Mochtar Riady: Sepenggal kisah revolusi industri 4.0, handuk bolong dan sepatu diskon

Minggu, 17 Mei 2020 | 14:51 WIB   Reporter: Sandy Baskoro
Mochtar Riady: Sepenggal kisah revolusi industri 4.0, handuk bolong dan sepatu diskon

ILUSTRASI. Pendiri dan Chairman Grup Lippo Mochtar Riady (15/5/2020). Foto: KONTAN/Sandy Baskoro


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mengenakan kemeja cokelat bermotif polkadot, Pendiri dan Chairman Grup Lippo Mochtar Riady mengaku grogi saat berbicara di forum seminar virtual Jakarta Chief Marketing Officer Club bertema Business Wisdom During COVID-19 Era, Kamis (14/5).

Host seminar virtual tersebut, Hermawan Kartajaya yang merupakan pendiri MarkPlus Inc, mengundang khusus Mochtar sebagai pembicara tunggal di acara bertema Business Wisdom During COVID-19 Era. Hampir 300 peserta menyimak pemaparan Mochtar dalam webinar yang berlangsung kurang lebih dua jam.

Baca Juga: Ini warning Mochtar Riady terkait krisis ekonomi akibat wabah Covid-19

Mochtar, yang pada 12 Mei lalu tepat berusia 91 tahun mengaku sempat menolak undangan tersebut sebanyak tiga kali. "Saya grogi bicara tentang hal yang baru. Namun saya yakin, di mata Hermawan, saya baru berusia 40 tahun. Tiga hari lalu (11 Mei), saya baru ambil keputusan untuk berbicara di acara ini," imbuh Mochtar.

Para peserta seminar antara lain Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga; Pendiri dan Chairman Datascrip, Joe Kamdani; Chairman Jababeka, Setyono Djuandi Darmono; juga sejumlah anggota keluarga Mochtar seperti menantunya Aileen Hambali (istri James Riady); serta salah seorang cucunya, Henry Riady (salah satu anak dari James dan Aileen).

Disaksikan peserta seminar dari beragam latar belakang, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, ini begitu fasih memaparkan perkembangan ekonomi dan revolusi industri global.

Baca Juga: Mochtar Riady: Wabah Covid-19 memaksa kita hidup dalam teknologi baru

Mochtar berujar, wabah corona (Covid-19) pada awal tahun ini, secara tak sadar telah memaksakan kita membiasakan diri untuk hidup dalam teknologi baru. Ini merupakan konsekuensi Revolusi Industri 4.0.

"Kemudian ditambah augmented reality, virtual reality, maka bangsa kita sudah diarahkan untuk membiasakan diri di dunia teknologi yang baru ini," ucap taipan yang memiliki kekayaan US$ 2,1 miliar dan menempatkannya di urutan ke-12 orang paling tajir di Indonesia versi Majalah Forbes pada 2019.

Lantas, Mochtar menyinggung perkembangan revolusi industri pertama di dunia. Pada 1757 orang Inggris Raya menemukan mesin uap, kemudian diimplementasikan dalam bentuk kereta api, juga kapal api. "Orang Inggris menggunakan kapal api, untuk menaklukkan Asia, Afrika, Amerika dan seterusnya."

Dengan memiliki wilayah dan negara koloni yang begitu luas, maka Inggris Raya punya jaringan perdagangan yang besar. Alhasil, Inggris memiliki pengaruh untuk memperkirakan dan mengendalikan harga komoditas dengan patokan poundsterling. Maka tak heran apabila Inggris menjadi negara super power selama 300 tahun.

Baca Juga: Begini strategi Lippo Karawaci (LPKR) untuk menyehatkan keuangan perusahaan

Lebih dari 90 tahun sejak ditemukannya mesin uap, orang Amerika Serikat menemukan tenaga listrik. Akhirnya AS pun menjadi jaya hingga kini.

Singkat cerita, saat ini kekuatan dunia mulai bergeser ke kawasan Asia, tepatnya China. Mochtar bilang, Tiongkok menjelma menjadi kekuatan ekonomi dunia bukan dengan kerja keras dalam tempo semalam.

Terutama di era pemimpin Deng Xiaoping (1970-an), Tiongkok mulai membangun perekonomiannya. Pada 1987, Tiongkok mengirim 600.000 pelajar untuk menuntut ilmu ke dunia Barat. Setidaknya ada 18 juta pelajar Tiongkok menuntut ilmu ke luar negeri selama puluhan tahun.

Baca Juga: Keluarga Riady Beli Satu Miliar Saham Lippo Karawaci Saat Harga Saham LPKR Anjlok

Bukan hanya itu, kata Mochtar, Tiongkok juga mengundang para profesor dunia untuk mengajar di Negeri Tembok Raksasa tersebut. "Ada 7 juta mahasiswa yang lulus setiap tahun. Dari Jumlah itu, sebanyak 60% adalah engineering. Sekarang mungkin ada 140 juta engineering di Tiongkok," ungkap dia.

Dengan SDM dan teknologi yang kuat, kini China menguasai supply chain global di tengah perkembangan Revolusi Industri 4.0. "Siapa yang ikuti perkembangan zaman, maka akan berjaya," tutur Mochtar, menutup pembahasan tentang revolusi industri.

Di sela pemaparan Mochtar, host acara seminar Hermawan Kartajaya sesekali memberikan kesempatan kepada sejumlah peserta untuk menyampaikan sesuatu, termasuk memberikan ucapan selamat kepada Mochtar Riady, yang pada 12 Mei lalu berusia 91 tahun.

Baca Juga: Ini 25 orang tertajir Indonesia tahun 2019

Henry Riady, salah satu cucu Mochtar menyampaikan kesan mendalam kepada sang kakek. "Akong (kakek), jujur saja, dia sebenarnya humble. Kalo di rumah, handuknya saja bolong-bolong. Kalo ke Matahari Mall, akong beli sepatu yang diskon," tutur anak James Riady ini.

Namun soal cita-cita, menurut Henry, sang kakek adalah sosok yang visioner. Misalnya terkait dengan perkembangan dunia digital, kelahiran Ovo sebagai perusahaan pembayaran digital tak lepas dari ide Mochtar.

"Akong yang bikin arsitektur Ovo. Pas meeting, kami dikritik, karena terlalu pelan, akong mau seperti ini (cepat). Akong bikin konsepnya pakai kertas, namun sayang kertasnya enggak ketemu. Padahal bisa menjadi kenangan bersejarah," ucap Henry.

Baca Juga: Saat Mochtar Riady mengaku tidak kuat terus membakar uang di OVO

Henry pun berseloroh, kakeknya memang berumur 91 tahun. Namun, dengan pemikiran dan ingatan yang masih kuat, detail dan selalu ingin tahu perkembangan teknologi, membuat sang cucu menyebut Mochtar masih berusia 19 tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 3 Tampilkan Semua
Editor: Sandy Baskoro

Terbaru