Roadshow Lake Toba Traditional Music Festival 2.0 Rawat Musik Tradisi

Senin, 23 Mei 2022 | 23:32 WIB   Reporter: Tendi Mahadi
Roadshow Lake Toba Traditional Music Festival 2.0 Rawat Musik Tradisi

ILUSTRASI. Roadshow Lake Toba Traditional Music Festival 2.0 Rawat Musik Tradisi.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kenendikbudristek) bersama Rumah Karya Indonesia menyelenggarakan Roadshow Lake Toba Traditional Music Festival (LTTMF) 2.0.

Roadshow LTTMF 2.0 berlangsung dua tahap, yakni di Dairi, 20-21 Mei, dan di Karo pada 3-4 Juni mendatang. Tahun 2022 ini adalah kedua kalinya hajatan pelaksanaan LTTMF. Pelaksaanaan Roadshow LTTMF 2.0 tahun ini merupakan unsur rangkaian menuju puncak acara LTTMF 2.0 yang rencananya digelar pada 5-7 Agustus 2022.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid mengatakan, festival musik tradisional mempunyai peranan penting turut terbangunnya ekosistem kebudayaan. Selain itu pula membantu percepatan geliat ekonomi di kawasan berlangsungnya festival musik tradisional.

“Festival musik tradisi merawat sinergi antarmusisi lintas generasi sehingga memperkuat pemajuan kebudayaan serta membangun ekosistem kebudayaan. Selain itu diharapkan menciptakan semangat generasi muda untuk merawat tradisi kebudayaan,” ujar Hilmar dalam keterangannya, Senin (23/5).

Baca Juga: Jurassic World: Dominion Rilis 5 Poster Karakter, Kembalinya 3 Bintang Jurassic Park

Hilmar menuturkan, festival musik tradisi yang diselenggarakan merupakan momentum kepada kalangan muda guna andil menentukan arah pemajuan kebudayaan melalui khazanah kesenian. Hilmar menilai, melalui pagelaran festival musik tradisi akan membuat kalangan masyarakat memahami proses pengetahuan, pembelajaran, dan perkembangan kearifan seni lokal sebagai kesatuan kekayaan budaya Indonesia.

LTTMF 2.0 tahun ini mengusung tema Suara Danau, Memaknai, Merawat, dan Menghidupkan Musik Tradisi. LTTMF merupakan bagian dari Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) guna mewujudkan pemajuan kebudayaan dalam ekosistem musik tradisional di Indonesia.

Direktur Perfilman, Musik, dan Media Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Ahmad Mahendra menyampaikan, pelaksanaan LTTMF 2.0 adalah acara puncak yang menampilkan potensi kebudayaan empat puak di kawasan Danau Toba.

“LTTMF 2.0 menjadi upaya Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Ditjen Kebudayaan membangun ekosistem musik tradisi di kawasan Danau Toba dalam mendukung menjadi Destinasi Super Prioritas Danau Toba,” ucap Mahendra.
 
Selama perhelatan Roadshow LTTMF 2.0 bakal dimunculkan konsep khusus yang bernuansa pesta rakyat. Eta Margondang menjadi penampilan istimewa dengan mengolaborasikan musik tradisi empat puak di kawasan Danau Toba, yaitu Toba, Karo, Simalungun, dan Pakpak.

Eta Margondang adalah kerja sama antara pemusik tradisi maestro dengan anak-anak muda di kawasan Danau Toba untuk mengerjakan komposisi musik tradisi sehingga berdampak dapat berkelanjutan.

Baca Juga: Daftar Harga Sepeda Polygon untuk Anak Terbaru Mei 2022, Semua Banderol Rp 1 Jutaan

Sebanyak 60 anak muda dari sanggar di kawasan Danau Toba yang mewakili empat puak mengemas repertoar dari masing-masing alat musik tradisi puaknya sekaligus menyajikan medley lagu tradisi Indonesia dalam karya eta margondang.  

Bupati Dairi, Eddy Keleng Ete Berutu, mengungkapkan rasa bahagianya dengan digelarnya Roadshow LTTMF 2.0 pertama di daerahnya. Bagi Eddy, hal ini menunjukkan musik tradisi di Kabupaten Dairi mulai dikaryakan sehingga dapat dikenal luas.

Eddy berharap makin banyak bermunculan komunitas-komunitas musik tradisi di kawasan Danau Toba, khususnya daerahnya, yang berkomitmen menjaga dan memajukan seni lokal sehingga tetap lestari.

Sedangkan Direktur Rumah Karya Indonesia Ojax Manalu menyebutkan, Roadshow LTTMF 2.0 di Kabupaten Dairi menciptakan sinergi komposer dengan pemusik tradisi Pakpak di sanggar-sanggar. "Para komposer yang sudah kita seleksi akan mengajak anak-anak muda dan seniman di daerah roadshow untuk menciptakan reportoar musik tradisi,” pungkas Ojax.

Kendati demikian, tambah Ojax, tidak akan menghilangkan esensi festivalnya, yakni menyampaikan edukasi tentang geopark kaldera Toba melalui musik tradisi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru