Sudah sejak sebulan terakhir ini cuaca dan suhu udara di beberapa wilayah di Indonesia cenderung berubah-ubah. Jika matahari bersinar terik pada siang hari, pada sore atau malam hari bisa terjadi hujan. Udara yang semula terasa gerah dan panas berubah menjadi dingin.
Perubahan cuaca yang sering dan secara mendadak ini sering dianggap sebagai musim pancaroba. Memang, salah satu efek pemanasan global adalah siklus datangnya suatu musim menjadi tak menentu. "Kerusakan lingkungan hidup yang menyebabkan pemanasan global," kata Mulyadi Tedjapranata, Direktur Klinik Medizone di Jakarta.
Perubahan cuaca yang sangat ekstrem ini dapat mendatangkan penyakit karena virus dan bakteri mudah berkembang biak. Peluang terpapar penyakit semakin besar jika daya tahan tubuh sedang lemah dan mobilitas tinggi, terutama pada anak-anak. Alhasil, lebih banyak orang yang menderita penyakit di musim pancaroba dibandingkan musim panas atau hujan.
I Made Cock Wirawan, dokter di Rumah Sakit Tentara Atambua, Nusa Tenggara Timur, mengatakan, perubahan cuaca kerap menimbulkan masalah kesehatan, terutama perubahan dari musim kemarau ke musim hujan. Penyakit muncul akibat penurunan daya tahan tubuh saat menyesuaikan diri dengan perubahan cuaca. "Yang kerap mewabah adalah penyakit akibat virus yang mudah menyerang saat daya tahan tubuh menurun," katanya.
Banyak penyakit muncul
Penyakit yang kerap muncul pada musim pancaroba adalah infeksi pernapasan, seperti flu dan alergi. Penyakit alergi terutama menimpa orang yang alergi terhadap suhu dingin. "Flu atau influenza dan cold disebabkan oleh virus," kata Cock.
Sementara bagi para penderita asma juga harus lebih waspada di musim pancaroba ini. Penyakit asma itu mirip dengan alergi. "Kebanyakan disebabkan oleh masalah cuaca termasuk perubahan cuaca di musim pancaroba," imbuh Cock.
Penderita asma yang perlu ekstra waspada adalah penderita yang faktor pencetusnya sudah diketahui. Misalnya karena cuaca dingin, debu ataupun serbuk bunga.
Penyakit lain yang juga rajin datang saat musim pancaroba adalah diare dan penyakit kulit. Umumnya berjangkit pada daerah yang terkena banjir atau kekeringan. Kedua kondisi ini menyebabkan akses air bersih kurang, sehingga orang terpaksa mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri.
Bagi Anda yang memiliki anak balita, sebaiknya perlu lebih waspada. Bila kondisi buah hati Anda menurun dan mengonsumsi makanan yang salah, maka dapat membuka peluang terpapar penyakit diare. Sekadar informasi, diare merupakan penyakit kedua terbanyak yang menyebabkan kematian pada anak balita.
Moeljadi menambahkan, penyakit demam berdarah juga dapat meningkat di musim pancaroba. "Di musim penghujan, nyamuk dengan mudah berkembang. Terutama nyamuk yang membawa virus demam berdarah," kata dokter yang membuka praktik pribadi di Banyumas ini.
Genangan air hujan sangat disukai nyamuk untuk tempat bertelur. Alhasil, perkembangan serangga pengisap darah ini semakin cepat. Genangan air hujan yang kotor juga membawa penyakit lain yang menyerang kulit, seperti gatal-gatal. Penyakit semacam ini sangat rawan terjadi di daerah yang rawan kena banjir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News