menggigit dan membikin keringat bercucuran. Apalagi, pedas lada sesekali muncul di sela-sela aliran kuah sup.

Saat Anda menggigit potongan daging ayam berasa lembut dengan rasa bumbu yang menyodok lidah. Potongan daging ayam dan kuah sup bening ini terasa menyatu dengan bumbu sup nan sedap dan gurih. Rasa ini muncul karena daging ayam yang masih segar dimasak dalam racikan bumbu tumbuk tradisional. “Bumbu tidak diblender,” kata Noneng.

Begitu pula dengan sup daging sapi. Dagingnya tidak alot. Bedanya, sup daging sapi tampil dengan bumbu kental dan kuning karena bersantan.

Lantaran menu andalan, kedai ini berupaya menyediakan banyak porsi sup ayam dan sup daging. Di hari biasa, kedai Hajah Nunung menghabiskan minimal 10 ekor ayam yang khusus diolah menjadi sup ayam, dan 30 kilogram daging sapi.

Di akhir pekan, kebutuhan itu naik dua kali lipat, seiring kenaikan omzet. “Hari biasa omzetnya sekitar Rp 4 juta, di akhir pekan antara Rp 8 hingga Rp 10 juta,” kata Noneng.

Untuk bakwan udang, Noneng juga tidak sembarang mencomot udang bahan baku bakwan. Noneng hanya memilih udang yang segar sehingga ketika menjadi bakwan rasa gurih udang berselimut tepung terigu berbumbu sungguh renyah dan sedap di lidah.

Aroma bawang putih, bawang merah, lada, ketumbar, daun sere, jahe, cabe merah, dan cuka atau jeruk nipis berbaur menjadi satu di dalam adonan. Asal tahu saja, untuk 10 kg udang, membutuhkan tepung terigu sebanyak 4- 4,5 kg.

Sebakul nasi Rp 2.000

Selain terasa mantap di lidah, bersantap sepuasnya di kedai ini juga melegakan isi kantong. Maklum, harga semangkuk sup ayam atau sup daging hanya Rp 9.000 seporsi. Sedangkan sepotong bakwan udang besar harganya Rp 3.000.

Oh, ya, di sini, harga nasi Rp 2.000 per orang. Dengan biaya segitu, Anda bisa menambah nasi sesuka hati. Bahkan jika sanggup menghabiskan sebakul sekalipun, Anda hanya membayar Rp 2.000. Di hari biasa, kedai Hajah Nunung menghabiskan 75 kg beras. Di akhir pekan, kebutuhan beras menjadi 100-150 kg.

Layaknya rumah makan khas sunda, kedai Hajah Nunung menyediakan berbagai makanan pelengkap seperti sayur asem, pepes ikan mas, pepes jamur, dan pepes dadar telor. Dan yang tak boleh ketinggalan: lalapan sayuran segar.

Noneng meracik bumbu pepes yang terdiri dari rempah-rempah. Si ikan direndam di dalam air cuka selama tujuh jam kemudian dicuci dan dibumbui, dibungkus daun pisang, dan siap dikukus. Sebelum dibungkus, tubuh si ikan itu telah disisipi daun salam. “Daun salam bikin wangi,” kata Noneng.

Noneng bercerita, dia mengukus pepes ikan mas di atas nyala api kecil selama sepuluh jam sehingga bumbunya meresap dan tulangnya pun lunak aman dikunyah. “Tidak apa-apa lama seperti itu, asal rasanya memuaskan,” kata Noneng.

Pepes dadar telur sangat digemari anak-anak karena bentuknya keriting. Untuk mendapatkan bentuk keriting dan rasa gurih, telur dikocok lebih dulu sampai berbuih kemudian digoreng dengan minyak goreng yang banyak. Untuk menggoreng 0,5 kg telur membutuhkan 1 kg minyak goreng.

Menu-menu tambahan ini juga murah meriah. Pepes jamur dijual Rp 4.000 per bungkus, dadar telor Rp 3.000, dan pepes ikan mas hanya Rp 8.000 per bungkus. Menu minuman kedai ini terbatas saja. Jika Anda haus, pilihannya hanya teh manis, es teh manis, jeruk hangat, dan es jeruk manis. Tidak ada pilihan menu minuman lain di situ.

KONTAN sempat menemui pelanggan Hajah Nunung bernama Sujono. Pegawai negeri sipil ini rutin bersantap di kedai itu sejak 1988. “Kalau mau memesan makanan di sini harus sebelum jam dua siang, karena suka kehabisan”, saran Sujono.

Di awal berdiri dulu, kedai Hajah Nunung lebih sering disinggahi oleh supir-supir truk dari Tangerang menuju Bogor atau arah sebaliknya. Namun sekarang, yang parkir di kedai ini lebih banyak mobil-mobil mewah. Pemain film seperti Elmanik, Dicky Chandra, dan penyanyi Ikang Fauzi tercatat beberapa kali bersantap di warung makan ini.

Sayang, kedai ini terkesan kumuh dan panas. Tapi, sejumlah pelanggan justru menyukai suasana ini, karena terasa asli dan apa adanya. Suasana panas menambah kenikmatan makan siang, karena mempercepat keringat. Badan berkeringat seusai makan tanda puas

Kedai Hj. Nunung
Kampung Nagrog Km. 1
Gunung Sindur
Kabupaten Bogor 081385357304

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Terbaru