HOME | Komunitas & Hobi |

INDUSTRI PARIWISATA

Intip komunitas sopir spesialis turis Arab di Bali

oleh : Yudho Winarto | Rabu, 01 Maret 2017 | 07:17 WIB

Intip komunitas sopir spesialis turis Arab di Bali

BANYUWANGI. Tidak banyak yang tahu bahwa ada perkumpulan sopir khusus untuk wisatawan Arab dan Timur Tengah di Pulau Bali. Komunitas tersebut bernama Komunitas Sopir Arab Bali (Kosabi).

Komunitas yang terdiri dari 250-an sopir tersebut melayani wisatawan asal Timur Tengah yang berkunjung ke Pulau Dewata, Bali.

Saat ditemui Kompas.com, Selasa (28/2), Muhammad Syaifudin (37), ketua Komunitas Supir Arab Bali menjelaskan, komunitas tersebut dibentuk sejak November 2016 untuk ajang silaturahmi dan juga untuk melatih kemampuan berbahasa Arab yang baik dan benar.

"Selain itu, dalam pertemuan sebulan sekali setiap tanggal 8 selalu ada pembekalan terkait pengetahuan tentang budaya Bali, sejarah Bali termasuk objek wisata yang dituju. Termasuk sharing tentang sejarah dan budaya negara asal tamu," jelas Muhammad Syaifudin.

Wisatawan yang mereka layani ada yang berasal dari Arab Saudi, Kuwait, Oman, Qatar, Emirat Arab dan ada juga dari Mesir serta Maroko. Rata-rata tempat wisata yang didatangi oleh wisatawan asal Timur Tengah adalah pantai dan juga perbukitan yang memiliki hawa sejuk.

Menurut Syaifudin, mereka kurang tertarik dengan wisata budaya. "Ada dua jenis wisatawan, ada yang keluarga, ada rombongan anak-anak muda. Biasanya yang keluarga lebih memilih private beach, tapi yang anak muda memilih pantai yang lebih terbuka seperti dreamland. Tapi istimewanya tidak ada perempuan yang berwisata sendiri. Tidak boleh, harus ada keluarga yang mendampingi," jelasnya.

Mereka rata-rata tinggal di Bali selama 4 hari 3 malam dan menghabiskan uang sekitar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta untuk dua orang. Para wisatawan tersebut mayoritas masuk melalui Jakarta dan sebelumnya mereka berlibur di Puncak Bogor.

"Penerbangan langsung ke Bali dari Arab hanya dua kali, itu pun transit dari Eropa dan Amerika. Jadi, penumpang yang asli Arab hanya sekitar 10-15 persen. Jadi hampir sebagian besar yang masuk ke Bali lewat Jakarta. Habis liburan di Puncak mereka kemudian ke Bali," kata lelaki yang memiliki usaha jasa biro perjalananini.

Tren kunjungan wisatawan Arab ke Bali, menurut Muhammad Syaifudin, mengalami peningkatan sejak 10 tahun terakhir. Dia berharap, pasca-kedatangan Raja Salman, jumlah tersebut akan terus bertambah.

"Kami yang bergerak di bidang wisata tentu saja berharap agar citra pariwisata di Bali tetap dipertahankan pasca-kedatangan Raja Salman. Jika bisa ditingkatkan lagi itu lebih baik. Dan, kami akan dukung, ya salah satunya ya membentuk komunitas sopir Arab Bali ini," katanya.

Menurut pria asal Blitar tersebut, anggota komunitas sopir untuk wisatawan Arab Bali ini sudah memahami kebiasaan-kebiasaan dari tamu Arab yang datang ke Bali.


Ia mencontohkan, ketika pasangan suami istri naik ke dalam mobil, maka sopir akan membalik kaca di bagian depannya sehingga tidak melihat langsung perempuan yang naik.

"Kita harus menjaga pandangan dengan tamu perempuannya," kata lelaki lulusan pondok pesantren tersebut.

Selain itu, anggota komunitas juga memahami bahasa tubuh dari tamu asal Arab. Misalnya, menguncupkan jari-jarinya ketika berkomunikasi, maka artinya adalah tunggu sebentar. Kalau merasa kecewa, mereka akan membuka kedua tangan di depan dada.

"Kebiasaan-kebiasaan seperti ini kita pelajari bersama-sama agar pelayanan maksimal. Kita juga harus tetap sopan santun saat menghadapi tamu," jelanya.

Uniknya, setiap sopir memiliki nama Arab sebagai panggilan saat bekerja. Muhammad Syaifudin mencontohkan, dirinya memiliki nama Ali. Ada juga yang memiliki nama asli Bagus Wahono, nama arabnya adalah Abbas. Sedangkan Kusdianto memiliki nama arab Ahmad.

"Dari 250-an sopir anggota komunitas sopir Arab Bali, hampir 35 persen adalah mantan tenaga kerja Indonesia di Arab. Jadi bahasa Arab mereka lancar dan bagus, dan mereka punya nama panggilan Arab," jelasnya.

Ada 15 anggota komunitas sopir Arab Bali yang terlibat terkait kunjungan Raja Salman ke Pulau Bali. Namum mereka dipilih melalui travel tempat mereka bekerja, bukan oleh komunitas.

"Semoga semakin banyak kunjungan wisatawan asal Arab pasca-kedatangan Raja Salman," pungkasnya. (Kontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati)

Sumber Kompas.com