Kilas Teknologi

Momen Luhut Binsar Pandjaitan blak-blakan soal pengelolaan yayasan pendidikan

Selasa, 01 Juni 2021 | 23:39 WIB   Reporter: Syamsul Ashar
Momen Luhut Binsar Pandjaitan blak-blakan soal pengelolaan yayasan pendidikan

ILUSTRASI. Luhut Binsar Pandjaitan dan istrinya Devi Pandjaitan Senin (31/5) blak-blakan cerita tengan Yayasan Del yang mereka rintis di bidang pendidikan selama 20 tahun.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jenderal Luhut Binsar Pandjaitan akhirnya blak-blakan soal aktivitas yayasan keluarganya di bidang pendidikan.

Sebab tanpa banyak orang tahu, ternyata Jenderal Luhut Binsar Pandjaitan yang kini menjabat sebagai orang kepercayaan Presiden Joko Widodo di kabinet ini telah berkecimpung dengan yayasan pendidikan sejak 20 tahun terakhir.

Luhut Binsar Pandjaitan menceritakan ketertarikan dirinya di bidang pendidikan bermula saat 1999 ia mendapatkan tugas dari Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie untuk menjadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura. 

Pada saat itu, di negara tetangga tersebut Luhut Binsar Pandjaitan melihat Singapura sedang gencar melakukan pembangunan infrastruktur membuat underground dan tunel-tunel

Nah dibalik pesatnya pembangunan itu, Luhut Binsar Pandjaitan melihat negara Singapura mengembangkan pendidikan dengan cara mendirikan politeknik. 

Saat itulah Luhut Binsar Pandjaitan mulai terpikir untuk mendirikan sekolah politeknik untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja ahli di bidang infrastruktur ini.

"Saat itulah Yayasan Del terbentuk karena saat mau bikin politeknik ternyata harus punya Yayasan," cerita Luhut Binsar Pandjaitan kepada beberapa wartawan didampingi sang istri Devi Simatupang, Senin (31/5) di kantor Yayasan Del yang ada di Gedung Sopo Del Office Tower, bilangan Mega Kuningan Jakarta.

Pada saat pendirian politeknik inilah Luhut Binsar Pandjaitan ingin agar lembaga pendidikan yang ia rintis bisa fokus ada dua bidang utama yakni Teknologi Informasi dan bio teknologi

"Saya melihat Singapura memiliki keahlian dengan berbagai rekayasa, dan sekarang perkembangan dunia ada di dua hal ini, teknologi informasi dan bio teknologi. Korea Selatan juga berkembang Bio Tech di bidang kesehatan, pertanian mereka sangat berkembang," kata Luhut Binsar Pandjaitan.

Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan asal usulnya nama Del bermula dari pemikiran anak-anak mereka yang bersekolah di Amerika Serikat. 

Del berarti satu langkah di depan, one step ahead. Del diambil dari bahasa Ibrani yang ada di kitab suci. 

"Tapi saat saya ke Israel saya tanya apa arti Del enggak ada bahasa itu," kata Luhut Binsar Pandjaitan sambil terkekeh.

Namun belakangan nama Yaysan Del ini diplesetkan menjadi singkatan dari pasangan Devi - Luhut (Del) dengan mengusung spirit one step ahead.

"Kami tidak bisa bilang telah merancang semua ini, tapi ini kehendak Tuhan. Ini pekerjaan istri saya dan Anak anak. Kita bertuhan dan harus berhati, dan bijaksana, harus ada kearifan dalam melaksanakan ini, ini dari al kitab tapi universal, kita harus punya kearifan," kata Luhut Binsar Pandjaitan.

Pada kesempatan itu Devi Simatupang, istri Luhut Binsar Pandjaitan menambahkan, keinginan untuk bergerak di bidang sosial terutama pendidikan karana ia melihat kondisi bangsa Indonesia di bidang pendidikan belum merata di seluruh tanah air, 

"Saya sedih di daerah terpencil belum mendapatkan pendidikan layak. Di kampung kami pendidikan belum baik, banyak anak-anak yang belum bisa mendapat pendidikan yang baik," katanya.

Melihat kenyataan itulah Devi terpikir agar bagaimana anak-anak tersebut agar bisa pergi ke sekolah berkualitas. 

"Pendidikan tidak hanya anak-anak, juga dengan ibu-ibu mereka semua butuh pendidikan, masih ada ibu-ibu yang melahirkan tujuh anak," katanya.

Menurut Devi, dengan kegiatan di bidang pendidikan inilah, Luhut Binsar Pandjaitan yang selama ini  terkesan kereng, angker dan tegas, memiliki sisi humanis

"Di Yayasan Del ini menjadi bidang lain dari Luhut Binsar Pandjaitan dari luar pemerintahan," katanya.

Dengan Yayasan Del ini merupakan hal yang membanggakan bagi keluarga, karena bisa memberikan sesuatu kepada masyarakat yang membutuhkan. 

"Saat tuhan memberikan kecukupan kenapa kami tidak memberikan kepada orang lain. Anak-anak kami dan mantu-mantu kami juga turut membesarkan Yayasan Del ini," terang Devi yang selain menjadi pendiri hingga saat ini juga masih aktif sebagai pembina Yayasan Del.

Devi menceritakan, bagi sebagian besar keluarga Batak, anak harus bersekolah tinggi meskipun orang tuanya tidak memakai harta mahal.

Saat itu tolok ukur pendidikan yang tinggi ada di Eropa. "Jadi otak harus Eropa jiwa tetap Batak keutamaan pendidikan ini sebagai heritage, dan akan kami teruskan kepada anak-anak agar mereka punya pemikiran bahwa pendidikan untuk anak anak dan orang lain sangat perlu.

  • Politeknik Informasi Del

Dari situlah Luhut Binsar Pandjaitan dan Devi mendirikan Yayasan Del dan mulai 2001 mendirikan sebuah institusi pendidikan pertama di Desa Sitoulama, Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Provinsi Sumatra Utara. 

Pada tahun yang sama Luhut Binsar Panjaitan mendirikan Politeknik Informasi Del di tempat tersebut. Baru pada 2005 infrastruktur kampus bisa berdiri dan peresmian kampus Politeknik Informasi Del.

Dalam perkembangan keilmuan dan industri, Politeknik Informatika Del kemudian ditingkatkan statusnya menjadi Institut Teknologi Del pada tahun 2013. 

Lembaga pendidikan ini menggunakan kurikulum pendidikan yang disusun bersama para pakar di bidangnya, lulusan IT Del dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja yang tidak hanya memiliki hard-skill, tetapi juga soft-skill yang mumpuni.

Luhut menceritakan, 20 tahun lalu sebelum mendirikan Politeknik IT Del, ia menemui beberapa orang hebat untuk berkonsultasi. Beberapa profesor Institut Teknologi Bandung (ITB), dan banyak orang hebat di ITB, mereka yang menyusun kurikulum kami di ITDel sekitar 20 tahun silam. Sekarang kurikulum sudah banyak di adjustmen sesuai perkembangan.

Karena pendirian sekolah ini menggunakan uang pribadi maka Luhut Binsar Pandjaitan berprinsip program ini harus memiliki plaining sebaik mungkin. 

"Harus dilakukan orang sehebat mungkin dan punya hati agar risiko kesalahan kecil," kata Luhut Binsar Pandjaitan. 

Hambatan saat itu justru berasal dari birokrasi pemerintahan sendiri yang ia nilai masih feodal. 

"Birokrat bukan melayani, ini yang kami ubah. Saya saat menjadi menteri, harus melayani, kata melayani kurang di pejabat publik kita. Kalau salah ya salah, bagus dibilang bagus, harus diberikan kepastian," tegasnya.

Politeknik Del saat ini telah memiliki riset enter herbal di Humbang Hasundutan.

Riset Herbal Center, ini berbasis big data, membuat rekayasa obat herbal. 

"Indonesia punya 30,000 herbal, penelitian ini bosnya IT Del yang bergabung ada BPPT, ITB IPB dan Zhejiyang University yang dikerjakan anak -anak muda

Luhut Binsar Pandjaitan memberikan semangat kepada mereka bahwa kalau riset ini berhasil maka mereka akan mendapat kekayaan royalti dari hasil riset itu. Ia berharap tempat ini bisa melahirkan produk unggulan seperti kentang, bawang putih yang bagus, dan banyak lagi.

  • Sekolah Noah

Setelah berhasil menjalankan lembaga pendidikan pertama yakni Kampus Politeknik Informasi Del, Yayasan Del kembali melahirkan sekolah baru lembaga pendidikan baru yakni Sekolah Noah.

Devi menceritakan, pengembangan lembaga pendidikan di luar wilayah Danau Toba kali pertama dilakukan di Jakarta Timur.

Ia menceritakan, punya rumah di kawasan Kalisari Pasar Rebo saat Luhut Binsar Pandjaitan berdinas di Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat (Kopasus). 

Lalu, setelah pindah karena tugas Luhut Binsar Pandjaitan menjadi Menteri dan Duta Besar RI untuk Singapura, rumah di Kalisari Jakarta Timur tersebut menjadi terbengkalai.

"Anak kami paling besar Paulina, tidak memiliki jiwa bisnis, tapi pendidikan, karena dari kecil ingin menjadi guru, sehingga ia selalu menangis kalau pulang kerja saat diminta untuk mengurusi bisnis," cerita Devi.

Dari situlah muncul ide untuk mendirikan Sekolah Noah yang dikelola oleh anak Luhut Binsar Panjaitan yang pertama.

Sekolah Noah resmi berdiri pada tahun 2007 bermula dari  play group, taman kanak-kanak, lalu sekolah dasar dan sekarang sudah ada SMP. 

"Awalnya pre school sekarang sudah ada SD dan SMP, dan sekarang SMA Noah akan menjadi prioritas kami," kata Devi. 

Ia menceritakan, tahapan pendirian sekolah ini berdasarkan permintaan dari orang tua murid. 

Awalnya setelah anak mereka tamat TK Noah, orang tua murid menanyakan kapan ada SD-nya, karena merasa puas dengan pendidikan di Noah. 

"Kebetulan, ada tanah di jual lalu kami beli untuk mendirikan SD. Setelah anak SD lulus orang tua bertanya lagi, kapan ada SMP. Kebetulan juga di seberang SD ada tanah kosong yang dijual, kami sehingga dirikan SMP pada tahun 2016," katanya 

Sekarang lembaga pendidikan Noah sedang mencari lahan untuk mendirikan SMA Noah di Jakarta. 

"Di Kalisari Pasar Rebo Jakarta Timur (tempat perguruan Noah beroperasi), harga tanah saat ini sudah mahal sehingga sudah tidak dapat lagi untuk mencari lahan yang cukup guna mendirikan SMA," katanya. 

  • SMA Unggul Del

Langkah Yayasan Del milik keluarga Luhut Binsar Pandjaitan  tidak hanya sebatas mendirikan lembaga pendidikan politeknik dan Sekolah Noah.

Pada tahun 2012, Yayasan Del kembali mendirikan Lembaga Pendidikan Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), yakni SMA Unggul Del.

"Kami harus melihat sekitar kita, bagaimana berkontribusi di daerah sekitar, karena itu kami mendirikan SMA Unggul Del yang sekarang menjadi SMA unggulan terbaik nomor tiga  SMA di Indonesia, bahkan peringkat matematikanya nomor satu di Indonesia dari Del," klaim Luhut Binsar Pandjaitan bangga.
 
Saat awal berdiri, Luhut Binsar Pandjaitan memberikan subsidi penuh bagi operasional lembaga pendidikan ini karena fokus membantu warga yang kurang mampu di sekitar Danau Toba.

Namun dalam perkembangannya, banyak masyarakat dari luar Danau Toba yang berminat menyekolahkan anaknya di tempat ini

"Sekarang peminat dari luar banyak datang, tapi kami kasih kuota dan 70% sekitar dan 30% dari luar," Luhut Binsar Pandjaitan. 

Agar menjaga kualitas siswa di SMA Unggul Del ini Luhut Binsar Pandjaitan telah meminta Bupati di sekitar Danau Toba agar lulusan terbaik SMP bisa masuk ke SMA Unggul Del. 

"Kalau tidak punya uang cukup kami subsidi sehingga ada cross subsidi," katanya.

Salah satu bentuk kepedulian kepada masyarakat yang memiliki pendidikan tertinggal ini diantaranya adalah program beasiswa kepada sekitar 47 anak dari Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua.

"Saat ini masih bertahan sekitar 17 orang, yang lainnya merasa tidak mampu, dan mengundurkan diri," tambah Devi.

Devi menceritakan, SMA Unggul Del ini menggunakan metode pendidikan boarding school, atau semua siswanya tinggal di asrama. 

Devi merasa trenyuh saat menemui para siswa yang sebagian besar dari masyarakat kurang mampu ini.  
"Saat itu saya tanya, kalau kamu nanti lulus cita-citamu apa? Saya akan beli kasur seperti ini," kata si Siswa yang merasa nyaman dengan kasur empuk di asrama.

Bagi Devi, kenyamanan para siswa akan mendukung proses belajar yang baik sehingga ia rela untuk mengeluarkan dana untuk membeli peralatan yang layak nyaman dan awet bagi para siswa ini.

  • Rumah Faye

Pada perkembangannya Yayasan Del tidak hanya berkecimpung pada bidang pendidikan murni, tapi juga berbalut pada kegiatan sosial.

Salah satunya adalah mendirikan Rumah Faye pada tahun 2013 di Jakarta. Rumah Faye ini merupakan lembaga non profit dengan tujuan untuk memberikan perlindungan anak.

Luhut Binsar Pandjaitan menceritakan ide mendirikan Rumah Faye ini berasal dari sang cucu yang saat itu masih umur sekitar 11 tahun. 

Sang cucu ingin agar Kakeknya mau membantu menangani korban perdagangan anak kekerasan maupun eksploitasi seksual. 

Lalu pada tahun 2016, Rumah Faye kembali mendirikan rumah aman keduanya yang berlokasi di Batam, Kepulauan Riau
 
Di lokasi tersebut Rumah Faye mendirikan  tempat penampungan bagi para penyintas perdagangan anak dan eksploitasi seksual untuk mendapatkan rehabilitasi serta bekal keterampilan. 

Rumah Faye juga secara aktif berekspansi untuk memberikan sosialisasi ke sekolah-sekolah dan memberi edukasi kepada masyarakat daerah rawan akan eksploitasi anak di Jakarta.

  • Radio 92.4 DEL FM 

Tak hanya itu Yayasan Del juga mendirikan Radio 92.4 DEL FM merupakan radio swasta di bawah naungan PT Del Citra Mandiri. 

Resmi mengudara sejak Juli 2018, Radio Del menyasar pendengar kaum muda aktif berusia 15-25 tahun, dengan konten Radio Del yang berfokus pada pendidikan, pariwisata, lingkungan, sosial-budaya, serta potensi industri daerah, terutama daerah di Kabupaten Toba. 

Radio Del kemudian memperluas jangkauan siar pada pertengahan Desember 2019, untuk menjumpai para pendengar setianya melalui perangkat mobile yang kini sudah tersedia dalam platform android maupun iOS.

  • Toba Tenun

Selain pendidikan, kegiatan sosial yang digaram Yayasan Del adalah ikut mengupayakan kelestarian tenun asli masyarakat Batak.

Karena itulah Yayasan Del mendirikan PT Toba Tenun Sejahtra  pada tahun 2018 

Lembaga ini berupayanya turut melestarikan kain tenun ulos dan memandirikan penenunnya secara ekonomi. 

Dalam jangka pendek, Tobatenun berfokus pada perkenalan tradisi tenun ulos, dengan mulai mengadakan pameran koleksi ulos tua pada bulan Juli 2018. 

Pameran bertajuk ‘Ulos, Hangoluan & Tondi’ ini mengangkat kisah tentang fase kehidupan masyarakat Batak, yang dikemas dengan sentuhan seni budaya moderen yang menggunakan instalasi kreatif. 

Ke depannya, Tobatenun berharap akan bisa berkontribusi lebih banyak untuk melestarikan budaya Batak secara lebih luas

Editor: Syamsul Azhar
Terbaru