HOME | Komunitas & Hobi |

Hobi

Lewat foto menyelamatkan satwa dan alam

oleh : SS. Kurniawan | Senin, 06 November 2017 | 12:15 WIB

Lewat foto menyelamatkan satwa dan alam

KONTAN.CO.ID - Selama 17 tahun terakhir Ignas Seta Dwiwardhana sering keluar masuk hutan di Indonesia. Mulai rimba di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Maklum, pria 41 tahun yang menyukai binatang sejak kecil ini doyan memotret satwa liar. “Sejak tahun 2000, awalnya saya menggunakan kamera analog,” kata Ignas yang Sabtu (4/11) lalu meluncurkan buku pertamanya bertajuk Satwa Lewat Lensa.

Memotret binatang dan alam, menurut Ignas, merupakan proses yang unik sekaligus menantang dalam seni fotografi. Tantangannya adalah: bagaimana menyatukan teknik fotografi dengan subjek.

Tentu, yang menjadi subjek adalah satwa. Tingkah laku binatang sering tak terduga sama sekali, meski seorang fotografer sudah mempelajarinya lewat film dan pustaka.

Selain itu, faktor cuaca dan keadaan zona alam tempat satwa berada memiliki pola serta kekhasan yang berbeda-beda akibat letak geografis. “Keunikan tiap area dan satwa ini menjadi tantangan sekaligus ajakan untuk menghasilkan foto yang sedap dipandang,” ujar Ignas.

Pertama-tama, Riza Marlon yang sudah 30 tahun malang melintang di dunia fotografi satwa liar mengatakan, sebelum melakukan kegiatan pemotretan, seseorang mesti benar-benar suka dengan alam bebas. “Karena harus keluar masuk hutan,” ucap dia.

Selanjutnya, kunci memotret satwa liar, Ignas bilang, ialah ketekunan, kesabaran, dan kejelian. Dengan dukungan penguasaan teknis fotografi yang baik, subjek dan momentum yang biasa pun bisa diabadikan menjadi luar biasa.

Memang, memotret satwa memerlukan kesabaran yang stabil. “Fotografer harus sanggup berlama-lama di belakang kamera untuk menunggu seekor binatang muncul atau menunjukkan perilaku yang luar biasa,” sebut Ignas yang juga pendiri Animalika Indonesia.

Betul, apalagi memotret satwa liar yang populasinya tinggal sedikit atau terancam punah gara-gara habitatnya rusak atau menyusut. “Harus menunggu, belum tentu sehari, seminggu ketemu dengan binatang yang kita inginkan” imbuh Welly Ekariyono dari Indonesia Wildlife Photography.

Tapi, terkadang keberuntungan berpihak ke fotografer. Tanpa perlu berlama-lama, binatang yang jadi incaran segera hadir di hadapan lensa kamera.

Contoh, Agustus 2015, Ignas hunting cekakak hutan dada bersisik di daerah Mahawu, Tomohon, Sulawesi Utara. Habitat asli burung yang juga dikenal dengan nama scaly breasted kingfisher bakal hilang, berubah jadi perkebunan.

Ketika itu, di hari pertama perburuan, burung tersebut justru terbang mendekat ke arah Ignas, hanya berjarak tiga meter. “Gila, saya pikir. Bahkan, seakan-akan sengaja berpose di depan lensa sampai lebih dari lima menit,” ungkap jebolan Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang kini mengajar fotografi di almamaternya itu.

Tahun ini, Ignas juga berhasil memotret kuskus kerdil sulawesi di Cagar Alam Tangkoko, Sulawesi Utara. Binatang bernama Latin Strigocuscus celebensis ini sudah berpuluh-puluh tahun tidak pernah kelihatan batang hidungnya di kawasan tersebut.

Cuma memang, Riza mengungkapkan, memotret satwa liar bukan hobi yang murah. Tak cuma kamera dan peralatannya, juga biaya perjalanan ke hutan sangat mahal. “Termasuk perlengkapan untuk kamuflase,” tambah penulis buku Living Treasure of Indonesia dan 107+ Ular Indonesia ini.

Itu sebabnya, tak banyak orang Indonesia yang melakoni kegiatan menangkap satwa liar dengan kamera. “Saya tidak pernah ketemu satupun dengan orang kita saat motret di hutan, bertemu dengan fotografer asing sering,” kata Ignas.

Padahal, binatang adalah salah satu harta karun Indonesia. Riza menyebutkan, ada sekitar 1.700 jenis burung dan 400 jenis ular di negara kita. Banyak endemik Indonesia yang tidak ada di tempat manapun di Bumi.

Namun, laju kehancuran hutan Indonesia yang menjadi habitat mereka sangat cepat. “Pilihannya adalah, menunggu peralatan lengkap dulu baru motret tapi binatangnya sudah tidak ada lagi, atau mulai dari sekarang dengan kamera seadanya,” ujar Riza.

Ya, fauna di negeri ini sangat beragam dan sebagian terancam punah lantaran tempat tinggalnya rusak dan berkurang drastis. “Sekarang, siapa cepat dia dapat, bisa memotret satwa liar di habitat aslinya,” tegas Willy.

Nah, foto bisa ikut menyelamatkan satwa dan alam. Karena itu, memotret satwa liar jangan dianggap sebagai hobi belaka.

Paling tidak, Ignas menuturkan, dengan membuat karya monumental seperti foto dan buku, minimal Anda sudah mulai mendidik generasi mendatang. Sehingga, “Mereka menyadari, mengenal, menyayangi, dan melindungi keberadaan satwa-satwa di Indonesia,” kata Ignas.

Willy menambahkan, foto-foto hasil jepretan fotografer satwa liar juga bisa untuk kepentingan penelitian. Soalnya, “Foto-foto milik para peneliti kurang menggambarkan kondisi sebenarnya dari hewan itu. Misalnya, warna bulu,” ungkap dia.

Jadi, fotografer satwa liar tak sekadar membidik dan menghasilkan foto yang bagus.