Sarapan Sederhana, Nasi Megono Mak Nut nan Sedap

Selasa, 03 Februari 2026 | 14:40 WIB
Diperbarui Selasa, 03 Februari 2026 | 14:55 WIB
Sarapan Sederhana, Nasi Megono Mak Nut nan Sedap
ILUSTRASI. Nasi Megono (Kontan/Nasi Megono)

Reporter: Sanny Cicilia | Editor: Sanny Cicilia

Rabu pagi (21/1) lalu, jarum jam belum menunjuk angka delapan, kawasan Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, sudah padat. Cuacanya cukup adem lantaran hujan gerimis.

Tidak jauh dari pasar, ada Mak Nut yang sigap menyendok nasi dari bakul ke piring para pelanggan. Setelah itu, dia menyendok urap ke sisi nasi.

Beruntung, pagi itu masih bisa mencicipi nasi urap megono racikan Nutiyah, yang akrab dipanggil Mak Nut. Sebab, nasi urap langganan warga Kebayoran Lama ini biasanya sudah habis jam delapan pagi.

"Ini masih ada karena biasanya ada yang ngambil untuk jualan keliling. Tapi karena hujan, dia enggak datang," ungkap Nutiyah yang lebih dikenal dengan nama Mak Nut, pemilik Warung Nasi Urab Kebon Mangga 2.

Bicara urap, biasanya orang membayangkan aneka macam rebusan sayur disertai parutan kelapa. Sayurnya beragam, seperti tauge, kacang panjang, kangkung, dan bayam.

Tapi, nasi urap megono beda. Alih-alih menemukan sayur, isiannya hanya nangka muda yang dicacah bersama dengan parutan kelapa berbumbu. Warnanya kuning pucat, sekilas seperti ayam cincang.

Mak Nut bilang, nasi megono khas dari Pekalongan, Jawa Tengah. Hanya, orang Jakarta lebih kenal dengan urap karena bertabur parutan kelapa. "Padahal, beda dengan urap sini, yang isinya sayur," kata dia.

Megono, Mak Nut menjelaskan, adalah nangka yang dicacah hingga kecil-kecil, lalu dicampur dengan bumbu dan parutan kelapa. Semuanya kemudian dikukus hingga matang. Hasilnya, megono moist, empuk, dan tidak seret.

Pasangan nasi megono yaitu tempe tepung. Kalau enggak ada tempe, rasanya kurang.

Nah, saat dicicipi, rasa nasi megono buatan Mak Nut gurih dan sedikit pedas. Agak bertekstur dari parutan kelapanya, tetapi tidak alot. Bumbu nasi megono menyatu bersama nangka dan kelapa karena dimasak berbarengan.

Meskipun dikenal sebagai makanan daerah Jawa, nasi megono tak terasa manis. Mak Nut mengungkapkan, sebenarnya dia memasukkan gula, tapi tidak sampai membuat masakan menjadi manis.

Karena nangkanya sudah berbumbu, sebetulnya rasa nasi dan urapnya saja sudah enak. Tapi, ditambah dengan tempe tepung panas-panas, wah, rasanya jadi makin mantap.

Sebagai best seller, tempe goreng dipastikan tidak pernah absen. Begitu tinggal beberapa potong, sudah dihidangkan kembali tempe yang baru digoreng. Aromanya menggugah selera. Rasanya kurang kalau cuma makan satu tempe.

Biar lebih kenyang, bisa ditambahkan lauk pauk lain atau sayur-sayuran. Kedai ini menyediakan lauk telor dadar, tongkol balado, dan bandeng balado. Kalau beruntung, ada pecak ikan juga yang disebut-sebut sebagai menu underrated. Sayang, ketika hari itu ke sana, sedang absen sajian ini.

Sebagai penambah protein, bisa memilih telur dadar. Bentuknya tipis tapi ramai karena diisi daun bawang dan irisan cabe rawit. Rasanya klop dengan nasi megono.

Sayurnya juga tidak bertolak belakang dengan rasa nasi megono. Biasanya, ada sayur labu, pare, dan daun pepaya.

Pilihan jatuh pada sayur labu dan kacang panjang. Rasanya tidak neko-neko. Ya, seperti sayur tumisan umumnya. Sayur labu dan kacang panjangnya empuk, ditemani potongan tahu goreng yang juga lezat.

Sebenarnya, cita rasa nasi megono bikinan Mak Nut gurih dan sedikit pedas. Sementara sambal buatannya tidak begitu pedas, malah cenderung segar dan asam.

 

Nasi Megono

 

Cepat habis

Setiap hari, Warung Nasi Urab Kebon Mangga 2 membutuhkan sekitar delapan hingga sembilan kilogram nangka muda. Di akhir pekan, jumlahnya sampai 12 kilo.

Mak Nut mengaku, tidak menghitung berapa porsi nasi megono yang habis saban hari. Tapi, dia masak sekitar 16-19 kilogram beras tiap pagi.

Ia mulai masak sejak pukul setengah tiga pagi. Warung sendiri buka jam setengah enam. Namun, biasanya dia sudah menyiapkan bungkusan nasi pesanan pelanggan yang sudah mengirim pesanWhatsApp sejak malam sebelumnya.

Warung akan ramai sekali sejak buka hingga jam tujuh pagi. Barulah setelah itu, jumlah pengunjung melonggar.

Hadi, pelanggan kedai ini, menuturkan, suka nasi megono Mak Nut lantaran rasanya pas di lidah. Cocok juga jadi pilihan menu hari-hari. Bagi dia, nasi megono dan tempe goreng sudah cukup. "Rasanya enak, harganya juga," ucap dia.

Jika memesan nasi megono setengah porsi, pelanggan hanya perlu membayar Rp 6.000 pas. Dengan dua tempe tepung, jadi Rp 10.000. Jika memesan porsi penuh, hanya Rp 8.000, belum sama tempe, ya.

Eits, meski memesan setengah porsi, tambahan serat dari megono sudah cukup mengenyangkan perut, lo. Apalagi, jika ditambah lauk dan sayur lain, cukup nendang untuk ukuran sarapan.

Sedangkan sayur tumisan pelengkap, hanya dikenakan tambahan Rp 2.000. Telur dadar Rp 5.000, sama seperti ikan tongkol balado. Sedangkan ikan bandeng Rp 10.000.

Nah, kalau ke sini, siapkan uang tunai, ya. Sebab, kedai belum menyediakan pembayaran secara digital. Oh iya, kedainya sangat sederhana.

 

Nasi Megono

 

Sudah Generasi Keempat


Tampilan Warung Nasi Urab Kebon Mangga 2 bisa dibilang sederhana, seperti warteg umumnya dengan meja bentuk L juga etalase makanan dan berdinding hijau kebiruan. Tapi, di balik itu, namanya cukup dikenal luas oleh berbagai generasi di daerah Kebayoran Lama.

Nutiyah, yang akrab dipanggil Mak Nut, sang pemilik, bilang, warung nasinya sudah berdiri sejak 70 tahun hingga 80 tahun lalu. Dia tidak ingat tepatnya tahun berapa. "Tapi, masih zaman Jepang, bapak saya waktu masih bujang katanya antre beras di Pasar Baru," ujarnya.

Mak Nut sudah jadi tangan keempat memegang Warung Nasi Urab Kebon Mangga 2. Setelah bapaknya tutup usia sekitar 10 tahun lalu, barulah Mak Nut memegang warung ini bersama iparnya, Sri. "Habis mbah, mpok-nye bapak, baru bapak, terus saya," kata dia.

Sudah berganti generasi, resep awal nasi megono dengan rasa gurih, pedas, manis seimbang, Mak Nut mengungkapkan, tidak pernah berubah sejak generasi pertama.

Selain resep andalan, kedai ini juga tidak pernah pindah. Jadi, jangan sampai nyasar ke Mangga Dua di Jakarta Pusat.

Menurut Mak Nut, warung buka terus, Senin hingga Minggu. Liburnya, kalau dia kecapekan atau ada hajatan. Kedai ini juga tutup selama bulan puasa hingga setelah Lebaran.

Nah, kalau mau menyambangi kedai ini, datang pagi-pagi, ya, karena biasanya nasi megono cepet ludes. Yuk, berangkat segera!

 

Warung Nasi Urab Kebon mangga 2

Jl. Kebon Mangga II Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan

Koordinat GPS:

-6.23471, 106.77887

Selanjutnya: Prabowo Panggil Tokoh Islam ke Istana, Bahas Kepesertaan Board of Peace

Menarik Dibaca: Desain iPhone 17e: Bezel Tipis dan Charger Super Cepat Menanti

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Close [X]