Edukasi

Candi Borobudur, begini sejarah dan makna simbolisnya

Senin, 03 Mei 2021 | 20:00 WIB   Penulis: Virdita Ratriani
Candi Borobudur, begini sejarah dan makna simbolisnya

KONTAN.CO.ID - Sejarah Candi Borobudur, diperkirakan dibangun pada abad ke-8 atau 1.200 tahun yang lalu, pada masa kejayaan Dinasti Syailendra. 

Dikutip dari laman resmi Dinas Pariwisata Kota Surakarta, pembangunan candi diperkirakan memakan waktu 75 tahun dan berhasil diselesaikan pada masa Pemerintahan Samaratungga pada tahun 825 Masehi. 

Setelah beberapa abad keberadaan Borobudur sempat tak tampak karena tertutup abu vulkanik letusan Gunung Merapi. 

Pada 1814, Sir Thomas Stamford Raffles akhirnya menemukan keberadaan Candi Borobudur.

Dikutip dari Interaktif.kompas.id, Raffles yang memiliki minat besar pada peninggalan kuno masa lalu menunjuk Cornelius, perwira Belanda yang berpengalaman dalam peninggalan kuno di Jawa, untuk membersihkan, memunculkan kembali Candi Borobudur yang ketika itu menyerupai sebuah bukit yang tertutup semak belukar dan pohon-pohon. 

Pembersihan dan pembenahan kemudian dilanjutkan oleh Residen Kedu Hartmann sampai dengan tahun 1835.  Di era Hartmann itulah, Pemerintah Hindia Belanda melakukan promosi dan publikasi sehingga nama Candi Borobudur mulai terangkat di mata dunia.

Banyak orang, dari berbagai kalangan, mulai melihat dan menilai candi tersebut.

Baca Juga: Mengunjungi Candi Borobudur secara virtual di acara Hari Warisan Dunia

Bentuk dan makna Candi Borobudur

Candi Borobudur

Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur adalah candi agama Buddha yang dibangun di kawasan perbukitan. 

Mengacu pada konsep kosmologi Buddhis, Candi Borobudur diibaratkan sebagai Meru atau gunung yang menjadi penghubung antara surga dan dunia. Gunung ini berdiri di lokasi yang dikelilingi oleh gunung-gunung, laut, dan sungai-sungai besar.

Dengan pertimbangan itulah, Candi Borobudur dibangun di lokasinya saat ini, dengan posisi dikelilingi bukit, gunung, dan pegunungan, yaitu Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, Sindoro, Tidar, dan Pegunungan Menoreh. 

Di kawasan tersebut juga mengalir air dari sungai-sungai besar, seperti Sungai Elo, Progo, Sileng, dan danau purba Borobudur.

Borobudur adalah candi Budha terbesar pada masa abad ke-19, memiliki luas kira-kira 123 x 123 meter. 

Baca Juga: Setelah TMII, pemerintah bakal kelola dua aset Keluarga Cendana ini

Berbentuk seperti piramida dengan tinggi kira-kira 29 meter dan terdiri lebih dari 500 patung Budha dan tersusun lebih dari 2 juta batu.

Di lihat dari atas, Candi Borobudur terlihat berbentuk mandala raksasa, secara simbolis menggambarkan perjalanan manusia dari samsara menuju nirwana. 

Relief Candi Borobudur secara sempurna merefleksikan inti ajaran Budha, di mana dunia dibagi menjadi 3 tingkatan hidup yaitu Kamadhatu (dunia keinginan), Rupadhatu (dunia nyata), dan Arupadhatu (dunia roh). 

Tingkat paling bawah, Kamadhatu, terdiri dari 160 relief yang menggambarkan Karmawibhangga Sutra, hukum sebab akibat, ilustrasi tingkah laku manusia. 

Pada tingkat kedua, berisi relief patung-patung Budha, menggambarkan bahwa manusia dibebaskan dari hal-hal duniawi. Tingkat terakhir adalah Arupadhatu menggambarkan tempat tinggal dewa.

Selanjutnya: ​Inilah 5 wisata museum di Kota Solo yang menarik untuk dikunjungi

Editor: Virdita Ratriani
Terbaru