Tidak Selalu Membosankan, Ini Cara Belajar Berhitung yang Menyenangkan untuk Anak

Rabu, 25 Mei 2022 | 10:07 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Tidak Selalu Membosankan, Ini Cara Belajar Berhitung yang Menyenangkan untuk Anak

ILUSTRASI. Tidak Selalu Membosankan, Ini Cara Belajar Berhitung yang Menyenangkan untuk Anak.


KONTAN.CO.ID -  Terkadang saat orangtua memberikan pelajaran mengenai berhitung anak terkesan tidak tertarik. Untuk mengatasinya, Anda bisa menggunakan cara yang lebih menyenangkan agar anak senang belajar berhitung. 

Belajar berhitung umum dilakukan oleh anak yang masuk usia Taman Kanak-Kanak (TK) atau Sekolah Dasar (SD). 

Pelajaran ini sering tidak disukai anak karena dianggap susah dan tidak mengasyikkan. Padahal berhitung menjadi dasar yang penting dalam pelajaran matematika dan akan selalu digunakan kapanpun. 

Agar pelajaran berhitung lebih menyenangkan, Anda bisa menggunakan media pembelajaran yang disukai buah hati.

Baca Juga: Asik! Kampus Mengajar Angkatan 4 2022 Dibuka Hari Ini, Cek Syarat Daftarnya

Apa saja medianya? Berikut ini rangkumannya dari Instagram Direktorat SD Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).  

Belajar berhitung dengan jam dinding

Selain untuk mengajarkan waktu, jam dinding bisa kita manfaatkan untuk mengajarkan penjumlahan atau pengurangan sederhana.

Caranya cukup mudah diterapkan. Misalkan soal 3 + 6 = …. Anak akan melihat angka 3 pada jam, kemudian menghitung enam langkah searah jarum jam sampai di angka 9, yang kemudian dia simpulkan bahwa 9 adalah hasil dari 3 ditambah 6. 

Untuk pengaplikasian pada pengurangan, ia akan menghitung berlawanan arah jarum jam dengan melihat angka pada jam.

Berhitung dengan jari tangan

Jari tangan sudah lama dikenal dan digunakan sebagai media hitung serta merupakan cara paling mudah diajarkan pada anak. 

Dengan menggunakan isyarat jari, orangtua bisa mengajak anak untuk membilang, mengajarkan penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian sederhana. 

Karena jumlah jari yang terbatas, operasi hitung yang bisa diajarkan juga sebatas dengan jumlah jari. Biasanya bisa digunakan untuk membantu operasi hitung dasar 1 sampai dengan 10.

Baca Juga: Pendaftaran Calon Prajurit Tamtama TNI AU 2022 Kembali Dibuka, Ini Syaratnya

Menggunakan kalender untuk belajar bilangan lompat

Selain jam dinding, orangtua juga bisa memanfaatkan kalender sebagai media anak TK atau SD untuk belajar berhitung. 

Kalender yang awalnya hanya digunakan untuk memperkenalkan lambang bilangan, bisa dimanfaatkan untuk mengajarkan penjumlahan dan pengurangan seperti halnya menggunakan jam dinding tadi. 

Selain itu, kalender juga bisa dimanfaatkan untuk mengajarkan bilangan lompat yang selanjutnya bisa menjadi dasar untuk mengajarkan perkalian.

Manfaatkan permainan ular tangga

Papan ular tangga yang biasanya menampilkan bilangan 1 sampai 100 juga bisa digunakan untuk mengajarkan operasi hitung kepada anak dengan bilangan yang lebih besar. 

Belajar berhitung menjadi lebih menyenangkan dan tidak terasa karena terbungkus dalam permainan yang mengasyikkan.

Biasanya, saat bermain ular tangga setelah mengocok dadu, Anda bisa memberikan pertanyaan kepada anak seperti ”Wah keluar dadu 5. Kalau dari nomor 12, berarti nanti ke nomor berapa ya?” 

Anak-anak akan dengan antusias menebak angka mana yang perlu dituju bidak ular tangga. Mereka akan merasa senang ketika tebakan mereka benar.

Baca Juga: Ada Beasiswa D3-S3 untuk Warga Jabar, Cek Info Jabar Future Leader Scholarship 2022

Permainan ”kartu teplok”

Cara memainkan permainan ini adalah dengan cara berpasangan. Setiap pemain memegang sebuah kartu, kemudian mengacak kartunya. 

Setelah kartu terbuka, hasilnya harus dijawab oleh pihak yang kartunya tertutup. Jika jawaban benar, kartu tersebut menjadi milik lawan. Jika salah, maka tetap menjadi milik si pemilik kartu yang terbuka.

Permainan ini sederhana namun menyenangkan sebagai media belajar berhitung anak. 

Hal yang perlu diperhatikan adalah, jika anak belum bisa menjawab secara cepat hasil penjumlahan pada kartu, beri beberapa waktu untuk memikirkan jawabannya. 

Dengan demikian lambat laun anak akan hafal dengan sendirinya jawaban tersebut saat sering diulang-ulang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tiyas Septiana

Terbaru